Bupati Ini, Tak Pernah Nikmati Gajinya, Semua untuk Anak Yatim

795

Bupati Maros Hatta Rahman

LEBAHMASTER.COM, MAROS – Saya kira, apa yang dilakukan Bupati Kabupaten Maros, Hatta Rahman, patut jadi teladan. Terlebih disaat negeri ini sedang mengalami kemarau panjang pemimpin yang mampu jadi inspirasi. Banyak kepala daerah, petinggi partai dan pejabat yang kini terjerat kasus korupsi. Tentu itu bukan contoh yang baik. Mereka contoh buruk, pemimpin yang serakah.

Kabupaten Maros sendiri adalah sebuah kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya tak jauh dari Makassar. Anda tahu Bandara Hasanuddin? Ya, bandara itu ada di Maros, kabupaten yang sekarang dipimpin Hatta Rahman. Maros juga terkenal karena potensi pariwisatanya. Taman Nasional Bantinmurung ada di Maros.

Saya sekali pernah ke Maros. Sekali pula pernah ke Bantinmurung yang eksotis, meski hanya kunjungan singkat. Dan, saya pernah berbincang dengan Hatta Rahman. Dalam bincang-bincang santai itulah saya akhirnya tahu pak bupati tak pernah mengambil gajinya. Atau dalam kata lain, dia tak pernah menikmati gajinya sebagai kepala daerah.

Seluruh gajinya selalu ia sumbangkan untuk anak-anak yatim piatu. Atau disumbangkan ke panti asuhan. Pak bupati sendiri wanti-wanti agar itu tak dipublikasikan. Tapi rasanya, saya berpendapat, apa yang dilakukan Pak Hatta Rahman patut disebarkan sebagai contoh ‘kebaikan’. Dan, memang harus seperti sikap seorang pemimpin.

Dia jadi pemimpin untuk menjalankan amanah. Bukan cari laba, atau keuntungan materi. Apalagi bila demi dapat untung, tega melakukan perbuatan korup, seperti terima suap, memotong anggaran, atau menerima gratifikasi.

Seorang pemimpin, harusnya tanpa pamrih. Dia harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sehingga dia bisa jadi seorang negarawan. Jadi bapak dan ibu bagi rakyatnya. Bagi anak-anak di daerahnya. Bukan kemudian karena jadi pemimpin, seperti kepala daerah, lalu mentang-mentang. Merasa jadi majikan. Main perintah bak raja. Tak mau disalahkan. Selalu menyalahkan orang. Berjarak dengan rakyatnya. Dan ingin selalu di istimewakan.

Saya kira tipe pemimpin seperti itu, bukan sosok pemimpin sejati. Bukan pula seorang negarawan. Tapi dia, adalah politisi bermental priyayi, yang selalu menganggap bawahan dan rakyatnya adalah abdi. Padahal, dialah sebenarnya abdi. Karena rakyat pemegang kuasa sebenarnya. Dia sebenarnya yang abdi rakyat. Sayang banyak yang terbalik. Setelah terpilih jadi pemimpin, banyak yang lupa daratan. Lalu jadi majikan yang serakah. Sayang seribu sayang. Wajar bila kemudian, banyak yang menganggap republik ini tengah mengalami kemarau panjang kepemimpinan yang bisa jadi teladan.

Jadi, selama lima tahun jadi bupati di Maros, Pak Hatta sama sekali sepeser pun tak menikmati gajinya. Kini Pak Hatta, kembali terpilih. Di periode dua kepemimpinanya, ia juga tak mau mengambil gajinya. Katanya, biarlah anak yatim yang menikmatinya. Karena dia jadi pemimpin di Maros, salahsatunya karena doa anak yatim. (Agus.S)

Baca Juga: Kisah Bupati Wakatobi berjuang Bangun Bandara