Manchu Pichu Indonesia Gunung Padang Cianjur

Lebahmaster.com , manchu Pichu – Penemuan situs Gunung yang dilakukan berdasarkan survei yang dilakukan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) pimpinan Danny Hilman Natawidjaja, menuai kontroversi. Tim pimpinan Hilman sendiri meyakini di gunung yang ada di Kabupaten Cianjur, ada situs ‘jejak peradaban megalitik,’ mirip Minchu Pichu di Peru.

 

Karena menuai pro kontra, bahkan banyak pula arkeolog dan geolog yang meragukan temuan itu, Danny Hilman, selalu bos tim merasa perlu memberi penjelasan. Lewat siaran persnya yang dirilis pada 16 Januari 2014, Danny Hilman, menguraikan panjang lebar temuan timnya di Gunung Padang. Uraian panjang lebar itu seakan jadi pembelaan Danny Hilman, atas temuan ‘ Manchu Pichu ‘ Indonesia di Gunung Padang.

 

Artikel ini, adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yang disarikan dari siaran pers yang dikeluarkan Danny Hilman, Ketua TTRM, tim yang meneliti situs megalitik Gunung Padang.

 

Menurut Danny, pada penampang geolistrik barat-timur permukaan lava ini berbentuk trapesium selaras dengan morfologi bukit. Lapisan 1,2,3 di atasnya terlihat mengikuti dengan patuh bentuk permukaan lava ini dengan ketebalan yang konstan, baik pada lintasan-lintasan penampang arah barat-timur ataupun utara-selatan. Jadi lapisan-lapisan ini datar di atas bukit di bawah situs megalitik dan miring sejajar dengan muka tanah di lereng barat dan timur dan utaranya. Yang lebih menarik lagi, lapisan 1,2,3 ini terpancung tiba-tiba secara horisontal pada kedua sisi barat dan timur bukit. Beda tinggi antara permukaan teras situs di atas dengan  horison, dimana lapisan 1,2,3 ini terpancung adalah sekitar 30 meter di semua lintasan geolistrik dari Teras-1 sampai Teras-4, sangat konsisten.  Di Teras-5 beda tingginya hanya 20 meter.

 

Dari fakta-fakta ini sangat sukar kalau tidak mustahil bagi siapapun untuk menginterpretasikan bahwa lapisan 1,2,3 adalah lapisan geologi,” katanya.

 

Kata Danny, jauh lebih masuk akal, apabila diinterpretasikan sebagai bangunan berbentuk trapesium memanjang utara-selatan. Jadi bolehlah kalau dibilang mirip piramid terpancungnya Bangsa Maya di Amerika Selatan, dengan catatan bagian sisi selatannya berdinding tegak.

 

Stratigrafi Gunung Padang yang berupa bukit lava yang ‘laminasi’ oleh lapisan 1,2,3 dengan ketebalan sama di atas dan dilereng-lerengnya, kata Danny, menjawab teka-teki kenampakan bukit Gunung Padang yang dari observasi lapangan dan data topografi detil, spasi 5 meter yang mempunyai relief halus tidak tererosi oleh pola aliran sungai atau stream head erosions kontras dengan bukit-bukit di sekitarnya, termasuk relief kasar dari perbukitan yang lebih tinggi berbentuk bulan sabit, emped-karuhun, di selatan yang Sudah tererosi tahap lanjut sampai ke level puncaknya.

 

TTRM mempunyai data Digital Elevation Map,“katanya.

 

Danny melanjutkan, ini menandakan bahwa batuan penyusun bukit situs Gunung Padang jauh lebih muda umur (erosi) nya. Struktur dan stratigrafi Gunung Padang menjawab anomali ini.  Karena kalau lapisan-lapisan batuannya seumur dengan sekitarnya, yaitu jutaan-puluhan juta tahun, maka lapisan-lapisan tersebut sudah banyak yang tererosi habis, mungkin sampai tersingkap ke tubuh batuan lavanya.

