Ayahku, Idolaku

1142

Kisah Ayahku Idolaku

Kisah ” Ayahku, Idolaku” Ini Di Tulis dan Dikirim Oleh : Mega Rosa

Cerahnya matahari pagi selalu menambah semangat seorang pria paruh baya dengan kemeja batik, celana goyang warna dongker dan peci hitam yang beliau kenakan justru sibuk mempersiapkan dagangannya untuk dijualkan pada para pembeli yang ada di salah satu pasar tradisional di daerah kelahiranku yakni kota Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman, provinsi Sumatera Barat. Nampak wajahnya yang begitu bersahaja melayani para pembeli yang akan membeli dagangannya.

 

Pria kelahiran 55 tahun yang silam itu bernama lengkap Sanusi, merupakan ayah dari tiga orang hasil pernikahan dengan istrinya bernama Roslinda. Ceritanya, beliau telah berjualan di pasar itu sejak 27 tahun yang lalu, setelah memiliki 2 anak. Pria itu adalah ayahku beliau bekerja sebagai seorang penjual Sate. Setiap hari dimulai pada saat ayahku memiliki gerobak dorong pada awal pertama beliau berdagang ke pasar hingga sekarang telah memiliki becak motor yang membantu meringankan langkahnya tidak pernah satu hari pun beliau lewatkan untuk bermalas-malasan mencari nafkah demi istri dan 3 orang anaknya. Terkadang beliau juga tak enggan untuk membagi jualannya kepada seorang yang mencoba untuk membeli satenya namun tak memiliki cukup uang untuk membayar dengan alasan beliau berjualan juga ingin beramal dan meringankan rasa lapar pada setiap orang yang mampir ke kedainya.

 

Dikawasan pasar tradisional area pinggir jalan raya kota Lubuksikaping kedai ayahku sangat mudah ditemui. Hal tersebut membuat kedai beliau yang Alhamdulillah sampai saat ini jarang sekali sepi dari para pembeli seperti pejalan kaki atau para pengguna jalan raya yang mampir untuk membeli jualannya. Sehingga penghasilannya dari berjualan setiap hari tersebut dapat beliau tabung untuk kebutuhan pendidikan 3 orang anaknya. Beliau sering bercerita kepada kami tentang sulitnya mencapai titik yang sudah berkecukupan seperti sekarang ini ketika kami sering duduk berkumpul di ruang keluarga sambil melepas penatnya setelah berjualan. Dari cerita beliau tersebut kami bertiga dapat belajar banyak bahwa hidup ini sangat tidak mudah di lalui untuk mencapai sebuah kesenangan. Beliau sering berkata “jangan pernah sia-siakan waktu dan petiklah sebuah pengajaran dari setiap pengalaman”. Meskipun ayahku tidak bersekolah tinggi namun beliau memiliki gelar tertinggi di hati kami atas pengajaran dan contoh hidup yang tidak mudah yang selalu beliau tanamkan pada diri kami masing- masing. Hal itu membuat aku dan 2 orang saudaraku tidak pernah merasa gengsi atau malu untuk melakukan apapun yang mampu meringankan beban kedua orangtuaku. Seperti dua orang abangku yang waktu kecil membantu ayahku mendorong gerobak kepasar di hari libur sekolah, dimana teman-teman seusianya di kala itu bermain dan bersantai dirumahnya. Hingga pada saat mereka kuliah mereka juga tak malu untuk bekerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan kuliah mereka.

 

Awalnya sebelum beliau berjualan sate ada beberapa pekerjaan yang beliau coba untuk memperbaiki kehidupan rumah tangganya di usia pernikahan yang masih sangat muda ketika itu. Sebelum berjualan sate beliau pernah menjadi sopir bus dan juga pernah bekerja sebagai buruh bangunan. Penghasilan beliau ketika itu sangatlah minim namun setidaknya mampu untuk sekedar biaya makan istri dan 2 orang abang ku yang ketika itu masih berusia 3 tahun dan 1 tahun. Ayahku juga pernah bercerita saat beliau bekerja sebagai buruh bangunan itu, beliau pernah mendapat jatah makan yang harusnya beliau makan sendiri ketika istirahat bekerja namun beliau menyimpannya kedalam tas dan beliau bawa pulang untuk dimakan bersama dengan istri dan dua orang anaknya saat itu. Rumah yang kami tempati sekarang dulunya itu sangatlah kecil, hanya memiliki 1 kamar tidur dan dapur kecil di bagian belakang rumah dan sangat kecil juga ruangan untuk saudara atau teman ayah jika datang untuk bertamu. Mengingat keadaan yang seperti itu ayahku merasa penghasilan dari buruh bangunan tersebut serasa tidak memungkinkan beliau lakukan terus menerus sementara kebutuhan hidup ketika itu semakin lama semakin sulit untuk dicapai dikarenakn harga semua kebutuhan yang terus menerus menaik. Hingga pada akhirnya beliau mendapatkan saran dari saudara beliau untuk berjualan sate dengan resep yang telah diajarkan saudaranya tersebut. Ayahku memang sangat pintar dalam masalah masakan, beliau juga berasal dari keluarga yang berdarah pedagang rumah makan yakni adek dari nenekku.

