5 Kelemahan Perusahaan Jepang Penyebab Runtuhnya Mereka

3408

Tragedi Lamban Inovasi Perusahaan Jepang

Perusahaan Di Jepang

Perusahan jepang ataupun nama negara jepang mungkin selama ini anda semua sudah tidak asing lagi bila disebutkan salah satunya yang sangat fenomenal dalam dunia bisnis, seperti jika disebut Nama Merk Sony , Sharp dan Panasonic. Sempat juga beredar kabar bahwa diantara ketiga perusahaan besar ini pernah mengumumkan angka kerugian mereka pada tahun 2012 lalu, karena harga saham – saham mereka merosot tajam.

 
Diantara perusahaan jepang ini seperti Sanyo yang juga bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Perusahaan Sharp pernah beredar kabar ada rencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Pernah juga beredar kabar kalau Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Belum lagi kabar tentang Toshiba yang sempat goyang karena Produk TV mereka diambang kematian langkah menghadapi persaingan bisnis antar perusahaan.

 

Walau negara Jepang juga terkenal dengan beberapa strategi sukses luar biasa, siapa sangkap nagara ini juga memliki rahasia yang mungkin belum banyak diketahui oleh kita semua terkait kelemahan yang ada di lingkungan perusahaan jepang penyebab mereka bisa roboh dan runtuh karena harus tersenggol pesaing mereka dari negara lain yang menyerang masuk ke jepang.

 
Dari apa yang kami ketahui berdasarkan beberapa sumber terkait faktor – Faktor yang menyebabkan lemahnya perusahaan jepang dan menjadi sebab keruntuhan mereka, ialah sebagai berikut:

 
Pertama : Faktor ” Harmony Culture Error “
Kita tahu bahwasanya di era digital seperti ini “ Kecepatan” adalah kunci Bisnis sukses. Atau istilah Speed In Decision Making And speed in Product development akan sangat berlaku sekali dijaman ini.

 
Perusahaan jepang mungkin belum siap dengan keadaan ini, pasalnya ini benar – benar membuat mereka menjadi kewalahan dalam persaingan bisnis. Karena Di jepang sangat menjunjung tinggi Harmoni dan Konsesus dalam beberapa perusahaan.
Bila anda ingin tahu, silahkan datang memantau bagaimana perusahaan jepang melakukan Rapat kerja dalam menentukan pengambilan keputusan, karena mengangungkan Konsensus jepang rela menghabiskan waktu berminggu – minggu untuk Rapat dalam pengambilan keputusan terkait produk baru yang akan mereka luncurkan. Sayangnya , begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru lebih dulu, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo lebar.

 
Perusahaan yang sangat menjunjung Tinggi Konsesus di Era digital ini = Tragedi lamban dalam mengambil keputusan, karena keburu oleh perusahaan pesaing dari negara lain. Budaya Harmoni Jepang juga menjadi sebab ide – ide kreativ mereka menjadi terhambat dan tidak pernah mekar.

 
Kedua : Faktor “ Seniority Error ”
Masih berkaitan dengan Jaman Serba Digital seperti sekarang, INOVASI adalah nafas sebuah perusahaan.
Di jepang sangat mementingkan dan menjaga budaya senioritas dan sangat loyalitas atau sungkan pada atasan. Perusahaan jepang sangat rajin memelihara para sesepuh sebagai senioritas, disana kita tidak akan melihat perusahaan jepang memiliki senior manajer yang berusia 30 tahunan, karena disana tidak percaya istilah “ rising Star dan Young Creative Guy merupakan hal aneh bagi mereka.
Setiap ada promosi karir perusahaan jepang menggunakan metode “Urut Kacang” artinya yang Tualah yang didahulukan, So, No Matter What.
“Di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman”.
Kelemahan ini akan menjadi sebab kematian Inovasi, bagaimana akan tercipta orang – orang muda creative jika anak muda selalu disampingkan.

 
Ketiga : Adanya “ Old Nation Error”.
Faktor kelamahan yang terakhir ini agak mirip memang dengan “ seniority Error”. Aspek Demografi jepang merupakan Nagara yang Menua, artinya lebih dari separuh penduduk jepang berusia 50 tahun keatas.
Hal ini memberikan gambaran bahwasanya, perusahaan di jepang mayoritas senior manajernya memiliki mereka yang usianya sudah menua dan tentunya akan lamban dalam berinovasi.
Biasanya yang berlaku adalah bagi karyawan yang sudah bertahun – tahun bekerja pada perusahaan yang sama mereka akan kurang peka terhadap perubahan yang berlangsung begitu cepat di luar perusahaan. Disana ada Situasi “ ComfortZone” yang menjadi energi para senior tua.
Kasus Nokia kita tahu, penerus perusahaan yang juga merupakan putra penggagas perusahaan yang sempat menjadi Idola dunia karena produk Hp Nokianya, kini berlahan menghilang, karena didalamnya sangat menjunjung tinggi Loyalitas dan sungkan pada karyawan tua yang menjadi senior, mereka tidak memberikan inonasi baru bagi nokia dan pada akhirnya menjadi sebab berlahan tenggelam.

 

 

Baca Juga : 8 Strategi Penentuan Lokasi Bisnis
Demikianlah kurang lebihnya tiga faktor kelemahan inovasi yang terjadi pada perusahaan jepang dan secara berlahan ketiga hal ini menjadi sebab dari beberapa perusahaan raksasa elktronika menjadi goncang dan bahkan hilang. Artinya bila mereka tidak ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, maka masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian dan sedikit demi sedikit perusahaan disana akan diambil alih oleh perusahaan pesaing dari negara lain.