Kisah Cinta Mengharukan Sepasang Kekasih di Ambang Perceraian Mereka

Kisah Cinta Mengharukan Sepasang Kekasih
Kisah Cinta Mengharukan Sepasang Kekasih yang berada di ambang perceraian

Kisah cinta mengharukan sepasang kekasih kali ini tentang dua insan yang sudah menjadi suami-istri selama bertahun-tahun lamanya ini akan membuat anda memahami bahwa sejatinya kebahagiaan rumah tangga itu bisa diraih dengan cara yang cukup mudah, bukan soal harta dan kedudukan pasangan saja yang terpenting melainkan bagaimana diantara sepasang kekasih tersebut bisa saling memahami satu sama lain. Mari kita mulai mengarungi perjalanan kisah cinta mengharukan sepasang kekasih yang berada diambang perceraian mereka berikut ini.

Sepuluh tahun yang lalu, aku menggendong istiku pada hari pernikahan. Mobil pengantin berhenti tepat di depan apartemen kami. Teman-teman memaksaku menggendong istriku ke rumah kami. Istriku tersipu malu, sementara aku adalah pengantin pria yang kuat dan bahagia.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Kami memiliki seorang anak. Istriku bekerja sebagai pegawai pemerintah. Aku bekerja sebagai pengusaha. Saat aset perusahaan semakin meningkat, kasih sayang antara aku dan istriku justru mulai menurun.

Setiap hari kami pergi ke kantor bersama dan pulang di waktu yang hampir bersamaan. Anak kami skeolah di asrama. Kehidupan rumah tangga kami terlihat bahagia. Namun, kehidupan yang tenang itu mulai terpengaruh oleh perubahan yang tak terduga.

Tiba-tiba saja Jane datang ke kehidupanku.

Hari itu cerah. Aku berdiri di balkon apartemen. Apartemen yang kubelikan untuk Jane. Jane memelukku dari belakang. Sekali lagi, aku terbenam dalam cintanya.

Kau adalah laki-laki yang pandai memikat hati wnaita.”

Kalimat itu mengingatkanku pada istriku. Ketika baru menikah, istriku berkata, “Laki-laki sepertimu, saat sukses nanti, akan memikat banyak wanita”.

Kalimat Jane membuatku bimbang. Aku telah berkhianat pada istriku.

Kamu perlu memilih beberapa furnitur. Ada yang harus aku lakukan di perusahaan,” kataku demi memutus kebimbangan. Jane telrihat tidak senang karena aku sudah berjanji akan menemami memilih furnitur. Sesaat, pikiran untuk bercerai semakin jelas meskipun tampak mustahil. Akan sulit bagiku mengatakan pada istriku. Selembut apapun istriku, dia pasti akan terluka.

Dia adalah istri yang sangat baik. Dia akan selalu sibuk menyiapkan makan malam meskipun lelah bekerja. Setelah makan malam bersama, kami akan duduk sembari menonton TV. Kegiatan ini sebelumnya adalah hiburan untukku.

Aku pernah bertanya dengan nada bercanda pada istriku. “Kalau misalnya kita bercerai, apa yang akan kamu lakukan?”

Dia menatapku tanpa berkata apapun. Sepertinya dia tipe wanita yang meyakini bahwa perceraian tidak akan pernah terjadi di hidupnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti aku serius mengatakan tentang itu padanya.

Saat istriku ke kantor, Jane langsung pergi. Nyaris smeua pegawai melihat istriku dengan simpatik. Mereka mencoba menyembunyikan apa yang diketahui dariku.

Namun, istriku sepertinya mendapatkan sedikit petunjuk. Ia memberikan senyum lembutnya pada bawahan-bawahanku. Namun, ada luka yang tersemat di matanya.

Jane kembali mencari keyakinan, Sayang, ceraikan dia, ok? Setelah itu, kita akan hidup bahagia bersama.” Saat itu, aku mengangguk meskipun masih ragu.

Malamnya, istriku sedang menyiapkan makanan ketika aku pulang. Aku menggenggam tangannya dan berkata, “Ada yang ingin kubicarakan.”

