Belum Ada Lagi Kapolri Seperti Hoegeng

2796

Inspirasi Dari Seorang Kapolri Hoegeng

Kapolri Hoegeng
Sosok Kapolri Hoegeng : Source Image Inapos.Com

LebahMaster.Com – Sepeninggal Hoegeng, tak ada lagi Kapolri legendaris. Kalimat itu diucapkan Ray Rangkuti Direktur Lingkar Madani Indonesia, dalam sebuah diskusi tentang kepolisian, beberapa waktu yang lalu. Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengajukan Komjen Badrodin Haiti sebagai calon Kapolri, menggantikan Komjen Budi Gunawan yang pelantikannya sebagai Kapolri dibatalkan Jokowi.

Hoegeng yang disebut Ray, tak lain adalah Hoegeng Imam Santoso, Kapolri yang menjabat dari tahun 1968 sampai 1971. Hoegeng memang

selalu dijadikan contoh, seperti apa sosok ideal seorang Kapolri. Bahkan, dulu saat masih ‘jumeneng’, Kyai Abdurahman Wahid atau Gus Dur

pernah berkelakar, bahwa di negeri ini yang disebut benar-benar polisi, hanya tiga. Pertama Hoegeng, kedua patung polisi dan ketiga adalah polisi tidur. Kelakar Gus Dur adalah sindiran, bahwa sepeninggal Hoegeng nyaris tak ada lagi sosok polisi yang bisa dijadikan teladan.

Hoegeng yang disebut Gus Dur dan Ray, adalah sosok yang pernah tercatat ajeg, nyaris tanpa cela. Jenderal polisi bertubuh ringkih kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah pada 14 Oktober 1921, memang pantas di terus disebut tanpa lelah sebagai sebuah contoh.

Nama Hoegeng itu sendiri, sebenarnya cuma nama sebutan fisik. Waktu kecil Hoegeng, dipanggil bugel (gemuk), lama-kelamaan menjadi bugeng, akhirnya berubah jadi hoegeng. Nama aselinya sendiri cuma Imam Santoso yang dipilihkan ayahnya, Sukario Hatmodjo yang pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan. Bersama dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi, dan Soeprapto, ketua pengadilan, ayahnya dikenal sebagai tiga sekawan penegak hukum yang jujur. Ketiganya menjadi inspirasi bagi Hoegeng kecil. Namun Hoegeng lebih kagum kepada Ating. Hoegeng kecil pun kemudian bercita-cita ingin jadi polisi.

Memang sampai tua, Hoegeng tidak bugel alias gemuk. Hoegeng tidak bertubuh tambun subur berglambir lemak. Tubuhnya, bahkan lebih terlihat ringkih ketimbang tegap, apalagi tambun. Tapi jangan tanya soal ketegasan. Hoegeng memegang itu sebagai prinsip hidup. Lewat tangannya, keadilan terasa lebih bisa diraba. Jabatan bagi Hoegeng bukan soal tuah untuk diri sendiri. Bukan pula soal pamrih berlebih. Jabatan bagi pak Hoegeng adalah soal kadar pengabdian pada khalayak. Dia tahu itu tidaklah lempang. Kekuasaan pastinya juga berbicara syahwat. Sekali tersingkap, mungkin yang dekat akan terjerat. Dia tahu itu. Karena itulah, Hoegeng menjaga jarak.

Sebagai polisi, Hoegeng adalah sosok tegas membaja. Polisi dimatanya penegak hukum, titik! Tidak ada kompromi. Tidak ada bagi-bagi hasil dibawah tangan. Apalagi soal salam tempel amplop berisi duit jual kasus. Karena sikap seperti itulah dia terpental dari jabatan elit kepolisian Indonesia yang di pegangnya antara 1968-1971.

Kala itu, Hoegeng sedang mengungkap kasus penyelundupan mobil kelas kakap yang dilakukan oleh Robby Cahyadi. Si pelaku disebut punya kaitan dengan kalangan Istana. Tapi betapa kecewanya, saat dia akan melaporkan itu ke Presiden, sang buruan sedang asyik bercengkrama di Cendana. Ternyata benar, kekuasaan kongkalikong dengan keculasan. Jelas karena itu sang Jenderal murka. Sejak saat itu pupus sudah kepercayaan kepada kekuasaan. Pun Soeharto, pucuk pemerintahan saat itu.

Karena itu pula Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri sebelum masa jabatannya habis. Tepatnya 1970, Soeharto mencopot Hoegeng dengan alasan regenerasi. Tapi aneh, penggantinya, Muhammad Hassan justru lebih tua usianya. Hoegeng pun menyadari penguasa sudah tidak suka sepak terjangnya di kepolisian. Sebagai penghibur saat itu Soeharto menawari Hoegeng menjadi duta besar di Belgia, Tapi Hoegeng menampiknya.

By : Agus Supriyatna/@rakeyanpalasara

Read Also :

Belajar Keteladanan Dari Kapolda Kalbar, Brigjen Polisi Arif Sulistyanto