 

Menarik membaca analisa seorang geolog dari kelompok ABG yang membahas bentukan piramida alam yang dihasilkan oleh proses erosi alamiah, seperti yang dimuat di kolom GATRA 14 Januari yang ditulis Budi Brahmantyo,” tutur Danny.

 

Mengutip sang geolog di Gatra, kata Danny, ini adalah bentukan morfologi alam hasil proses destruktif. Prinsip geomorfologi ini biasa diajarkan dimata kuliah S-1 geologi. Tapi menurutnya, analisa itu salah sasaran kalau dikaitkan dengan kasus Gunung Padang  karena bukit Gunung Padang adalah bentukan morfologi konstruktif yang tahapan erosinya masih rendah.  Geolog itu tidak salah hanya mungkin belum melakukan analisis dari data topografi resolusi tinggi dan juga tidak tahu data stratigrafi bawah permukaannya.

 

The devils is in details, kata pemeo dunia akademis di barat,” ujarnya.

 

Danny melanjutkan di dalam lapisan keempat atau tubuh batuan lava berbentuk trapesium tersebut terlihat kenampakan lorong dan ruang besar. Bukti lorong dan ruang diinterpretasikan terutama dari anomali zona resistivitas yang ekstrim sampai puluhan ribu ohm meter yang batasnya tegas dengan nilai resistivitas sekeliling  yang hanya ribuan ohm meter (tubuh batuan lava).  Disamping itu ada kenampakan zona anomali dengan resistivitas rendah hanya puluhan – ratusan ohm meter di dalam tubuh lava yang juga dapat diinterpretasikan sebagai ruang atau lorong tapi sudah terisi tanah atau air.

 

Memang anomali resistivitas ekstrim ini tidak harus ruang tapi bisa juga tubuh batuan yang amat sangat padat, tidak berpori,” katanya.

 

Tapi kata Danny, salah satu lintasan seismik tomografi pada salah satu zona yang diduga lorong memperlihatkan zona dengan anomali seismik berkecepatan rendah (low seismic velocity zone) yang mengindikasikan ruang bukan padat. Metoda seismik tomografi adalah teknik pemindaian struktur bawah permukaan dengan menggunakan sumber gelombang suara yang masuk ke dalam tanah sehingga  akan merambat dan terpantul kembali ke permukaan. Sehingga sinyal yang membawa informasi struktur bawah permukaan berdasarkan kecepatan rambat gelombangnya yang berbeda diberbagai lapisan dapat direkam oleh sensor geofon yang terpasang di permukaan tanah. 

 

Mirip dengan metoda georadar, hanya dalam georadar dipakai sumber gelombang elektro magnetik,” katanya. 

 

Dalam survei seismik lanjut Danny, dipakai sumber suara adalah pukulan palu besar dan bunyi petasan.  Sangat aman dan dijamin tidak merusak. Bukti penunjang lain adalah dari pengeboran.  Ketika dilakukan dua kali pengeboran di dekat lokasi dugaan ada ruang bawah tanah terjadi “water loss”, air yang dipaki untuk sirkulasi bor tiba-tiba amblas tidak balik lagi ke atas pada kira-kira kedalaman yang sama, 8-10 meteran.  Yang pertama hanya “partial water loss”, 1 drum air, yang kedua kalinya di lokasi berjarak 10 meter dari yang pertama terjadi “total water loss” air sirkulasi yang masuk tidak kembali lagi.

 

Banyak sekali, kira-kira volumenya mencapai 30 meter kubik,” katanya.

 

Sebagian ahli ujar Danny, ada yang mengatakan bahwa lorong dan ruang itu bisa saja gua alamiah, yaitu lorong lava (lava tunnel) yang terjadi ketika cairan lava panas membeku bagian dalamnya masih terdapat cairan panas yang mengalir membentuk lorong.  Satu sanggahan ilmiah yang masuk akal.  Namun perlu diketahui juga bahwa bentukan lorong dan ruang yang terlihat banyak yang sukar dijelaskan oleh proses alamiah ini. Misalnya terlihat bentuk yang cenderung ke kubus atau lorong yang tinggi dan sempit, atau ada seperti lorong masuk dari samping luar. Kemudian posisi dan dimensi dari dugaan ruang dan lorong ini dari cita rasa arsitek terlihat pas dengan bentuk bangunannya. 

