Cerpen: Ayah, Karena Dia, Aku Ada

1612

karena Dia, Aku Ada By Tuki

Asap mengepul di hidungnya, dengan kopi di atas meja, dan selimut tipis yang masih memilit tubuhnya, duduk di kursi ruang tamu. Begitulah sosok sahabatku di pagi hari. “Ayah” begitu aku memanggilnya. Terkadang aku benci dengan kebiasaan buruknya, mengawali paginya dengan membakar perlahan-perlahan bagian tubuh. Tapi, dibalik hal yang ku benci itu, ada hal yang membuatku merasa bangga akan sosok seorang ayah. Ayahku sekaligus sahabatku. Aku mulai sadar, ayah yang selalu bangun bagi, menyiksa tubuhnya sendiri, bahkan membahayakan kesehatannya, melakukan segala hal untuk kebahagiaan anaknya.

Ayah Karena Dia Aku Ada

Ku lihat saat ia mulai mencari peralatan kerja, menatanya dan mulai memasukkannya dalam tas kecil. Tas warna hitam yang menyimpan sebagian kebutuhan ayah. Hampir 18 jam sehari ia habiskan diluar rumah. Ayah bekerja tanpa mengenal lelah. Sudah berapa tetes keringat bahkan darah yang telah ia keluarkan. Ayah bekerja dari pagi hingga malam. Bahkan aku hanya punya kesempatan melihat ayah dipagi hari, dan ketika ia pulang akupun sudah terlelap dalam mimpiku.

Terkadang ayah seperti anak sekolah, setelah pulang bekerja atau bahkan sebelum berangkat bekerja, ia selalu membuka catatan kecilnya. “ini adalah tugas-tugas ayah yang harus ayah lakukan dan selesaikan besok” katanya ketika aku bertanya. Ya, tugas seorang pekerja bangunan menjadi seorang arsitektur bangunan dan sekaligus seorang kuli. Ayah dipercaya membuat rancangan desain bagunan oleh masyarakat di desaku. Dan sekaligus ayahku juga sebagai seorang kuli yang harus ikut mengerjakan tugas bangunan yang sangat kasar dan berat. Ia yang harus mendapatkan makian dari tempat ayah bekerja ketika hasil kerjanya tidak sesuai sang pemilik. Ayah harus membongkarnya, memperbaikinya sampai menjadi sempurna dan di inginkan sang pemilik tersebut.

Tangan ayah yang semakin kasar, mengelupas, menghitam dan matanya yang mulai merah karna percikan material bangunan. Tapi ayah tetap berkata baik-baik saja. Setiap pagi ia harus menetesi matanya dengan obat tetes mata. Ayah tak pernah memperhatikan penampilan tubuhnya saat ia bekerja. Tak pernah memakai wangi-wangian, baju yang rapi, sepatu bagus saat sedang bekerja. Tapi ayah menyempatkan waktunya setiap satu tahun sekali untuk membuat bajunya rapi, memakai wangi-wangian, mengoleskan lotion pada tubuhnya untuk menghadiri pengambilan rapot di sekolah. Ia tak ingin membuat anaknya malu dihadapan orang banyak dengan kondisinya.

Aku bangga! Mungkin itu salah satu kata yang dapat diungkapkan untuk sesosok ayahku. Begitu tangguh dan kuat dalam bekerja, ia tak hanya bekerja dari satu tempat, tapi ayah harus bekerja dari satu tempat dan pindah ketempat lain dalam satu hari. Semangatnya yang tak pernah padam, hanya untuk kebahagiaan anaknya. Menuruti semua keinginan anaknya. Ketika aku mulai merengek meminta sesuatu ayah selalu berkata “Iya”. Ketika aku mulai merengek lagi meminta sesuatu ia masih mengatakan “Iya, nanti ya”. Dan untuk kesekian kalinya ketika aku mulai lagi merengek meminta sesuatu ayah berkata “Iya, pasti nanti ayah turuti”. Bahkan ia tak pernah menolak dan membiarkan anaknya menangis.

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ayah tak lelah memikirkan pendidikanku. Ia bahkan tak mengizinkanku untuk bekerja membantu ayah. Tapi yang selalu ia katakan “sekolah”. Yaa meskipun hanya sebuah keluarga kecil dengan pendapatan dari mata pencaharian yang tak pasti, namun ayah selalu mengutamakan “Pendidikan”. Bahkan ia tak mengkhawatirkan biaya pendidikan yang akan ia keluarkan untuk anak-anaknya. Kata-kata yang selalu teringat dalam benakku adalah ketika ayah berkata “Pasti ada biaya, kalau untuk urusan pendidikan”. Ayah selalu percaya bahwa ia dapat memberikan pendidikan untuk anak-anaknya. Kerja keras, semangat, dan doa itu kuncinya.

