Buwas Digoyang, Buwas Dibela

1231

Komisaris Jendral Budi Waseso ( Buas )

Buwas, Jakarta, – Rabu, 3 September 2015, panggung berita di Jakarta kembali gaduh, dengan kabar pencopotan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri (Kabareskrim), Komisaris Jenderal Budi Waseso. Ya, Jenderal Buwas, demikian panggilan tenarnya, selalu jadi sorotan sejak diangkat jadi orang nomor satu di Bareskrim Polri, menggantikan Komjen Suhardi Alius.

Di masa kepemimpinan Jenderal Buwas, dua pemimpin KPK, Abraham Samad dan Bambang Widjajanto dijadikan tersangka. Abraham sang ketua komisi anti rasuah itu jadi tersangka dalam kasus pemalsuan dokumen. Sementara Bambang, jadi tersangka dalam kasus saksi palsu dalam sengketa Pilkada Kotawaringin Barat (Kobar).

Banyak yang mengkritik Jenderal Buwas. Buwas dianggap ‘biang’ kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan, di era kepemimpinan mantan anak buah Komjen Budi Gunawan itu pula, dua komisioner Komisi Yudisial, jadi tersangka pencemaran nama baik hakim PTUN, Sarpin Rizaldi yang memenangkan gugatan praperadilan yang diajukan Komjen Budi Gunawan, saat sang jenderal jadi tersangka KPK.

Tak kurang dari mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Ma’arif, minta Presiden Jokowi mencopot Buwas. Kini isu pencopotan Buwas merebak disaat sang jenderal bersama anak buahnya sedang mengusut kasus pengadaan mobile crane yang dilakukan PT Pelindo II. Seperti diketahui bos PT Pelindo, RJ Lino, sempat berang, ketika kantornya di geledah anak buah Buwas. Ia bahkan sampai menelepon beberapa menteri. Dan meminta melaporkan langkah Bareskrim itu ke Presiden Jokowi. Tak hanya itu, RJ Lino sampai ‘mengancam’ Presiden, bila tak turun tangan menghentikan Jenderal Buwas yang sedang mengusut kasus di Pelindo, ia akan mengundurkan diri dari Pelindo.

Namun meski banyak dikritik, ada juga yang membela dan mendukung langkah Jenderal Buwas. Salah satunya adalah Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW). Dalam pernyataan persnya, Bang Neta, membela dan mendukung langkah Jenderal Buwas membongkar praktek korupsi di beberapa perusahaan plat merah.

Kata Bang Neta, munculnya berita bahwa Jenderal Buwas akan dicopot, itu manuver murahan dari orang-orang yang ingin menjatuhkan sang jenderal. Siapa orang-orang itu?

Diduga adalah pihak-pihak yang selama ini kepentingannya terganggu karena Bareskrim melakukan pengeledahan di banyak tempat yang berkaitan dengan kasus korupsi,” katanya.

Penggeledahan yang paling spektakuler adalah saat menggeledah kantor Dirut Pelindo II, RJ Lino, kata Bang Neta. Selain itu, Bareskrim juga melakukan penggeledahan di Pertamina Foundation dan kantor SKK Migas.

Maka, dengan adanya pihak-pihak tertentu melemparkan isu Buwas akan dicopot, Kabareskrim itu harus bekerja cepat, memproses kasusnya dan melimpahkan BAP-nya ke kejaksaan,” katanya.

Dalam kasus Pelindo misalnya, Bang Neta menyarankan, Bareskrim harus segera menetapkan tersangkanya dan langsung ditahan. Kalau memang Dirut Pelindo II, RJ Lino bukti-buktinya sudah cukup serta alat buktinya juga sudah ada, Polri jangan takut untuk segera tetapkan Lino sebagai tersangka. Bila perlu ditahan.

” Ini perlu dilakukan agar Bareskrim tidak dituduh menggangu kepentingan tertentu tapi ini untuk menegakkan hukum memberantas korupsi,” ujar Bang Neta dalam siaran persnya.

Dengan adanya manuver isu pergantian ini, Bang Neta menyarankan Jenderal Buwas untuk tak kehilangan momentum. Kata dia, Bang isu itu harus dijadikan momentum untuk menahan para tersangka korupsi. Bang Neta juga menyarankan, polisi segera melimpahkan BAP ke kejaksaan.

Dalam pandangan saya, isu pencopotan itu hanyalah manuver dari para koruptor. Manuver ini harus diperangi Buwas jika tidak ingin jadi korban kebrutalan para koruptor,” katanya.

Bang Neta juga meminta elit pemerintahan dan penguasa jangan mau dipengaruhi serta diperalat para koruptor untuk membantai aparatur penegak hukum yang sudah bekerja konsisten. Di mata Bang Neta, Jenderal Buwas, adalah aparatur penegak hukum yang konsisten.

Sejak Buwas melakukan gebrakan dalam menangani kasus KPK, SKK Migas, kemudian Pelindo, saya sudah dapat berbagai informasi bahwa akan muncul intervensi untuk menjatuhkan Buwas dengan berbagai cara,” katanya.

Dirinya sendiri mendukung langkah Buwas. Ia bahkan minta Buwas jangan takut memeriksa pejabat negara yang terlibat.

Buwas jangan takut karena rakyat di belakangnya,” kata Bang Neta.

Wah, kian ramai saja. Buwas digoyang, Buwas dibela. Benar-benar, tak hanya ramai, tapi juga gaduh. Kita tunggu saja, sampai dimana ujung kisah dari drama Jenderal Buwas.

Baca Juga : Inilah, Tiga Komjen Polisi Dalam Pusaran Kasus