Cerpen: Cahaya yang Tak Diinginkan

4247

CAHAYA YANG TAK DIINGINKAN

Apa jadinya ? ketika benih-benih cinta yang sudah mengakar begitu kuat menjadi misteri rasa yang seakan tiba-tiba lenyap saat disandingkan dengan prahara keluarga, harta dan tahta. Dalam prahara dan misteri rasa ini siapa yang jadi korban dan siapa yang mengorbankan hingga muncul berbagai sosok baru. Akankah sosok baru ini menggilas habis mimpi yang hampir nyata dan mencabut bersih akar yang sudah tertanam kuat ?

Gambar Cerpen Cahaya
Foto Ilustrasi Internet

Stiani sosok gadis berjilbab yang berasal dari keluarga sederhana, tapi jalan hidup menghantarkannya pada jejak – jejak yang harus ditapakinya. Entah keajaiban apa yang membawanya terbang kesebuah kota pelajar “Yogyakarta” untuk melanjutkan pendidikan. Namun gadis ini begitu terpaut akan keromatisan cintanya, cinta yang dibangun sejak masa putih abu-abu hingga benih tersebut tumbuh subur dan mengakar kuat yang mampu ia dan Setiawan bina mencapai tahunan, jarak yang terbentang luas dalam hubungan yang memisahkan raga mereka tidak cukup mampu menggoyahkan rasa cinta, sayang, yang sudah terpatri begitu erat Pun demikian halnya dengan setiawan sosok mahasiswa yang gigih dan pekerja tangguh, ia bekerja disebuah instansi pemerintah dan sambil menjadi mahasiswa disebuah universitas swasta. Setiawan sangat menggenggam erat kesetiaan terhadap stiani. Kesetiaan itu tidak pernah diragukan lagi meski kadang banyak hal yang menikam emosi, godaan yang melelahkan diri. tapi di setiap bayangan kelabu yang mengusik kepercaayaan terhadap stiani menghampiriny. Ia tepis dengan mengumpulkan puzzle puzle kerinduan dan menyatukannya menjadi potret asa dimasa depan, perencanaan pondasi untuk bangunan istana suci mereka nanti. Sungguh kisah cinta mereka bak aliran keromantisan dan komitmen yang menyatu menyanyikan lagu-lagu sahdu tanpa hulu.

Alam dan isinya memang slalu menyimpan misteri. Tapi “CINTA” kata yang begitu sarat akan makna dan sangat erat dengan organ kecil yang bergelar “HATI” ternyata jauh lebih banyak menyimpan misteri dan kejutan akan kekuasaan sang Maha Kuasa lewat Skenario-Nya yang menakjubkan. 

Aliran keromantisan stiani dan setiawan bak gemercik ombak yang menghempaskan batu karang, menyanyikan lagu-lagu kerinduan yang seakan mampu memecahkan kesunyian malam. Aliran ini tetap berjalan pada lajurnya hingga stiani selesai merampungkan pendidikan dan meninggalkan kembali kota Yogyakarta.

Stiani ?
Akan kah cinta yang sekokoh karang dilautan berakhir pada sebuah ikatan atau hilang lenyap sebatas persimpangan ?

Yah entah ini hanya sebuah kebetulan atau rencana ketentuan sang pemilik semesta. ada suatu alasan yang membuat stiani harus kembali ke kota yogyakarta. “Klik” stiani menekan tombol call diponselnya, tidak butuh waktu lama diseberang sana setiawan langsung menerima panggilan dari stiani. “setiawan 2 hari lagi aku harus kembali ke jogja mengambil STR (sejenis surat yang harus dimiliki oleh bidan)”. “hanya mengambil STR kan sayang ? berarti kamu hanya butuh waktu paling lama 2 minggu dan akan kembali kerumah lagi kan ?”. “In sya allah tapi aku gak bisa menjanjikan pasti akan pulang atau gaknya, tapi tenang akan aku usaha hanya 2 minggu saja dijogja. Oh ya kira-kira besok kamu bisa menemaniku beli tiket ?”. “oke sayang besok pagi jam 9 aku jemput dirumah”. “oke, thank you, assalamua’alaikum.”