 

Jadi kalaupun asalnya “lava tunnel” kelihatannya sudah dibentuk ulang oleh manusia,” kata dia.

 

Mungkin uraian  di atas kata Danny lagi, masih agak susah dicerna karena memang perlu banyak ilustrasi dan penjelasan lebih detil.  Tapi ia berharap, mudah-mudahan dapat dipahami, bahwa hasil penelitian TTRM di Gunung Padang berdasarkan data yang sudah rinci dan komprehensif bukan asal-asalan. Apalagi menuduh dilakukan oleh para peneliti abal-abal. “Masya Allah,”ujarnya.

 

Dan kata dia, yang lebih kontroversial lagi adalah hasil karbon dating TTRM untuk penentuan umur dari lapisan-lapisan fitur bangunan tersebut. Analisa radiometric dating dari sampel karbon yang diambil dilakukan di Badan Tenaga Atom (Batan) dan Beta Analytic USA yang terakreditisasi secara internasional.  Sampel-sampel diambil secara terpilih dan sistematik dari lubang eskavasi dan sampel bor dari permukaan sampai kedalaman 12 meter. Kelompok ABG  tidak melakukan uji karbon dating untuk menentukan umur situs, kecuali umur relatif dari perkiraan berdasarkan perbandingan terhadap stratigrafi sejarah budaya yang ada. 

 

Jadi, sebenarnya kurang sebanding untuk dikontroversikan karena hanya TTRM yang punya data umur absolut. Nanti orang bilang seperti membandingkan jeruk dengan apel,”ujarnya.

 

Danny pun kemudian menguraikan ringkasan hasil analisa karbon dating. Hasil dating dari karbon yang terkandung pada lapisan tanah pertama memberikan kisaran umur kalender (sudah dikoreksi) 2500 sampai 3500 tahunan (500-1500 tahun sebelum Masehi).  Sampel karbon dari sisipan tanah diantara batu-batu kolom pada lapisan kedua dan juga kandungan karbon pada hamparan pasir kerikil memberikan kisaran umur kalender 6700 sampai 7000 tahunan (4700 sampai 5000 tahun SM).  Sampel tanah dari isian diantara batu-batu kolom lapisan ketiga di bawahnya memberikan kisaran umur cukup bervariasi antara 13.000 sampai 25.000 tahun lalu (11.000 sampai 23.000 tahun SM). 

 

Sedangkan umur dari sampel tanah timbun yang diduga langsung di atas lapisan ketiga katanya, adalah sekitar 10.000 tahun.  Umur-umur lapisan terlihat konsisten.  Variasi umur karbon pada tanah di lapisan ketiga patut dicurigai mempunyai ketidakpastian besar karena berbagai faktor, bukan diinterpretasikan sebagai kisaran umur yang sebenarnya.  Tapi paling tidak umurnya harus lebih tua dari tanah yang menimbunnya, yaitu 10.000 tahun lalu.

 

Katanya, penentuan umur metoda karbon dating harus benar-benar teliti dan tahu sampel apa yang diambil, bukan perkara mudah. “Batch” analisa karbon dating yang sudah dilakukan belum yang terbaik karena pemilihan sampel-sampel lokasinya masih hanya pada beberapa lubang galian dan sampel bor. 

 

“Kita bertekad melakukan analisa dengan sebaik mungkin karena dampak dari hasil analisa umur sangat besar,” ujarnya.

 

Menurutnya, mengatakan bahwa ada bangunan konstruksi maju dengan umur lebih dari 10.000 tahun sama saja dengan bilang bahwa sejarah peradaban manusia yang diyakini para ahli bukan saja di Indonesia tapi di seluruh dunia salah atau perlu dimodifikasi. Jadi tidak pelak lagi, setiap kelemahan dalam analisa nanti akan dicecar habis oleh para ahli se-dunia.  Bukannya mereka berniat jahat, tapi sifat dunia ilmiah pada dasarnya skeptis, tidak mudah percaya sebelum benar-benar  teruji. Apalagi ini menyangkut satu konsep besar yang sudah mendarah daging diyakini umat.

