Bukan Salah Dede Mengirim Surat

1861

Bukan Salah Dede Mengirim Surat

By : Agus Supriyatna ( Twitter : @rakeyanpalasara )

Surat Dede - Surat Cinta
Bukan Salah Dede Mengirim Surat

LebahMaster.Com – Kisah dede, Bila sedang jatuh cinta, kopi tubrukpun rasanya coklat mahal..Semua perasaan tumpah ruah dari dalam dada. Logika dan pikiran jernih kadang ngilang entah kemana. Makanya orang bilang cinta itu (kadang) buta, love is blind-lah. Cerita ini juga punya korelasi dengan tema jatuh cinta. Ceritanya begini…

Dulu, waktu SMA, biasanya untuk mengisi libur panjang saya dan kawan sebaya satu kampung pergi ke kota Jakarta cari kerja. Biasanya, kami kerja di proyek bangunan, karena kebetulan di kampung kami ada yang jadi “priyayi” proyek alias pemborong. Jadi kami dan orang-orang kampung sering direkrut untuk bekerja padanya. Entah itu jadi tukang atau pembantu tukang (kenek).

Cerita ini terjadi sekitar tahun 1996, saya dan dua orang kawan sebaya diajak bekerja di daerah Pamulang, bangun rumah tinggal seorang petinggi Perusahaan minyak milik negara, bukan tukang minyuaaak dorongan. Saya dan kawan sebaya posisinya sebagai kenek alias asisten pribadi tukang batu. Jobdes-nya, ya bantu segala hal si tukang itu. Bila perlu ke hal yang pribadi, misalnya beliin es cendol kalau si si bos sedang haus. Maksud si bos itu ya si tukang batu itu.

Kembali ke dongeng kita. Kebetulan pula pas kami gabung kerja, rumah sudah setengah berdiri, jadi kami nginep disana juga. Pas dapat tugas dari bos, beli cendol. Ni, kawan saya ketiban durian runtuh. Tepat nimpa kepala sampe keleyengan beliau ini. Duren itu bukan sembarang duren tapi durian cinta yang berisi rindu. Nama kawan saya ini, Dede cuma Dede tanpa embel-embel. Tapi kalau panjangnya sih Tuswiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.

Menurut sohibul hikayat yang bukan gosip, sewaktu transaksi beli cendol, si Dede berkenalan dengan seseorang. Namanya, Murni yang kemudian identitas lengkapnya di ketahui sebagai pembantu sebelah rumah yang sedang dibangun itu. Menurut cerita Dede perkenalan itu terjadi, karena dia bernasib sama dengan si Murni itu, sama-sama nunggu si mamang cendol meracik dagangannya.

Sedangkan lokasi sejarah perkenalan itu berlangsung tepat di rumah majikan si Murni. Entah gimana cerita jelasnya, Dede cuma ngasih ringkasan-nya doang, di tebar senyum olehnya, Murni pun berbalas senyum. Jadi deh, dari cendol berlanjut ke malam minggu. Tapi ada efek sampingnya ni, gara-gara pingin diliat sok perhatian, belanjaan cendol si Murni di bayarin penuh oleh si Dede. Kalau jaman sekarang istilahnya di traktir bo! Yang jadi masalah, traktir mentraktir cendol itu pake uangnya si bos.

Ya, terang saja, saat menerima laporan Dede, si bos nyureng bin kesel. Dede cuma nyengir. Tapi syukurlah penyelesaiannya didapat setelah rapat dengar pendapat antara Dede, bos dan saya. Hasilnya si bos minta di pijit dengan durasi pijit 1 jam setengah. Jadilah si Dede beralih profesi jadi tukang pijit untuk mengganti anggaran si bos yang di pake buat traktir Murni. Tapi demi cinta beibeh, dia rela. Dede…Dede

Ringkas cerita, setelah satu minggu kisah kenal mengenal itu, dari mulut Dede tanpa bosan selalu berkisah tentang Murni. Mulai dari kisah malam minggu nonton layar tancap. Sampai naik komedi putar di pasar malam dekat komplek perumahaan. Bahkan sambil ngaduk semen dan pasir, senandungnya penuh cinta. Nama Murni selalu diselap-selip tanpa terlewat. Singkat ceritanya Dede jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, karena hampir tiap habis kerja, Dede paling rapi dan wangi. Usut punya usut ternyata dia mau berangkat ngapel. Sampai tiba pada suatu ketika…

