Belum Juga Dilantik, Wakil Bupati Ini Langsung Masuk Bui

1480

Setelah dilantik, kepala daerah dan wakilnya harusnya langsung bekerja. Mereka punya utang, membuktikan janji yang diucapkannya saat kampanye dalam tahapan pemilihan yang telah dilaluinya.

Wakil-Bupati-Simalunggung-Imran-Sinaga-Masuk-Bui

Namun, ada kisah yang menarik dari hasil pemilihan kepala daerah serentak yang digelar awal Desember 2015 kemarin. Kisah menarik itu datang dari Simalungun, sebuah kabupaten yang ada di provinsi Sumatera Utara. Pada gelaran pemilihan kepala daerah serentak pada Desember 2015 kemarin, Kabupaten Simalungun termasuk salah satu kabupaten yang ikut menggelar pemilihan serentak bersama 268 daerah lainnya.

Namun kemudian hajatan pesta demokrasi di Simalungun tak jadi digelar tepat pada tanggal 9 Desember 2016. Pasalnya, ada proses gugatan hukum terhadap tahapan pencalonan yang membuat pemilihan di Simalungun tak tepat waktu. Salah satu pasangan calon yang dicoret oleh KPU Simalungun menggugat ke PTUN. Mereka merasa tak puas, karena pencalonannya dicoret oleh penyelenggara pemilihan di Simalungun.

Nasib baik berpihak pada penggugat. Pengadilan, dalam hal ini pihak PTUN mengeluarkan putusan sela, agar pencoretan calon yang awalnya dianggap bermasalah oleh KPU setempat hingga dicoretnya, diminta untuk ditunda. Pihak tergugat, dalam hal ini KPU Simalungun, merasa tak puas, dan melakukan banding. Kasus pun berlanjut ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan.

Dan pasangan calon yang menggugat ke PTUN karena dicoret oleh KPU, adalah pasangan JR Saragih-Amran Sinaga. JR Saragih sendiri adalah petahana, alias orang yang sedang berkuasa di Simalungun. Kemudian, hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan, dalam putusannya memerintahkan KPU Simalungun sebagai tergugat untuk menggelar Pilkada dan menyertakan pasangan petahana itu.

Tapi karena putusan baru keluar pertengahan Desember 2015, Pilkada di Simalungun yang harusnya digelar pada 9 Desember 2015, terpaksa ditunda. Pemilihan baru dilakukan pada pekan pertama Februari 2016. Menariknya, pasangan calon yang awalnya sempat dilikuidasi oleh komisi pemilihan setempat, justru keluar sebagai peraih suara terbanyak alias jadi pemenang pemilihan. Pasangan yang menang itu tak lain, duet JR Saragih-Amran Sinaga. Tentu hasil yang mengejutkan, sebab pasangan ini nyaris tak bisa ikut pesta demokrasi di menit terakhir. Tangan pengadilanlah yang membuat pasangan ini akhirnya bisa ikut berlaga dan menang.

Namun kegembiraan pasangan tersebut hanya sementara. Sebab kemudian status hukum kawan duet JR Saragih, yakni Amran Sinaga dipersoalkan. Ternyata, pada 22 September 2014, Mahkamah Agung telah mengeluarkan amar putusan kasasinya. Dalam putusan kasasinya, majelis hakim MA yang diketuai Artidjo Alkostar menjatuhi Amran hukuman empat tahun penjara.

Amran terbukti bersalah karena menerbitkan ijin pengelolaan hutan yang tak sesuai dengan Rencana Tata Ruang. Amran dianggap hakim telah melanggar ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 26 tahun 2007 Pasal 37 ayat (1) jo Pasal 37 ayat (7). Sanksinya, pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta. Kasus itu mencuat pada 2011. Saat itu, Amran menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Simalungun.

Kasus itu pula yang kemudian dipersoalkan. Komisi pemilihan setempat akhirnya mencoret pasangan JR Saragih-Amran dari keikutsertaan Pilkada Simalungun. Tak puas dicoret, duet JR Saragih-Amran kemudian melakukan perlawanan dengan mengajukan gugatan ke PTUN. Di PTTUN Medan, JR Saragih-Amran menang. Pasangan ini pun akhirnya bisa ikut pemilihan. Dan, tak terduga merek kemudian menang.

Namun persoalan tak selesai. Status hukum Amran tetap dipersoalkan. Bahkan kemudian Kejaksaan Negeri Simalungun bergerak hendak mengeksekusi penahanan Amran yang sempat tertunda karena Pilkada. Pihak kejaksaan sendiri berdalih, mereka bukan mengulur waktu untuk menahan Amran. Sebab surat putusan MA yang berisi vonis bagi Amran, baru di terima pihak kejaksaan pada 30 November 2015. Sementara pada 9 Desember 2015, akan digelar Pilkada. Tak ingin membuat gaduh, akhirnya pihak kejaksaan menunggu waktu tepat mengeksekusi.

Waktu tepat untuk eksekusi pun tiba. Sialnya bagi Amran, eksekusi dilakukan di saat dia sedang merayakan kemenangan di Pilkada. Selangkah lagi, Amran akan dilantik jadi Wakil Bupati Simalungun mendampingi JR Saragih. Tapi, mimpi berseragam putih-putih dan dilantik oleh Gubernur Sumatera Utara langsung sirna. Justru dia harus masuk bui.

Pada 22 Februari 2016, akhirnya Amran menyerahkan diri pada pihak Kejaksaan Simalungun. Amran pun langsung ditahan di Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Batu Anam Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ya, itulah kisah menarik dan lucu sekaligus menyebalkan yang terjadi dalam pesta demokrasi daerah yang digelar serentak kemarin. Pemenang ternyata seorang pesakitan. Sudah menang, dia pun terpaksa harus masuk bui. Jadi Wakil Bupati pun kandas, bahkan sebelum dia dilantik. Amran, oh Amran, nasibmu sungguh sial.

 

Baca: Baru 15 Menit Dilantik, Bupati Ini Langsung Mau Nyalon Gubernur