 

Pengetahuan dunia saat ini hanya mengakui bahwa perkembangan peradaban manusia baru mulai sejak sekitar 11.000 tahun lalu,” ujarnya.

 

Kata Danny, produk peradaban maju baru terlihat setelah 6000 tahun lalu (4000 tahun SM) seperti peninggalan Bangsa Sumeria di Mesopotamia.  Kontras dengan masa sejarah yang relatif pendek, dunia  ahli geologi dan arkeologi menggetahui  bahwa manusia modern sudah ada sejak sekitar 195.0000 tahun lalu.  Artinya, dunia meyakini bahwa manusia tetap dalam zaman primitif, hidup berburu dan tidur di hutan dan gua-gua selama 185.000 tahun lamanya. Tapi tiba-tiba sejak 10.000 tahun lalu tanpa sebab yang diketahui mendadak pintar. Temuan konstruksi bangunan besar yang lebih tua dari 10.000 tahun seperti di Gunung Padang kontradiktif dengan dogma ilmiah saat ini. Apalagi untuk Indonesia yang masa sejarahnya baru dimulai sejak 400 Masehi. 

 

Tidak heran kalau seorang sejarawan dari kelompok ABG ini mengatakan bahwa temuan ini mustahil karena kalau data populasi masyarakat Cianjur diektrapolasikan ke zaman pra-sejarah maka hanya sedikit orangnya sehingga tidak mungkin mampu membuat bangunan besar,”ujar Danny.

 

Danny menilai pemikiran itu logis. Tapi terlalu lugu karena hanya benar jika diasumsikan masyarakat pra-sejarah tidak pergi dari Cianjur atau musnah karena suatu bencana besar. Konsep siklus bencana alam katastrofi bukan hal baru dalam geologi. Bencana katastrofi yang paling terkenal terjadi dalam masa hidup manusia modern adalah letusan katastrofi Toba sekitar 70.000 tahun lalu yang diduga hampir memusnahkan seluruh populasi manusia di dunia. Konon yang tinggal hidup hanya beberapa ribu orang saja.  Peristiwa ini konsisten dengan kronologi penyebaran manusia di bumi yang dapat ditelusuri terjadi sejak sekitar 70.000 tahun lalu, terkenal disebut sebagai “out of Africa’ karena mulai menyebar dari Benua Afrika. Hipotesa yang dikembangkan ketika membentuk Tim Katastrofi Purba yaitu bahwa perkembangan peradaban atau kebudayaan di dunia tidak menerus melainkan ‘siklus’ artinya berkali-kali terputus atau hancur oleh berbagai bencana alam katastrofi. Sehingga peradaban yang sudah maju kata Danny, bisa kembali menjadi primitif lagi dan kemudian harus merangkak lagi untuk berkembang. 

 

Dengan kata lain sejarah awal perkembangan peradaban kita sejak 11.000 tahun lalu boleh jadi bukan satu-satunya peradaban  tapi hanya siklus peradaban setelah terjadi bencana katastrofi,” ujarnya.

 

Danny melanjutkan, dalam sejarah Geologi Kuarter dikenal perioda “Younger Dryas” (12.900 – 11.600 tahun lalu)  di akhir Zaman Pleistosen.  Sejak puncak Zaman Glasial, 20.000 tahun lalu, bumi memanas dan es mencair. Namun suhu bumi turun tiba-tiba kembali anjlog seperti zaman es pada awal YD selama 1300 tahun.  YD diakhiri dengan naiknya suhu bumi yang juga sangat cepat bahkan bisa jadi instan sampai 5-10 derajat celcius. Sehingga es mencair mendadak menimbulkan banjir global. 

 

Disinyalir juga bahwa pembebanan permukaan bumi tiba-tiba oleh massa air dapat memicu gempa dan letusan gunung api karena kestabilan kerak bumi terganggu,” ujarnya.