 

Pertama ayahku berjualan, beliau belum memiliki kedai sendiri seperti sekarang. Beliau awalnya hanya berjualan dari emperan toko di pinggir jalan dan emperan toko berikutnya dengan mendorong gerobak buatan beliau sendiri. Tak jarang beliau sering ditegur oleh petugas keamanan setempat karena alasan merusak keindahan kota. Ayahku tak pernah hiraukan hal itu selama beliau tidak melakukan tindakan kejahatan, ucapnya ketika beliau sering bercerita kepadaku. Itu semua beliau lakukan demi terpenuhnya kebutuhan anak dan juga istrinya. Persiapan ayahku sebelum berjualan ketika itu bukanlah hal yang mudah dilakukan ketika itu. Karena pada saat itu ayahku harus bangun pada pukul 04.00 pagi untuk memasak kuah satenya dan harus begadang menganyam ketupat hingga ratusan buah jumlahnya dan dibantu oleh ibuku lalu kemudian harus menunggu kestabilan api tungku untuk merebusnya hingga ratusan ketupat itu matang. Penghasilan dikala itu dapat membantu pembangunan rumah ku menjadi lebih besar dan lebih nyaman serta biaya 2 orang abangku masuk sekolah pun dapat tercukupi dengan baik hingga pada akhirnya aku juga lahir di antara keluargaku yang spesial itu.

 

Seiring berjalannya waktu segalanya pun telah berubah, sekarang ayahku tidak lagi berjualan di emperan toko dan tidak juga harus ditegur oleh petugas keamanan. Ayahku sudah memiliki kedai sendiri di pasar. Tidak hanya itu, dirumahku juga sudah ada kedai yang di jaga oleh ibuku untuk bertambahnya penghasilan demi pemenuhan kebutuhan keluarga ku. Terutama aku dan dua orang saudaraku.

 

Ayahku yang bekerja sebagai penjual sate tersebut telah mampu membiayai pendidikan aku yang sekarang menjalani masa kuliah semester lima dan menamatkan kuliah 2 orang abang ku. Sekarang 2 orang abangku sudah bisa dikatakan lepas dari tanggung jawab kedua orangtuaku karena mereka telah menikah dan bekerja menafkahi istri mereka yang tentunya juga dibekali banyak pengajaran kehidupan dari ayah dan juga ibuku.

 

Entah mengapa ada rasa bangga tersendiri yang aku rasakan mengingat perjuangan ayahku demi menyenangkan hati anggota keluarganya. Tak jarang aku sering memijat bahu ayahku ketika malam telah tiba. Aku tahu beliau pasti lelah dengan pekerjaan yang beliau kerjakan. Meskipun pribadi seorang ayahku bisa dikatakan pemarah tapi aku juga mengerti itu semua dapat bermanfaat untuk aku dan 2 orang saudaraku dalam menghadapi kehidupan diluar yang tidak mudah ini. Itulah hal yang membuat aku untuk tidak mudah berhenti dalam menggapai kesuksesan ku. Sekarang tinggal aku sendiri yang harus di biayai pendidikan dan segala kebutuhanku oleh kedua orang tuaku. Sudah seharusnya tidak ada kata malas dan membuang waktu dengan sia-sia untuk menghalangiku dalam memperoleh rasa bangga dari mereka.

 

Bisa dikatakan tidak ada hal yang banyak yang bisa aku perbuat sambil kuliah ini, tidak seperti kedua saudaraku yang harus bekerja sampingan semasa mereka menamatkan kuliahnya. Setidaknya aku dapat memanfaatkan waktuku dengan sebaik mungkin untuk belajar segala hal yang dapat membantu kesuksesanku agar kelak aku bisa tamat kuliah dan bisa membuat orangtuaku merasa bangga atas kesuksesanku di suatu hari nanti. Terimakasih ayah, terimakasih atas segala kisah inspiratifmu yang selalu engkau ceritakan pada kami anak-anakmu. Berkat perjuanganmu kami tidak berani untuk mengecewakanmu, karena perjuanganmu kami mampu belajar bahwa tidak ada hal yang mudah yang bisa dicapai tanpa kerja keras.

 

Baca Juga Yuk  Cerita Lainnya :

Seuntaian Tali Panjang Untuk Menghidupkan Keluarga