Istriku kemudian duduk dan diam. Aku kembali melihat luka di matanya. Pemandangan ini membuatku tidak bisa membuka mulut. Namun, aku harus tetap mengatakannya. Aku ingin cerai.

Aku mulai berbicara dengan tenang. Istriku justru terlihat lebih tenang. Ia hanya bertanya, “Kenapa?”.

Aku menghindar dari pertanyaannya. Ini justru membuatnya marah hingga berteriak. “Kamu bukan seorang pria!”

Malam itu, kami sama-sama diam. Dia menangis.

Aku tahu dia sedang berusaha mencari tahu perihal yang sedang terjadi pada pernikahan kami. Namun, aku sulit memberikan jawaban bahwa hatiku memilih Jane. Aku sudah tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan padanya.

Dengan rasa bersalah, aku membuat  surat perjanjian perceraian. Surat tersebut menyatakan bahwa istriku berhak memiliki rumah, mobil, dan 30 % aset perusahaan.

Dia justru merobek surat tersebut. Wanita yang selama sepuluh tahun ini hidup bersamaku telah menjadi orang asing untukku. Aku menyesal telah menyia-nyiakan waktu dan tenaganya untuk mengurusku dan mengurus rumah tangga ini. namun, aku tidak bisa menarik kembali kata-kataku.

Istriku menangis dengan keras di depanku. Bagiku, tangisnya adalah pelepasan. Perceraian yang awalnya masih menjadi keraguan kini telah tampak jelas.

Malam berikutnya, aku pulang terlambat. Istriku sedang menulis sesuatu di meja makan. Aku justru langsung tidur karena telah seharian bersama Jane.

Pagi harinya, istriku memberikan syarat perceraian. Dia tidak menginginkan apapun. Dia hanya meminta perhatian dalam jangka waktu sebulan sebelum perceraian. Dia ingin selama sebulan ini kami hidup bersama. Alasannya sederhana: Anak kami sedang ujian. Dia tidak ingin mengacaukan ujian anak kami.

Aku menyetujui syarat tersebut. Istriku juga mengajukan satu syarat lagi. Dia memintaku mengingat bagaimana aku menggendongnya ke kamar pengantin di hari pernikahan kami.

Aku melakukannya setiap hari. Aku akan menggendongnya keluar kamar menuju pintu depan, setiap hari. Aku berpikir bahwa dia telah gila. Aku memenuhi permintaannya agar hari-hari terakhir kebersamaan kami dapat diterima olehnya.

Aku memberi tahu Jane perihal syarat cerai tersebut. Dia tertawa keras. “Trik apapun yang dilakukan olehnya, dia harus tetap bercerai!” kata Jane dengan nada menghina.

Aku dan istriku sudah lama tidak melakukan kontak fisik sejak keinginan bercerai mulai kupikirkan. Ketika aku menggendongnya di hari pertama, kami berdua terlihat canggung. Anak kamu justru bertepuk tangan.

“Papa menggendong mama.”

Kalimat anakkku justru membuatku terluka. Dari kamar hingga ke pintu depan, aku berjalan sejauh 10 meter dengan dia di pelukanku. Dia memejamkan matanya dan berpesan, “Jangan bilang pada anak kita mengenai perceraian ini!” Aku mengangguk.

Aku menurunkannya di pintu depan. Dia pergi menunggu bus sementara aku naik monil sendiri ke kantor.

Hari kedua, semua lebih mudah. Dia menyandrakan kepalanya di dadaku. Aku bisa mencium aroma parfumnya. Aku tersadar bahwa dia sudah tidak muda lagi. Telah ada garis halus di wajahnya. Rambutnya pun mulai memutih. Pernikahan ini telah menyusahkannya. Aku tertegun.

Pada hari keempat, aku merasa ada kedekatan yang muncul kembali di antara kami. Wanita ini telah sepuluh tahun memberikan hidupnya untukku.

