Cerita Kiriman Sahabat : ” Lima Alarm Peringatan ”

Oleh Awang Blackdog

Kisah Lima Alarm Peringatan

Pada 4 Agustus 2015 saya ada janji bertemu dengan seseorang. Penting bagi saya arti untuk pertemuan ini. Kami sepakat untuk bertemu pada pagi hari di suatu tempat. Cuma satu masalahnya, yaitu pagi. Saya sadar, saya adalah penganut gaya hidup sakit yang dipastikan tidak pernah melewatkan malam tanpa begadang. Makanya pagi menjadi waktu yang menakutkan pada saat itu. Takut tidak terbangun dan melewatkan janji untuk bertemu.

Memang, untuk satu malam itu saya usahakan tidak begadang. Paling tidak bisa tidur empat sampai lima jam. Tapi ternyata susah. Apalagi saya baru sampai di rumah pada pukul 01.30 dini hari, setelah beberapa jam bermain ke rumah salah satu teman. Dengan keadaan yang sepertinya akan susah untuk bangun pagi, sayapun berniat untuk tidak tidur sekalian hingga janji ini dituntaskan.

Walaupun demikian, saya tetap berjaga-jaga dengan memanfaatkan aplikasi alarm di handphone. Ada lima waktu yang tersedia di aplikasi itu. Saya mencocokkan waktunya. Pertama, pukul 07.00 wib, kemudian pukul 07.10 menit dan begitu seterusnya dengan spasi waktu 10 menit. Sebuah pola pikir sok cerdas. Jadi kalau tidak terbangun oleh alarm di pukul 07.00 wib, masih ada empat kali kesempatan untuk si alarm agar bisa membangunkan saya.

Dan akhirnya, seperti yang sudah diperkirakan, saya tidak bisa menahan kantuk yang teramat berat mengantung di mata ini. Saya tertidur tanpa disadari sekitar pukul 05.30 wib. Ah! Petaka. Janji pada pukul 08.00 wib menjadi sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Sedikit sekali peluang saya bisa terbangun pada pukul 08.00 ataupun satu jam setelahnya.

Pukul 07.00 wib, alarm berbunyi. Ada keajaiban. Alarm telah berhasil membuat saja terjaga dari tidur. Terjaga untuk mematikan suara alarm yang memekakkan telinga. Saya sadar atas pemberitahuan alarm itu agar saya segera bangun, mandi dan bersiap-siap. Tetapi begitulah, karena kantuk yang begitu enak saat disandarkan pada tidur, saya tidur lagi sambil berucap dalam hati, “Sebentar lagi akan ada suara alarm kedua. Sambil menunggu alarm kedua berbunyi, baiknya tidur lagi.”
Ya, berhasil. Saya tertidur lagi.

Pukul 07.10 wib, alarm kembali berbunyi. Kembali saya terjaga dari tidur dan kembali mematikan suara alarm bernada yang norak itu. Saya berpikir, berpikir untuk tidur lagi. Masih ada alarm yang mengingatkan waktu untuk bangun dan mulai bersiap untuk sebuah janji. Tak butuh banyak waktu, saya kembali tertidur. Selanjutnya, di sepuluh menit kemudian atau di saat alarm ketiga berbunyi, tindakan yang sama kembali saya lakukan.

Datanglah alarm ke empat di pukul 07.30 wib. Saya kembali terjaga. Sebagian hati saya berniat untuk mulai bangun dari tidur, mandi, lalu bersiap-siap untuk berangkat. Sebagian lagi menyuruh untuk menunggu alarm ke lima sambil tidur-tiduran. Yap, berhasil. Saya tertidur lagi untuk menunggu alarm terakhir.

Aneh. Pada saat itu saya merasakan tidur yang nyenyak dan lama. Apalagi dihiasi dengan mimpi-mimpi yang indah. Oh, begitu enaknya.

Akhirnya saya terbangun dengan sendirinya. Bangun dengan pertanyaan, “Kok tidak ada lagi terdengar suara alarm?”. Seketika saya terkejut. Pada saat menatap layar handphone, saya melihat jam telah menunjukkan pukul 11.00 wib. Oh NO! Segera saya menelpon seseorang tersebut. Nomornya tidak aktif. Saya cek lagi handphone, dan seseorang itu ternyata mengirim pesan kepada saya yang berisi kalimat begini, “Sepertinya janji tinggal janji. Aku sudah menunggu sejak pagi tapi engkau tidak datang juga. Nikmatilah tidurmu. Bye..”. Dia marah besar.

***

Saya benar-benar menyesali kejadian di pagi itu.Peringatan yang hadir dalam bentuk lima waktu tidak saya perdulikan. Saat satu waktu datang, saya matikan dan menunggu untuk waktu kedua sambil tetap larut dalam tidur. Begitu seterusnya hingga alarm habis dan saya terbangun di waktu yang tidak diharapkan. Habis sudah.

Saya termenung. Kejadian ini membuat saya berpikir tentang waktu dan peringatan. Karena saya mengetahui peringatan akan datang sebanyak lima kali, egopun memaksa saya untuk menyepelekan peringatan pertama, kedua, ketiga dan ke empat. Hasilnya, peringatan ke lima tidak lagi bisa membangunkan saya.

Menurut saya, kehidupan juga demikian adanya. Ada beberapa peringatan yang diberikan oleh Tuhan untuk masing-masing kita. Peringatan untuk membuat kita ingat atas sikap lupa diri yang sedang membelai jiwa. Seperti halnya alarm handphone saya, Tuhan juga memberikan peringatan sebanyak lima waktu. Ketika peringatan tersebut tidak diperdulikan, datanglah petaka yang berbentuk masalah atau musibah. Inti peringatan itu adalah untuk kembali membuat kita ingat dan biar kita bisa melawan lupa. Entah apa yang akan terjadi jika akhirnya datang peringatan keras juga yang juga tidak diperdulikan oleh mahkluk ciptaan-Nya ini.

Ah, sekarang bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Bubur harus tetap dimakan dari pada mubazir. Di hari-hari kedepan saya terus mencoba untuk mendapatkan maaf dari seseorang itu, dan saya juga berjanji untuk tidak begadang kalau besok paginya ada janji yang harus ditepati. Hm..

****
Padang, 5 Agustus 2015

Baca Juga Kisah Lainnya : Kisah Cinta Mengharukan, Sebelum Membaca Siapkan Tisu Dulu Ya