Siapa yang akan menduga keberangkatan stiani ke jogja kali ini akan membawa perubahan besar bagi hubungannya dengan setiawan. Lagi-lagi entah kebetulan atau memang sudah suratan. Ada sebuah alasan yang mengubah rencana awal. suatu keadaan yang mengharuskan stiani tidak bisa segera kembali ke kampung halamannya dan dia memutuskan untuk bekerja di sebuah klinik disana (stiani adalah seorang bidan). Dengan perasaan ragu, stiani mengumpulkan puing-puing keberanian untuk menelpon setiawan “tut..tut..tut… hallo assalamualaikum sayang, gimana udah hampir 2 minggu udah pesen tiket pulang?”. “Setiawan maafin aku, tapi aku mohon kamu gak usah marah ya sepertinya aku blom bisa pulang dan aku harus kerja di klinik sini.” “stiani aku bisa mengerti dan memahami jika dulu kita harus berpisah jauh karena kamu kuliyah disana apa sekarang aku masih harus menerima kamu kerja disana, emang ditempat kita gak bisa ?”. “setiawan bukan tempat bekerja masalahnya ada sesuatu yang harus aku selesaikan disini dan in sya allah sebelum lebaran aku akan kembali, itu bukan waktu yang lama, hanya sekilas jika dibandingkan dengan waktu yg sudah kita jalani disaat masa-masa kuliyahku”. “hmmmm .. jika itu udah jadi keputusanmu aku hanya bisa menerima sayang, tapi ingat jangan nodai kepercayaanku”.

Waktu berjalan berputar sesuai porosnya begitupun cinta stiani dan setiawan semakin kokoh, bahasan kapan pulang dan bayangan mimpi-mimpi rajutan ikatan pernikahan sudah jadi makanan sehari-hari bagi mereka meski hanya dibahas lewat telfon. Tiada hari yang berlalu tanpa sapaan dan bahasan tentang rancangan mahligai suci yang ingin mereka wujudkan nanti. Kesibukan rutinitas mereka dalam bekerja tidak mampu melenyapkan waktu mereka untuk saling bertukar cerita. Tapi manusia mana yang mampu menghindari takdirnya. Lagi-lagi entah ini sebuah kebetulan atau rancangan sang maha kuasa seperti biasa jam 8 teng stiani bersiap-siap berangkat keklinik untuk dinas pagi, tapi hari ini ada sesuatu yang tidak biasa tanpa sengaja ponsel stiani ketinggalan dirumah, tidak ada firasat apapun detik demi detik berlalu jam dinas pun berakhir. Tapi rekan kerja stiani datang terlambat karena suatu alasan sehingga stiani baru bisa pulang setelah jam 15.00 wib, sesampainya dirumah (kontrakan). “stiani ada puluhan panggilan di hanphonemu dari setiawan dan sepertinya ada beberapa sms juga”. Celoteh Seorang gadis berhijab yang merupakan teman stiani satu rumah yaitu rani, seraya menyerahkan ponsel ke stiani.

Tidak ada rasa atau dugaan sedikitpun, tapi siapa yang akan menduga kejadian ini yang akan menjadi awal terombang ambingnya perahu cinta stiani dan setiawan, beberapa saat kemudian “ting” sebuah pesan masuk diponsel stiani, “stiani hari ini semua kepercayaan dan rasa cinta, sayangku kepada mu luntur dan hilang”. Sebuah pesan singkat dari setiawan yang menggores begitu dalam luka di hati stiani, rasa tidak ingin mempercayai bahwa sms itu nyata bergejolak dikalbunya, bagaimana tidak cinta mereka sudah dibangun diatas lintasan waktu yang tidak bisa disebut sebentar akankah harus kandas hanya dengan kejadian kecil ini, ah tidak pondasi cinta mereka terlalu mahal untuk digadaikan dengan duri sekecil ini.

