Diary Kokom Komariah

Buku Diary Komariah
Buku Diary Kokom Komariah

Januari, lewat satu hari, 2007,

Nama gue ndeso banget. Kalau meminjam istilah Tukul Arwana, katro banget. Tapi tak mengapalah yang penting nama ndeso, rezeki kota..he..he..

Nama gue memang bukan kayak nama-nama orang-orang kota yang ngetren sekarang ini seperti Agnes, Clara, Nafa, Luna, Amel dan lain sebagainya. Tapi tidak apalah. Ngapain juga protes tokh itu nama paten dari orang tua gue. Katanya sih dari Kakek. Duh, kakek ngasih nama kok ndeso. It’s Ok, harus dihargai.

Ngomong-ngomong soal protes, gue pernah ngambek menuntut pergantian nama, karena walau besar di desa, temen-temen gue namanya bagus-bagus. Ada yang namanya Susi, Lina, Tina atau Amalia. Waktu protes gua mau masuk Es em pe. Ya, tengsin ceritanya punya nama ndeso alias nama jaman baheula. Tapi waktu itu yang nasehatin nenek gue. Kebetulan gue dibesarkan oleh Nenek en Kakek tercinta dari Ibu. Sedang Ibu yang gue tahu cuma setaon sekali atau pas lebaran doang pulang ke desa. Praktis cuma dengan Nenek ma Kakek gue menghabiskan masa kecil gue sampai Es em A malah. Selebihnya Ibu lebih banyak di kota, jadi pembantu di keluarga kaya, seorang Kepala Departemen basah negeri ini. Kalau Bapak, kata Ibu sudah meninggal di Malaysia dan dimakamkan disana pas gue masih dikandungan.

Kembali ke laptop..eh ke soal nama. Menurut Nenek, kalau gue terjemahin maksudnya begini; “Nama itu harus mencerminkan bibit, bebet dan bobot si pemiliknya. Jadi jangan keblinger ngasih nama yang menyalahi ketiga unsur tersebut. Ntar bisa ketulah karena keberatan nama. Si anak bisa sakit-sakitan kalau nama salah diberikan. Entahlah bener atau enggaknya pendapat si Nenek. Tapi lama kelamaan, rasa minder itu hilang juga. Walau sering muncul sesekali saat gue harus memulai sebuah relasi baru.

Huuuh kayaknya mata sudah ditarik-tarik sang kantuk nih. Terima kasih diary, masih mau menampung celotehan gue. Malam ini tercatat, terasa begitu dingin. Sepertinya akan hujan. Aaah..bener saja, sang hujan panjang umurnya, baru di omongin udah nongol menderas turun. Wuuaah… gue ngantuk. Gue mau mimpi indah malam ini, Tuhan…

Januari masuk ke pertengahan, 2007

Diary…

He..he…jadi malu nih mau curhat. Episode catatan kali ini, gue lagi jatuh cinta alias ketiban asmara.
Oo soal jatuh cinta, sebenarnya ini cinta lawas tapi terulang lagi. Ibarat membuka buku, gue kembali membaca buku yang sama dari halaman awal pula membacanya. Enggak nyangka yah…ternyata dunia bener-bener selebar daun talas. Bayangkan coba, cinta monyet gue terulang lagi, pas gue dewasa jadi manusia he..he…Indah bukan!
Namanya Bagus, anak Pa Lurah eh mantan Pa Lurah dikampung nenek gua dulu. Tau enggak, Aa Bagus ini adalah orang yang pertama nyium gue. Dulu banget, pas gue kelas satu es em pe. Malu gue nyeritainnya. Gue di cium dipinggir pinggir sungai dekat jejeran rimbun pohon bambu yang banyak tumbuh dipinggir sungai.

Waktu itu matahari malu-malu mau pamit tenggelam. Di curi-curi lagi. Tapi kelas dua es em pe gue putus. Habis si Aa nih punya gebetan baru, Amalia, putri Pa Camat. Dasar playboy cap katro. Tapi cinta memang rabun, kita ketemu lagi, pas udah pada “bangkotan” gini he..he..Lucunya nih, si Aa ditemukan lagi di pembaringan ranjang pasien Rumah Sakit. Katanya karena jatuh dari motor. Kasian ya si Aa. Oh.. nama lengkap si Aa adalah Ir. Bagus Perdanakusuma. Tukang Insinyur di Departemen PU di kota tempat gue tinggal sekarang ini. Dari rumah sakit beranjak ke malam minggu. Yang embuat hati ini dag dig dug der, si Aa sudah melamar gue, bahkan mau dikenalin ke ortunya bulan depan. Padahal gue-kan udah kenal dengan mertua eh camer maksudnya. Bapaknya dulu kan pejabat nomor satu dikampung, waktu gue kecil. Udah dulu yah…

Januari akhir 2007

Diary…

Hari ini, hari bahagia. Juga hari ini yang membuat gue tidak karuan. Ibu akhirnya mau cerita tentang siapa gue sebenarnya. Bapak gue ternyata tidak meninggal di negeri jiran. Bapak gue masih hidup, sekarang berada di Rutan Salemba tinggalnya alias ditahan karena kasus korupsi. Ternyata, bapak gue itu majikan Ibu gue dulu. Tapi mereka terlibat “cinta terlarang” sampai melahirkan gue. Entahlah gue seneng, sedih atau marah. Yang pasti sekarang gue tau siapa bokap kandung gue. Namanya Raden Mas Sartono Prihandoko. Jadi gue gini-gini masih keturunan darah biru dari garis bapak. Ngomong-ngomong, pantesan bapak kepincut sama Ibu, abis Ibu cantik sih. Sekarang aja garis kecantikannya menurun ke gue, putri semata wayangnya. Pantesan juga si Aa Bagus susah melupakan cinta pertamanya..he…he…

Mingu depan, Ibu, gue sama Aa Bagus akan menengok bapak di “rumahnya sekarang”. Mau minta restu. Kasian bapak sejak ditahan, nyaris keluarganya menjauh semua. Jadi praktis yang masih setia mencintai bapak cuma Ibu dan gue, “putri terlarang-nya” yang rajin menengokin beliau. Kalau melihat kesetiaan Ibu, gue enggak tau itu cinta buta atau cinta sejati. Yang pasti sekarang gue tau siapa bapak gue. Dan sekaranglah saatnya gue merajut bakti kepada kedua orang tua gue secara lengkap.

Januari sudah lewat seminggu, masih ditahun 2007

Nama gue, Kokom Komariah, seorang dokter umum di sebuah Rumah Sakit Pemerintah. Calon Istri dari Insinyur Bagus Perdanakusuma. Calon mertua gue mantan lurah yang dihormati merangkap juga juragan gabah dikampung. Bapak gue seorang Raden Mas. Ibu gue, Istri setia. Bahagianya gue. Dua bulan lagi gue menyandang gelar Nyonya Insinyur Bagus. Doakan yah..semoga gue jadi Istri yang salehah….

Cipete Utara 2007

Nama Penulis : Agus Supriyatna
(Wartawan Media Cetak di Jakarta)

Alamat KTP : Jl. Haji Jian No. 22 RT/RW 004/007, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat tinggal sekarang : Perumahan Sawangan Regensi, Blok K Nomor 19, Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat

No HP : 083814705656
Email : agusupriyatna@gmail.com
Twitter : @rakeyanpalasara

Other Cerpen : KISAH NYATA BEKAL TERMAHAL DARI BUNDA UNTUK KU