Adnan Buyung Nasution Tinggalkan Banyak ‘ Jejak Emas ‘

1373

Lebahmaster.com – Beberapa waktu lalu, negeri ini kehilangan salah satu putra terbaiknya, Adnan Buyung Nasution. Pengacara senior sekaligus pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) itu, dipanggil Sang Khalik pada hari Rabu, 23 September 2015. Bang Buyung demikian panggilan akrabnya meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Adnan Buyung Nasution Tinggalkan Banyak ' Jejak Emas '

 

Bagi Hendardi, Ketua Setara Institut dan juga pendiri Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Adnan Buyung Nasution adalah guru hukumnya. Ia banyak belajar banyak dari Adnan Buyung, yang dipanggilnya Abang. Hendardi memang pernah aktif di LBH. Ia merasakan persentuhan langsung dengan Buyung. Karena itu ia sangat kehilangan ketika mendengar Buyung wafat. Meninggalnya Buyung, adalah kepergian seorang guru.

 

 

Bang Buyung banyak meninggalkan legacy emas di bidang hukum,” kata Hendardi.

 

 

Salah satu legacy Buyung kata Hendardi, tentunya adalah YLBHI yang sekarang telah beranak pinak dengan hadirnya LBH di daerah. Warisan Buyung lainnya adalah sikapnya yang selalu berada di garis depan membela demokrasi. Serta jadi guru para pengacara untuk tetap jadi pejuang keadilan.

 

 

Bangsa Indonesia kehilangan beliau,” kata Hendardi.

 

 

Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie juga merasa kehilang Buyung. Bahkan menurut Jimly, Buyung pantas mendapat gelar pahlawan dari negara. Jilmy mengucapkan itu, usai jadi pembicara dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

 

 

Di mata Jimly, Buyung adalah pejuang hukum dan keadilan. Buyung pantas jadi teladan generasi muda. Bahkan Buyung kata Jimly, bisa disebut tokoh besar dalam sejarah hukum Indonesia. Semangat Buyung dalam membela kaum terpinggirkan harus diteruskan.

 

 

Wakil Ketua Setara Institut, Bonar Tigor Naipospos, mengatakan, salah satu warisan berharga dari Buyung adalah tentang konsep bantuan hukum struktural dan access to justice. Konsep ini yang dikembangkan oleh Buyung. Tapi tampaknya kurang mendapat perhatian belakangan ini.

 

 

Meski pemerintah sekarang ini telah menjalankan program bantuan donasi bagi lembaga hukum yang memberikan pelayanan hukum kepada orang kecil dan miskin. Tetapi konsepnya hanya sekedar pedampingan teknis hukum tanpa memperjuangkan apa yang menjadi akar masalah,” tutur Bonar.

 

 

Secangkir teh

Lain lagi kisah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo tentang Adnan. Tjahjo bercerita, seminggu sebelum Buyung meninggal, ia sempat bertamu ke rumah pendiri YLBHI di bilangan Lebak Bulus. Awalnya Buyung lewat sekretarisnya yang minta bertemu dengannya. Tapi, karena kesibukannya, baru kali itu ia bisa datang menemui Buyung.

 

 

Tjahjo masih ingat, saat datang ke rumah Buyung, ia langsung dibawa ke belakang rumah yang asri dan rindang. Di teras belakang, ditemani dua cangkir teh, ia dan Buyung mengobrol banyak hal, mulai soal mendiang Taufik Kiemas, sampai soal nasehat Buyung untuk Presiden Jokowi.

 

 

Bang Buyung mengatakan, harusnya dia yang datang ke Kemendagri. Tapi saya bilang, sebagai yunior, saya yang harus bertamu datang ke rumah beliau,”kata Tjahjo.

 

 

Satu jam ia berbincang dengan Buyung. Saat pamit, Tjahjo berjanji bakal datang kembali bertamu. Tapi, takdir menentukan lain. Rabu, 23 September 2015, ia dengar kabar Buyung meninggal. Ia pun sangat kaget. Dan, merasa sangat kehilangan.

 

 

Selamat jalan Bang Buyung. Kita semua akan tetap mengingat pikiran dan semangat juangnya dalam setiap pernyataan dan pembelaannya di persidangan,” kata Tjahjo.