Bill Gates’ Dermawan Dari Indonesia

Sosok Bill Gates Dari Indonesia

Bill Gates
Bill Gates’ Dermawan Dari Indonesia

Bill Gates, siapa yang tak kenal. Dia pendiri Microsoft, perusahaan teknologi raksasa yang telah berhasil ikut ‘merevolusi’ kehidupan. Lewat Microsoft, Bill bermetamorfosis dari ‘orang biasa’ menjadi sosok luar biasa. Dia ditasbihkan menjadi orang tajir di dunia. Ia juga banyak dielu-elukan. Segala yang banyak dimimpikan orang banyak sudah diraihnya.

Namun meski sudah ada di puncak menara gading kesuksesan, tak membuat Bill Gates, lupa untuk menengok ke lembah. Kini Bill turun gunung, bukan untuk urusan kapitalisasi perusahaannya, tapi turun untuk mengulurkan tangan membantu sesamanya yang tak beruntung. Jutaan dollar tak segan di gelontorkan untuk itu. Bill pun turun, tak lagi berbaju Microsoft yang telah membesarkannya dirinya. Tapi ia turun, sebagai filantropis, orang dermawan yang tak segan menolong kaum lemah.

Bill pernah datang ke Indonesia. Lewat lembaga filantropisnya, Bill and Melinda Gates Foundation, bos Microsoft itu membawa sumbangan jutaan dollar yang didedikasikannya untuk untuk mengatasi lima problem kesehatan di Indonesia, yaitu malaria, TBC, HIV-AIDS, demam berdarah, dan Keluarga Berencana (KB).

Guru Besar Sosiologi Universitas Brawijaya, Malang, Darsono Wisadarana, mengatakan semangat filantropis seperti yang dicontohkannya bos Microsoft itu yang harus tumbuh berkembang di Indonesia. Dan, mestinya orang-orang tajir di Indonesia, bisa mengikuti jejak Bill Gates. Ia pun, memimpikan lahirnya banyak Bill Gates dari Indonesia. Tapi Bill Gates yang filantropis, tak semata tajir, tapi punya dedikasi untuk mengulurkan tangan.

Dan, di Indonesia, para milyader yang punya semangat filantropis sebenarnya sudah mulai bermunculan. Jusuf Kalla, Irwan Hidayat, dan Dato Sri Tahir adalah beberapa orang tajir di Indonesia, yang tak segan turun ke lembah kehidupan, membantu sesama, dan tak semata tinggal di menara gading kesuksesan. Baginya, mereka itu adalah Bill Gates from Indonesia.

Kedatangan Bill Gates ke tanah air, dengan status filantropis, tak lepas dari peran seorang Dato Sri Tahir. Pemilik grup bisnis Mayapada itu memang namanya tak sepopuler bos Microsoft. Bahkan ia minim sorotan. Tapi, ternyata kedermawanannya tak diragukan. Lewat lembaga Tahir Foundation, ia banyak menggelontorkan dana bantuan. Bekerjasama dengan lembaga donor kemanusiaan milik bos Microsoft, Bill and Melinda Gates Foundation, lelaki kelahiran 26 Maret 1952 itu, menyumbangkan pundi uangnya untuk program sosial kemanusiaan di Tanah Air.

Sumbangannya pun terbilang fantastis. Tahir mendonasikan uangnya sebesar 100 juta dollar Amerika, atau setara 1,1 trilyun. Jumlah yang terbilang jumbo untuk sumbangan sosial kemanusiaan. Uang itu ia berikan ke lembaga donor milik Bill Gates. Bill and Melinda Gates Foundation sendiri kemudian melipat gandakan sumbangan itu dua kali lipatnya.

Pola amal itu merupakan bagian dari program match plan yang ditawarkan yayasan amal milik orang terkaya di dunia itu. Artinya sumbangan dari Tahir, dilipatgandakan menjadi 200 juta dollar. Donasi itu, 75 persennya diperuntukan untuk memerangi penyakit malaria, TBC, dan HIV di Indonesia.

Siapa Tahir sebenarnya? Tahir ternyata bukan orang yang ujug-ujug kaya. Ia bukan pewaris kekayaan dari orang tuanya. Bahkan, Tahir berasal dari kalangan orang tak punya. Ayahnya hanya seorang pembuat becak di Surabaya, yang banting tulang membesarkan anak-anaknya. Tahir muda, pernah punya cerita pahit. Cita-citanya yang ingin jadi dokter kandas, karena sang ayah didera sakit. Ia pun, balik badan mengambil alih usaha keluarga. Dan, kini Tahir menjadi orang sukses. Bahkan, Tahir pernah tercatat sebagai orang paling tajir di Indonesia urutan ke 12.

Tapi, kekayaan yang melimpah, tak membuat Tahir hidup semata di menara gading kesuksesannya. Justru lewat kekayaannya, ia tak segan mengulurkan tangan. Tidak banyak publikasi, ia getol menyumbang. Kedermawanannya memang tak lepas dari latar sejarahnya yang penuh liku.

“Saya lahir dari keluarga miskin. Ketika memiliki tabungan, maka wajar kalau saya mesti melihat ke belakang dan banyak orang yang tidak seberuntung saya,” kata dia.

Baginya, Indonesia adalah tanah air yang ia cintai sepenuh hati. Dan di Indonesia, ia bisa berkarya dan kaya. Wajar, bila ia ingin berbuat sesuatu bagi negeri yang sudah dianggapnya sebagai rumah satu-satunya. Filosofi hidupnya pun sederhana, tapi mulia. Kesuksesan yang dinikmati, pada dasarnya karena dukungan dari orang banyak. Karena itu, berbagi dengan sesama adalah kewajiban. Sehingga, usaha pun bisa berkah.

Saya dibesarkan di negeri ini, minum air dan menghirup udara di sini, maka suatu hal yang wajar pula bila saya kembalikan ke negeri ini,” kata Tahir, pada suatu kesempatan.

Untuk fokus dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, Tahir pun memutuskan ”pensiun’ dari kegiatan bisnisnya. Ia sudah berkomitmen untuk menjadi pegiat sosial sepenuhnya.

Saya ingin fokus di bidang sosial dan kemanusiaan,” katanya.

Menurut Darsono, orang-orang seperti Tahir, sebenarnya itu yang dibutuhkan oleh Indonesia. Bahkan, filantropis seperti Tahir, mestinya bisa diberi ruang di pemerintahan. “Sosok yang sepenuhnya mendedikasikan apa yang sudah diraih demi kemaslahatan orang banyak, terutama bagi mereka yang tak berdaya secara sosial,” kata Darsono.

Artikel By : Agus Supriyatna / @rakeyanpalasara