Hari kelima dan keenam, aku merasa bahwa kedekatan kami semakin berkembang. Aku menyembunikan ini dari Jane. Namun, seiring waktu berjalan, menggendongnya terasa semakin mudah.

Suatu pagi, istriku sedang memilih pakaiannya. Dia mencoba beberapa pakaian dan tidak menemukan yang cocok. Dia menghela napas dan berkata, “Pakaianku semua menjadi besar.”

Tiba-tiba saja aku meyadari sesuatu. Kini dia menjadi sangat kurus. Ternyata inilah alasan mengapa aku mudah saja menggendongnya. Aku terpukul sekali dengan kalimatnya. Kepedihan hari telah mmebuat ia menjadi kurus. Tanpa sadar, aku membelai kepalanya.

Anak kami kemudian muncul dan berkata, “Pa, sudah waktunya menggendong mama keluar.”

Bagi anak kami, melihat ayah menggendong ibunya adalah sesuatu yang sangat berarti di hidupnya. Istriku melambai pada anakku. Anakku mendekat dan istriku memeluknya erat.

Aku mengalihkan wajahku agar tidak berubah pikiran di saat-saat terakhir seperti ini. aku kemudian menggendong istriku ke pintu depan. tangannya melingkat di leherku dengan lembut. Aku menggendongnya dengan serat, layaknya di hari pernikahan kami.

Namun, berat badannya membuatku sedih. Pada hari terakhir, rasanya sangat sulit untuk bergerak menggendongnya. Aku menggendongnya dengan erat dan berkata, “Aku tidak memperhatikan jika selama ini kedekatan kita kurang.”

Aku segera pergi ke kantor. Aku takut bahwa penundaan justru akan mengubah keputusanku. Aku berjalan cepat ke atas dan berkata pada Jane yang membukakan pintu, “Maaf Jane, aku tidak mau bercerai.”

Jane menatapku dengan heran. Dia menyentuh keningku dna bertanya, “Kamu demam?”

Aku menyingkirkan tangannya dan berkata, “Maaf Jane, aku bilang, aku tidak akan bercerai.”

Pernikahanku selama ini terkesan membosankan munhkin karena aku dan istriku kurang menilai detail kehidupan kami. Kami bukan tidak saling mencintai. Sejak aku menggendongnya ke apartemen kami di hari pernikahan, aku harus terus menggendongnya hingga mau memisahkan.

Jane tersadar. Dia menamparku dengan keras dan membating pintu. Dia keluar dengan air mata bercucuran. Aku keluar.

Saat berkendara pulang, aku mampir ke toko bunga dan memesan satu buket untuk istriku. Penjual menanyakan mengenai apa yang ingin dituliskan di kartu ucapan. Kutuliskan, “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai mau memisahkan kita”.

Sore itu, aku sampai rumah dengan bunga di tangan dan senyum di wajah. Aku menuju ke kamar atas dan menemukan istriku sedang terbaring di tempat tidur. Namun, istriku saat itu sudah dalam kondisi meninggal.

Istriku ternyata telah melawan kanker selama berbulan-bulan. Aku luput mengetahui kondisinya karena terlalu sibuk dengan Jane. Istriku tahu bahwa usianya tidak lama lagi sehingga dia ingin menyelamatkanku dari rekasi negatif anak kami seandainya kami jadi bercerai.

Aku sangat menyesala dengan ini. ternyata, hal-hal kecil sangat penting dalam membangun sebuah hubungan. Harta tidak akan menunjang kebahagiaan apabila kita tidak bisa memberikan kebahagiaan itu sendiri.

Baca Juga: Kisah Cinta Mengharukan, Sebelum Membaca Siapkan Tisu Dulu Ya

Semoga Kisah Cinta mengharukan Sepasang kekasih yang berada diambang perceraian namun semua bisa kembali indah lagi hanya dengan hal sepele yang ternyata mampu mengembalikan rasa cinta diantara mereka ini bisa menjadi inspiratif bagi sahabat lebahmastercom semuanya. Selanjutnya Baca: Kisah Mengharukan, Gaun Pengantin Dan Cinta Sejati Sepasang Kekasih

loading...