Cerita KH Agus Salim dan Kain Kafan Anaknya

1079

Lebahmaster.com, KH Agus Salim –Hanya satu kelemahan Agus Salim, selama hidupnya melarat,” kalimat itu diucapkan oleh Willem Schermerhorn, Ketua delegasi Belanda dalam Perjanjian Linggarjati, mengenang sosok KH Agus Salim, tokoh republik yang jadi lawannya dalam perundingan tersebut.

Cerita Agus Salim dan Kain Kafan Anaknya

Ya, Agus Salim memang tokoh yang terkenal dengan kesederhanaannya. Bahkan, sepanjang hidupnya, Agus Salim nyaris tak pernah punya rumah. Ia dan keluarganya selalu berpindah kontrakan, dari satu rumah ke rumah lain. Tapi, bukan rumah kontrakan mewah, namun rumah sewa yang sederhana. Ada di gang sempit dan becek. Tentang ini, Mohammad Roem punya banyak cerita. Roem semasa masih jadi aktivis muda, kerap bertamu ke rumah Agus Salim. Agus bisa dikatakan ‘guru politiknya’ Roem.

Dan, tentang kesederhanaan Agus Salim, diceritakan pula oleh Solichin Salam, penulis buku “Hadji Agus Salim : Pahlawan Nasional”. Dalam buku itu, Solichin menulis, suatu ketika salah satu anak Agus Salim meninggal. Kala itu, Agus sedang tak punya uang.

Saking tak punya uangnya, Agus pun memakai taplak meja dan kain kelambu yang sudah tak terpakai sebagai kain kafannya. Kain taplak dan kelambu itu dicucinya, lantas dijadikan kain kafan jenazah anaknya. Padahal ketika itu, ada kawannya yang memberi bantuan kain kafan. Tapi Agus menolaknya. Dan, Agus berkata.

Orang yang masih hidup lebih berhak pakai kain baru. Untuk orang yang mati cukuplah kain itu. Selagi dia masih hidup, dia memerlukan pertolongan, akan tetapi sekarang dia tida lagi memerlukannnya,” kata Agus ketika itu.

Sumber tulisan : Majalah Tempo, Edisi 18 Agustus 2013

Baca Juga: Hebat, Putra Agus Salim, 4 Tahun Fasih Berbahasa Belanda