Waktu malam meremang. Dede datang dengan wajah sedikit sedih. Saya mengerti, kalau lagi berkasih rindu tentu yang paling bikin sedih saat tiba harus berpisah. Ya, malam itu, tepat saat Dede datang adalah waktu sehari sebelum pulang ke kampung. Dengan langkah gontai gemulai, Dede berdiri depan saya. Lalu keluarlah dari mulut Dede, bukan lagi senandung atau puisi seperti saat ngaduk semen atau jelang ngorok tapi sebuah permintaan yang lebih mirip permohonan dengan sedikit aroma menghiba. Dede minta saya buatin surat cinta. “Sekalian tulis sama alamat saya. Tolong ya buat seindah mungkin. Sekalian kasih puisi di NB-nya” pintanya dengan mimik lesu.. Selama saya garap surat, Dede terus tanpa jeda curhat tentang “kekasihnya” itu.

“Kayanya dia jodoh saya”, katanya lirih mirip gumaman. Mendengarnya saya hanya tersenyum simpul. Dede dengan sangat mewanti-wanti untuk menuliskan alamatnya dengan benar. Katanya, biar tali cinta sambung menyambung jadi satu terus. Setelah selasai dia baca. “Bagus euy surat teh!” pujinya. Tapi dia minta ada tambahan. “puisinya yang banyak.” Pintanya. Jadilah surat itu, jumlahnya sampai enam lembar. Rinciannya 4 lembar naskah surat, 2 lembar puisi.

Singkat cerita lagi (abis cape euy), Saya, Dede sama si Bos, tukang batu itu, pulang bareng ke kampong. Waktu bus melaju di jalan raya Pantura, si Dede buka-buka tasnya. Mendadak Dede terlihat pucat bin pasi, ditangannya terpegang beberapa carik kertas. Jumlahnya 6 lembar. Pikiran saya cepat tanggap. “jangan-jangan…?” duga saya. Akhirnya Dede memperjelas dugaan saya, “Gus, yang saya masukkin ke amplop, waktu malam ituh salah” ujarnya gugup.

Saya berinisiatif mengambil alih kertas yang dipegang oleh Dede. Ternyata Dede salah masukin isi surat, tertukar dengan bukti slip gaji dia sebagai pembantu tukang alis kenek alias pula asisten pribadi si Bos, si tukang batu. Padahal dia katanya sudah ngaku-ngaku sebagai wakil mandor. Dede…Dede, cinta memang bikin orang but….eh pikun. Mendengar kisahnya Si bos dan saya tak kuat untuk tertawa ngakak. Sambil terpingkal si bos berdendang, “Kirim Surat salah masukin isinya…”. Si Tuwin cuma diam cemberut. Pasti sedang merenungi kecerobohannya, kirim surat salah masukin isinya

Melihat raut muka Dede yang enggak enak di pandang mata, dengan senyum di kulum, si Bos sedikit ngasih nasehat. “Win, baiknya kalau lagi seneng atau bahagia, yang wajar saja jangan berlebihan. Makan saja kalau berlebihan bikin perut mau meledak dan sakit. Kan segala sesuatu yang berlebihan, pasti mubazir bin mudarat,” ujar si Bos. Sedang Dede cuma diam mengkeret. Matanya nanar menatap keluar lewat jendela bis. Mungkin sedang merenungi nasib atau jangan-jangan sedang menganalisa nasehat si Bos.

Bus terus melaju. Lagu dangdut pun terus berdendang sepanjang jalan menuju kampung halaman. Dede terlihat murung, matanya menatap jendela bis. Saya kasihan melihatnya. Tapi saya diam-diam membayang, gimana reaksi Murni saat membuka isi suart dari Dede. Dede…Dede
                                                                               

                                                                                                                            Rekontruksi ulang cerita terlewat untuk Dede.

Other Article :

Kisah Gayus Tambunan, Kaya Mendadak Dengan Cara Salah