Pendiri Pondok Pesantren Gontor

LebahMaster.com – Kesederhanaan seorang pemimpin, itu yang sekarang langka di republik ini. Sebab faktanya, kita lebih banyak disuguhi kisah, berita dan cerita tentang gaya hidup para elit di negeri ini yang hedonis, glaumer dan nyelebritis.

Mobil mewah, rumah pun tak kalah mewah. Jas mahal, dan fashion mahal. Itulah yang dipertontonkan. Sampai-sampai, Busyro Muqqodas saat masih jadi Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pernah mengeluarkan sindiran pedas. Sindiran pedas Busyiro itu ditujukan kepada para politisi Senayan. Kata Busyiro, para elit di Senayan, gaya hidupnya sangat hedonis. Mobil mewah dan pakaian mahal.

Busyro melontarkan sindiran pedas itu saat ia didaulat oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk memberi pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, November 2011. Pidato kebudayaan Busyiro sendiri diberi judul yang menohok,” Paguyuban Koruptor”.

“Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis,” kata Busyro ketika berpidato di Taman Ismail Marzuki.

Namun apa yang disentil Busyro sebagian besar benar adanya. Di Senayan, para wakil rakyat tampil necis, klimis dan mentereng. Datang dengan mobil mewah adalah hal yang biasa. Tapi yang bikin nyeri, banyak kemudian anggota dewan yang kena jerat korupsi. Tidak hanya anggota, sekelas pimpinan pun kena belitan kasus. Contoh terbaru adalah kasus yang menyeret Irman Gusman, Ketua Dewan Perwakilan Daerah atau DPD. Irman kini sudah diberhentikan karena sudah berstatus tersangka. Irman jadi tersangka kasus dugaan suap, setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan di rumah dinasnya di Widya Chandra, Kuningan, Jakarta.

Nyaris tak ada lagi contoh kesederhanaan seperti yang diperlihatkan Bung Hatta atau Kyai Haji Agus Salim. Bung Hatta misalnya, sampai ia meninggal tak pernah kesampaian untuk memiliki sepatu merek Bally. Sekarang, mungkin anggota dewan gampang saja membeli itu. Bahkan bisa sampai lusinan pasang.

Bung Hatta juga usai tak lagi jadi Wakil Presiden, hidupnya sempat susah. Ia sampai tak mampu bayar tagihan listrik di rumahnya, hingga kemudian dibantu oleh Ali Sadikin. Padahal kalau Bung Hatta mau, ia bisa saja ‘jual pengaruhnya’. Bung Hatta adalah mantan Proklamator, sekaligus mantan Wakil Presiden RI pertama. Semua yang disandangnya bisa saja ‘dijual’ demi hidup nyaman. Tapi Bung Hatta tak gunakan itu. Pun Agus Salim. Tokoh pergerakan itu juga hidupnya sederhana. Bahkan Agus Salim nyaris tak punya rumah sendiri.

Tokoh lain yang patut diteladani karena kesederhanaannya adalah, KH Imam Zarkasyi. Dia adalah salah satu kyai pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor yang terkenal itu. Padahal, sama seperti Bung Hatta atau Agus Salim, Kyai Zarkasyi juga bisa saja hidup dengan mewah. Tapi, ia tak lakukan itu.

Pondok Pesantren yang dirikan Kyai Zarkasyi ini, banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Sederet santrinya dikemudian hari beberapa jadi pimpinan lembaga negara. Tapi ada juga yang jadi cendikiawan, hingga budayawan terkenal. Idham Chalid dan Hidayat Nurwahid adalah dua orang yang pernah nyantri di Gontor. Keduanya pernah jadi Ketua MPR.

Nama terkenal lainnya yang pernah nyantri di Gontor adalah mendiang Nurcholis Madjid atau Cak Nur, cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini. Almarhum Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama juga pernah menimba ilmu di Gontor. Santri jebolan Gontor lainnya yang kemudian jadi tokoh nasional adalah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, budayawan sekaligus seniman terkenal. KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua PBNU yang sekarang jadi anggota penasehat Presiden Jokowi, pernah nyantri di Gontor. Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin juga tercatat sebagai alumni Gontor.

Padahal kalau Kyai Zarkasyi mau, ia bisa saja jual ‘pengaruhnya’ sebagai pendiri Ponpes kepada mantan murid-muridnya itu. Tapi Kyai Zarkasyi tak lakukan itu. Kehidupannya tetap sederhana. Bahkan, teramat sederhana untuk ukuran pendiri sebuah pesantren besar dan tenar.

Dalam buku, ‘Wisdom of Gontor’ yang ditulis oleh Tasirun Sulaiman terbitan Mizania diceritakan betapa sederhana kehidupan sang kyai. Kyai Zarkasyi smpai wafatnya, selalu mengendarai mobil ‘butut’. Mobil butut dan tua itu, adalah mobil pribadinya. Mereknya Daihatsu warna hijau. Jadi bukan mobil keluaran mutakhir yang kinclong dan mahal.

Selain mobil pribadi, pihak pesantren juga menyediakan mobil untuk sang Kyai. Mobil itu biasa dipergunakan Kyai Zarkasyi untuk keperluan mengurus pesantren. Tapi sekali lagi, mobil operasionalnya, bukan mobil mewah. Namun, sebuah mobil kijang kotak sabun yang dipakainya hingga sang kyai wafat. Kyai Zarkasyi tak pernah minta ganti mobil. Alasannya, mobil itu masih berfungsi dengan baik. Jadi, katanya, tak ada alasan ia kemudian harus ganti mobil dengan yang keluaran anyar. Toh, fungsinya sama saja, begitu alasan Kyai Zarkasyi.

Mobil kotak sabun itulah yang selalu mengantar jemput Kyai Zarkasyi saat mengurus urusan pesantren. Sementara untuk keperluan pribadinya, ia memakai mobil Daihatsu bututnya. Padahal, ketika itu sudah banyak kyai yang pakai mobil mewah sekelas Mercy. Tapi, Kyai Zarkasyi tetap setia dengan mobil Daihatsu tua dan kijang kotak sabunnya. Bahkan sampai akhir hayatnya. Sungguh keteladanan yang patut dicontoh. Kyai yang sederhana itu wafat pada 30 April 1985 pada usia 84 tahun.

loading...