Mengenal Sosok Ali Sadikin

Ali Sadikin
Sosok Ali Sadikin, Source Image : Google Image

Ali Sadikin – Sepinya orang Sunda dalam pentas kepemimpinan nasional, disebabkan oleh dua faktor yaitu, secara struktural dan kultural. Secara struktural, kini tak ada tokoh Sunda yang menjadi ketua partai. Atau ketua lembaga tinggi negara. Problem struktural ini juga disebabkan oleh faktor kultural, dimana orang Sunda, terbiasa untuk tampil dibelakang. Lebih mengalah, tak berani tampil kedepan.

Tak ada lagi orang seperti Ali Sadikin yang punya keberanian,” kata Guru Besar dari Universitas Parahiyangan Bandung, Asep Warlan.

Orang Sunda, secara kultural, memang tak terbiasa untuk tampil kedepan. Karena itu tak heran bila tak ada orang Sunda yang berani untuk bertarung misalnya memperebutkan posisi ketua umum partai. Padahal, bila ada yang berani, dan menjadi ketua umum partai, jalan untuk tampil sebagai pemimpin nasional akan terbuka.

Orang Sunda, bila dalam bahasa Sundanya, selalu mengatakan, mangga tipayun (silahkan didepan-red). Harusnya dibalik, dipayunan ( memutuskan berada di depan-red),” kata Asep.

Padahal, di kabinet sebenarnya juga ada tokoh Sunda, misalnya Armida Alisjahbana, yang kemarin di era SBY menjabat sebagai Kepala Bappenas. Namun, geraknya hanya sebatas tugas yang diembannya. Tidak berani, misalnya mencoba untuk mencari celah politik tampil di depan. Dari sisi gebrakan pun minim. Tak seperti Ali Sadikin, berani menggebrak.

Dari sisi dukungan pun, tak cukup kuat. Orang Sunda seperti berjalan sendiri-sendiri. sehingga sulit untuk menciptakan semacam Sunda Connection. Berbeda dengan suku lain, seperti Bugis misalnya yang sangat kuat ikatannya, saling mendukung,” kata dia.

Bila memang urang Sunda ingin tampil untuk diperhitungkan di pentas nasional, harus bisa berani tampil. Jangan terus menjadi orang yang selalu ‘mengalah’. Namun berani merebut kesempatan. Asep pun berharap, anak-anak muda asal parahiyangan yang sekarang aktif di partai, mesti memulai untuk berani menggebrak. Generasi muda pituan tatar Sunda, mesti merubah kultur yang selama ini kuat mengakar di kalangan orang Sunda.

Sebenarnya saat inilah momentumnya, bila tak dari sekarang, mau kapan lagi. Bila tak berani dari sekarang, orang Sunda akan selalu ketinggalan kereta,” kata Asep.

Sementara Manajer Riset Pol-Tracking Institute, Arya Budi, mengatakan, pada dasarnya semua etnis mempunyai peluang politik yang sama untuk bisa tampil ke pentas nasional. Namun harus diakui, suku Jawa, punya kelebihan, terutama jaringannya. Populasi orang Jawa cenderung lebih banyak dan mereka terdiaspora ke banyak daerah. Sehingga mereka pun, memiliki kapasitas mobilisasi yang lebih maksimal.

“Kelebihan lainnya, pengaruh mereka sudah mengakar sejak era Soekarno. Sehingga kemudian itu, menjadi memori publik soal kepemimpinan Jawa. Nah ini yang berbeda dengan dibanding orang Sunda,” katanya.

Arya melanjutkan, meski beberapa tokoh nasional juga jamak berasal dari suku lain seperti Minang dan Bugis, tapi harus diakui, terkait jaringan suku Jawa, cukup kuat. Walau, suku Bugis juga misalnya, ikatan primordialnya juga cukup terbangun baik. Sehingga, kemudian terbentuk semacam Bugis Connection.

“Sepinya tokoh Sunda hanyalah soal momentum politik saja di iklim demokrasi elektoral ini. Tinggal memperkuat jaringan. Dan keberanian tampil,” kata Arya. By : Agus Supriyatna/@rakeyanpalasara

You May Also Like :

Belajar Keteladanan Dari Kapolda Kalbar, Brigjen Polisi Arif Sulistyanto