Semenjak hari itu, Stiani mencoba memahami setiap gejolak emosi yang setiawan luapkan, tidak jarang kata-kata kasar, hinaan, atau bahkan uacapan lembut tapi meyakitkan seringkali dilempar oleh setiawan. Tapi stiani bertahan pada kesabarannya dan mencoba menafsirkan semua kelakuan setiawan hanyalah emosi sesaat karena kesalahan pengabaian telfonnya kemaren. Meski kadang kalbu memberontak tidak seharusnya setiawan memeperlakukannya seperti itu hanya karena mengabaikan telfonnya sehari Dan tembok kesabaran stiani hampir hancur saat membaca sebuah pesan singkat dari setiawan “stiani aku bingung tidak ada rasa untuk mu lagi tapi aku akan tetap menepati janjiku manikahimu, hanya sebatas menepati janji bukan karena cinta”. tanpa terasa pertahanan stiani runtuh buliran bening pun menetes tanpa komando dari matanya, sanubarinya merintih apa artinya jika semua hanyalah sebatas janji, semua mimpi yang sudah dirajut bersama hanya bisa tersimpan dipeti janji, apa raga dan jiwa ini hanya boneka tanpa suara dan makna.

Stiani menelpon setiawan. “kamu adalah orang terjahat yang pernah saya kenal” ucapan itu terlontar dari mulut stiani dengan nada serak karena tidak bisa menyembunyikan tangisnya dan langsung memutuskan telfon. Entah alasan apa yang membuat setiawan berubah pikiran cinta atau hanya iba semata, dia minta maaf, dan meyakinkan stiani bahwa ia akan mempertahankan cinta mereka dan berusaha mengembalikan rasa sayangnya tapi dengan satu syarat stiani harus pulang dan meninggalkan jogja. Setiawan menyatakan rasa percaya, cinta dan sayangnya akan kembali 100% dengan pertemuan. Meski luka masih terbuka stiani mencoba membalutnya dengan ketulusan, membiarkan kebodohan mengitarinya atau menggenggam kecerdasan untuk alasan cinta, saat itu logika dan perasaannya berkecambuk tanpa mengikuti alur. Dunia cinta ternyata tak selamanya indah, hati yang sudah tergenggam, jiwa yang telah menyatu tidak dapat melawan takdir-Nya.

Masih dalam suasana serba menggantung, kondisi yang mengharuskan stiani untuk meningkatkan tangga-tangga kesabarannya, memperkuat pegangan ketulusanya dan kondisi yang meminta setiawan menggeret dan menyatukan kembali rasa sayang dan cintanya untuk stiani, meski saat itu suasana yang tercipta tidak bisa dibilang romantis tapi tidak juga jika diartikan kandas. Dalam waktu serupa ada kabar bahagia untuk stiani dan setiawan, meski bahagia yang tak bisa dinikmati bersama karena jarak memisahkan mereka, saat itu setiawan akan segera mengenakan toga, meraih sarjananya. Lewat ucapan lembutnya stiani mengirimkan rangkaian kata ucapan selamat untuk setiawan. Bagaimana tidak satu toga merupakan kebahgiaan bersama mereka berdua gelar yang kini disematkan pada setiawan tidak lepas dari peran dan support stiani begitupun sebaliknya gelar yang melekat di stiani peran dan support setiawan ikut andil didalamnya. Namun keharuan dan kebahagian ini tidak mampu mencairkan kebekuan rasa yang tercipta diantara mereka.

Stiani mengumpulkan bongkahan bongkahan keikhlasan untuk sebuah alasan. yah dia memilih memprioritas menyelamatkan hubunganya dengan setiawan dan memutuskan kembali ke kampung halaman meninggalkan pintu kesemapatan karir dengan harapan semua akan kembali seperti semula. Tapi suratan takdir berkata lain disana ternyata gelombang panas akan segera menerpa pondasi cinta dan komitmen mereka. Sejak kembalinya stiani kekampung halaman tidak ada yg berubah dari setiawan justru semakin aneh, sinyal menjauh mulai terbaca tapi banyak hal yang membuat bingung, kadang radarnya begitu jauh tapi kadang setiawan mucul mendekat dengan membawa gunungan harapan. Teka teki itu semakin menghantui padahal saat itu lintasan waktu untuk menciptakan asa dan cita mereka membangun sebuah istana mahligai suci semakin mendekat, yang terjadi malah sebaliknya berbagai praha muncul dan berbagai nama-nama baru masuk dan terkuak satu persatu.