Ia rela menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja, dan bekerja. Demi untuk keluarga terutama anak-anaknya. Meskipun ia harus terluka karena batu bata, mata sembab karena pasir, kaki berdarah oleh paku-paku besar, kulit kasar karena semen, kulit wajah ,tangan, kaki mulai menghitam karena panas dan keringat. Ketika yang lain dapat merebahkan tubuhnya ditempat yang nyaman, bermimpi indah dan terlelap dalam tidurnya. Ayahku masih berdiri tegak, melakukan aktivitas kerjanya dengan semangat. Rasa ngantuk, lelah, mungkin tak dirasakan lagi olehnya.

Disaat aku mulai jauh dari sosoknya, aku mulai mengenal dunia yang jauh lebih luas. Bahkan aku tak dapat lagi melihat sosok dengan asap yang mengepul dihidungnya, dengan kopi dan selimut tipisnya setiap hari. Aku mulai merindukannya. Merindukan sosok yang begitu kuat dan tangguh. Merindukan tulang-tulang wajahnya, tangannya yang mulai keriput, keras dan mulai menghitam.

Disaat itu pula, ayah yang berada jauh disana masih dan tetap bekerja keras, bahkan sangat keras. Kebutuhan mulai bertambah dan meningkat itu sebabnya ayah bekerja lebih keras lagi. Lelah? Pasti ! tapi ayah tak pernah berkata Lelah. Namun, ditengah-tengah pekerjaannya, ayah tak pernah lupa untuk meluangkan waktunya untuk menanyakan kabar anak-anaknya. Ayah tak pernah merengek ketika ia sedang sakit, bahkan ia tak mau berbicara dengan anaknya yang jauh disana ketika ia sakit. Karena ayah tak ingin sedikitpun menciptakan kekhawatiran anaknya.

Ketika aku mulai mengenal sahabat-sahabat baru, sempat aku melupakannya. Tapi ayah meningatkanku, menyadarkanku, mengajakku mulai bercengkrama hingga aku mengingat pengorbanan-pengorbanannya dulu. Sesibuk apapun ayah, ia tak pernah melupakan anak-anaknya. Ketika aku mulai membangkang, menjadi anak nakal. Bahkan ia tidak membenciku. Mungkin hati ayah sakit, namun ia tidak pernah sakit hati bahkan membenci anak-anaknya. Ketika aku sakit ia selalu mengkhawatirkanku, ketika aku membutuhkannya ia selalu ada, menyempatkan waktunya untuk mendengarkanku. Keluh kesahku, masalah-masalah kecilku.

Disaat aku mulai menangis, merasa lelah dengan kehidupanku, dengan tugas-tugas sekolah dan kuliah. Ayah selalu berkata “Kamu Bodoh, kamu anak yang paling bodoh jika menangis hanya karna itu”. Dulu aku berpikir, ayah jahat, keras, ia tidak tau betapa sulitnya tugas kuliah, karena ia tak pernah kuliah. Tapi kini aku sadar, justru tugas seorang ayah lebih sulit dari tugas-tugas kuliah, skripsi, tesis bahkan disertasi. Tugas ayah adalah bekerja keras untuk keluarganya, yang bahkan lebih sulit daripada tugas-tugas kuliah.

Aku sadar, ketika ayah melarangku berteman dengan sembarang orang. Karena ia tidak ingin anak yang dicintainya terjerumus dalam hal-hal negatif. Dalam hati kecilnya, kurasa ayah juga tak ingin anak-anaknya melupakannya karena pergaulan yang tidak baik. Ketika aku mulai meluangkan banyak waktu untuk teman-temanku bahkan teman spesialku, kurasa ayah mulai sedih. Karena anaknya tak lagi bercengkrama dengannya. Anaknya tak lagi bercerita kepadanya dan mulai banyak bercerita dengan teman-teman dekatnya. Saat aku mulai bersenang-senang dengan teman-temanku, aku melupakannya. Tapi aku yakin dalam setiap detik ayah tak pernah melupakanku.

Selama ini aku mencari banyak teman, berharap mereka menjadi sahabat sejatiku. Sekian banyak teman yang datang dan pergi. Hanya ada satu sosok yang tak pernah datang dan tak pernah pergi. Ia ada dan karenanya aku ada. Sesosok yang yang menjadi sahabat setiaku, tulus, tak meminta balas jasa. Ia hanya menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang lebih baik darinya. “Ayah” begitulah aku memanggilnya.

Terimakasih ayah,
Telah menjadi sosok sahabat setiaku,
Sahabat yang melindungiku dan membuatku merasa nyaman,
Karenamu aku ada,
Menjadi peri kecil yang selalu merengek dan menangis
Namun, kau tak pernah membiarkanku merengek dan menangis lebih lama,
Kau adalah sesosok sahabat
Yang merasakan pahit dan memberikan yang manis untukku,
Mengingatkanku ketika aku mulai melupakanmu,
dan
setia menungguku menjadi orang yang sukses.

Cerpen Kiriman dari Tuki – Follow Twitter penulis di @tukhiee.

SHARE
Previous article9 Tips Bersikap Saat Kamu Dibully
Next articleBisa Dicoba Nih, 7 Cara Mencegah Rambut Rontok Pada Pria
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com