 

Penyebab terjadinya YD sampai sekarang kata dia, belum diketahui dan masih kontroversi.  Diantaranya para peneliti dunia seperti Profesor. Dr. Robert Scoch dari Amerika Serikat dan Graham Hancock dari Inggris yang hadir sebagai pembicara utama dalam Seminar Gunung Padang di Acara Gotra Sawala tanggal 5-6 Desember 2013 mengajukan hipotesa bahwa penyebab terjadinya awal dan akhir YD adalah tumbukan meteor dan badai plasma matahari. Perkara apakah peristiwa banjir global pada akhir YD atau awal Zaman Holosen tersebut tersebut ada hubungannya dengan banyaknya mitos bencana banjir besar di seluruh dunia, atau dengan banjir Nabi Nuh, atau barangkali juga banjir besar yang konon menurut naskah Timaeus dan Critiasnya Plato menenggelamkan Kerajaan Atlantis. “Wallahu alam…” ujarnya.

 

Barangkali kata Danny, topik ini bisa dijadikan bahan banyak disertasi di bidang arkeologi, geologi kuarter atau penelitian iklim dan bencana purba. Jadi materi dasar yang dikontroversikan dalam penelitian Gunung Padang sebenarnya biasa saja, tidak sulit-sulit amat. Tapi implikasinya terhadap ilmu pengetahuan memang luarbiasa.  Bahkan kelihatannya tesis tentang peradaban maju di zaman es yang hilang karena bencana katastrofi masih dianggap tabu oleh dunia pengetahuan.    

 

Ini jelas riset yang berat, tidak main-main,” ujarnya.

 

Masih untung kata Danny, situs Gunung Padang bukan satu-satunya kasus. Ada Situs Gobekli Tepe di Turki, yaitu situs megalitik besar yang asalnya tertimbun tanah di bawah bukit, mirip dengan Gunung Padang tapi bentuk konstruksinya jauh berbeda.  Bangunan Gobekli Tepe ini jugal pembangunannya bertahap dari zaman ke zaman.  Lapisan yang paling tua yang sudah digali berumur sekitar 11.600 tahun. Situs ini terdiri dari batu-batu menhir masif besar yang terukir sangat bagus di dalam lingkaran-lingkaran bangunan batu. Singkatnya bangunan Gobekli tepe tidak mungkin dibuat oleh masyarakat berbudaya primitif tapi sudah berbudaya tinggi.  Menariknya, Situs Gobekli Tepe juga ditimbun dengan tanah dan batu dengan sengaja pada sekitar 9600 tahun lalu dengan alasan yang masih misterius, terutama karena pekerjaan menimbunnya sama sulitnya dibanding dengan membangunnya. 

 

Inilah satu-satunya situs besar bangunan kuno di dunia yang umurnya dapat disebandingkan dengan Situs Gunung Padang lapisan ketiga,“kata Danny.

 

Danny menambahkan, bayangkan, apabila keberadaan bangunan dan umur-umurnya nanti dapat diverifikasi lebih lanjut dan diakui dunia, maka situs Gunung Padang akan menjadi monumen agung tertua, saksi dari perkembangan sejarah peradaban yang hilang.

 

Menutup rilis panjang lebarnya, Danny Hilman mengatakan, ilmiah itu cantik dan baik hati.  Janganlah niat suci dikotori oleh permainan politik untuk kepentingan perorangan atau kelompok.  Danny berharap, penelitian Gunung Padang dapat dituntaskan. Dan mudah-mudahan dapat melibatkan lebih banyak lagi para ahli terbaik bangsa dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu.

 

Sehingga, Insya Allah, Situs Gunung Padang dapat diwujudkan menjadi situs luar biasa kebanggaan Indonesia hasil kerja keras putra bangsa,” ujarnya.

 

Harapan berikutnya, kata Danny, mudah-mudahan Gunung Padang bukan temuan terakhir. Tapi awal dari temuan-temuan besar selanjutnya yang siapa tahu ada yang lebih dahsyat.
(Selesai) *Mau baca dari awal ada di bagian 1 :

Bagian 1 : Membela Penemuan ‘ Manchu Pichu ‘ Indonesia Di Gunung PadangBy Agus.S