“PERJODOHAN” sebuah bongkahan batu besar menerpa menjatuhkan berbagai serpihan serpihan lainnya. Sebuah kata yang menyeret banyak kata lainnya, mulai dri wanita, harta, tempat tinggal, tahta dan rupa menjadi anak sungai yang bisa meluap kapan saja dan menghanyutkan segalanya. Berbagai rasa bergelora didada bagaimana mungkin sebuah lembaran yang dibangun bertahun-tahun lamanya akan dipisahkan oleh sebuah gunting dalam sekejap. Ditengah kegamangan hubungan mereka yang sudah diambang kehancuran ditambah sifat setiawan yang kadang menguatkan kadang melemahkan. Yah diposisi ini hati wanita lah yang banyak menerima peran, stiani masih tetap memainkan lakonnya pada kesetiaan, ketulusan dan keikhlasan menjalankan perannya sesuai alur perencanaan, tidak jarang kadang rasa emosi, airmata atau kadang kemarahan tertahan ia tutupi dengan bingkai harapan yang semakin samar. Tapi dalam Susana yang tidak menentu ini setiawan menghiasi bingkai samar agar terlihat lebih mempesona dan menguatkan keyakinan stiani, setiawan berjanji perjodohan ini hanya sebuah masalah bukan ketokan palu akhir.

Ucapan dan kenyataan berbeda haluan sikap yang ditunjukkan oleh setiawan semakin menggunungkan pertanyaan sekarang berbagai keraguan ia ungkapkan, ia seakan akan mangibaratkan dirinya berada dikondisi harus mematuhi. Disituasi yang semakin tidak menentu stiani memutuskan untuk masih bertahan dengan kesabaran dan belum beranjak pergi. Setiawan pun masih terus memompa harapan bahwa perahu mereka tidak akan tenggelam apa dan bagaimanapun caranya.

Semua memang sudah menjadi ketetapan tidak butuh alasan jika itu memang sudah suratan takdir seberapa kuatpun, seberapa lama pun dan seberapa besarpun tetap lah akan bergeser jika disandingkan dengan keluarga, wanita dan harta. Keadaan stiani dan setiawan semakin mencapai pintu, entah pintu bersatu atau pintu pengakhiran bagi mereka yang nantinya akan berending pada pengucapan sebuah ijab qabul. Yah ijab qabul bagi setiawan namun bukan untuk stiani ……..

Cahaya itu semakin menjelaskan titik terang ,, menjelas kan posisi memilih bagi setiawan dan posisi yang mengharuskan stiani menerima dengan keikhlasan hasil pilihan setiawan. Semakin hari setiawan semakin menunjukkan keraguannya dan berbagai nama hadir bak kucuran kerikil kerikil tajam yang semakin menghantam pohon cinta mereka, ibarat ombak yang siap sedia menggilas gunung mimpi dan asa mereka. Mulai dari sena gadis kaya dan mahasiswa universitas ternama dipropinsinya, rini gadis pesantren, lona sosok manis rekan kerjanya, hingga putri sosok wanita cantik yang satu desa dengan setiawan.

Hari itu pertengkaran pun sudah tidak bisa dihindarka lagi, dengan tetap berkata sopan stiani berucap “setiawan aku hanya manusia biasa yang butuh kepastian, bukan hanya harapan yang kadang datang tapi kadang hilang, aku tidak meminta harus memilihku dari sekian banyak nama yang hadir disisi mu, entah itu nama yang disuguhkan keluargamu atau nama yang datang dari hasil perjumpaanmu, yang aku inginkan kamu memilih dengan tegas bukan menggantungkan dengan tali yang bahkan tak terlihat”. “stiani apa yang aku gantungkan, aku pun berada diposisi bingung, disatu sisi aku ingin mempertahankan cinta kita, tapi disisi lain aku harus memainkan logikaku, hidup itu butuh tapak, aku tidak ingin nanti bersatunya kita jadi tepuk tangan sinis dari keluargaku, tapi aku juga gak ingin melepaskan kamu”. “setiawan itu bukan logika tapi itu adalah keegoisan, ya sudah jika memang tidak ada celah lupakan saja”. “stiani maafin aku mulai sekarang aku tidak akan mengikatmu lagi aku memberi sayap kebebasan bagi mu untuk menerima lelaki lain tapi aku berusaha semampu ku untuk tetap mempertahankanmu”.

Luka, sekarang hanya itu yang tersisa, stiani duduk terpaku cahaya itu sudah semakin tampak tapi itu bukan cahaya yang ia inginkan, cinta, sayang yang mereka rangkai dan dihiasi dengan asa kebersamaan ternyata harus terhenti. “tring” sebuah pesan singkat dari setiawan “stiani maafin aku, cerita dan mimpi kita harus terhenti. Aku hanya mencoba untuk berbakti tapi stiani yang berakhir hanya cerita dan mimpi kita tidak dengan cintaku untukmu, sampai kapanpun mungkin tidak akan pernah ada yang mampu menggantikan kamu di hatiku, oh ya seminggu lagi aku akan menikah dengan putri”. Tanpa terasa buliran bening berjatuhan dimata stiani ibarat hujan yang tiba2 menyerang bumi. Dalam keterpakuannya entah bisikan apa yang menggerakkan kakinya melangkah untuk mangambil wudhu ia sentuh seperangkat mukena dan sholat kemudian ia mengambil mushaf Al-Qur’an yang merupakan salah satu hadiah ulang tahunnya dari setiawan setahun yang lalu.

Ya Allah bukan cahaya ini yang aku inginkan sebagai jawaban dari teka teki dan praha ku dan setiawan, tapi teguran mu ini begitu lembut hingga menyentuh kalbuku, aku yang salah telah memprioritaskan sesuatu sebelum waktunya. Aku terlalu sibuk memikirkan hati dan cinta setiawan memikirkan cara untuk mewujudkan asa yang pernah kami rajut dalam mimpi untuk menyatakannya dalam mahligai suci, hingga melupakan bahwa engkau pemilik hatinya engkau lah pemilik cinta itu dan engkau lah yang memegang semua kendalinya. Sekarang hamba menyadari bukan setiawan yang salah dan juga bukan cinta diantara kami tapi hambalah yang salah waktu dalam mengekspresikan cinta.

Seminggupun berlalu stiani masih terjebak dalam keterpakuan dan kekecewaannya dan setiawan berada dalam persiapan pernikahannya. Malam itu suatu kejadian menjadi tonggak sinyal yang memberitahu stiani hari pernikahan setiawan. Tanpa disengaja lena seorang teman SMA stiani menelfon. “stiani apa kabar ? dimana sekarang oh ya kamu sama setiawan sudah putus ?”.

“Alhamdulillah baik lena, kamu apa kabar, aku sekarang dirumah, hmmm kenapa memangnya sama setiawan”.” Stiani maaf kamu gak terluka, malam ini setiawan menikah dengan putri gadis satu desa dengannya”. Brekkkkkkkk meski sudah mengikhlaskan munafik jika stiani tidak merasa sakit, sakit yang begitu menghujam tapi ia tetap harus tegar “barakallah buat setiawan lena, itu adalah jodoh dan takdirnya, aku dan setiawan udah putus”. “kenapa kalian putus bukan nya dri dulu hubungan kalian baik-baik saja, sayang sekali hubungan yang hampir 8 tahun harus kandas dengan bersanding bersama yang lain”. “hmmmm itu lah takdir lena”.

Tanpa komando stiani langsung mengirim sebuah pesan singkat ke setiawan “selamat ya untuk hari pernikahan mu malam ini, kanap gak ngasih tau kalo ini hari pernikahanmu”. Tring tring sebuah pesan singkat masuk diponsel stiani “maafkan aku stiani aku melakukan semua ini hanya karena ingin berbakti kepada orangtuaku, ikhlaskan kepergianku”.

Ditengah hujan disebuah rumah berlangsung sebuah pernikahan ya pernikahan setiawan dan putri, samar samar proses ijab qabulnya terdengar oleh seorang wanita berhijab yang berdiri terpaku sedikit jauh dari pintu rumah setiawan, sepasang mata milik stiani menyaksikan proses ijab mantan kekasihnya. Ketika sebuah kata “SAH” diucapkan secara bersamaan oleh segenap yang hadir. Stiani beranjak membalikkan tubuhnya yang hamper kuyup dibasahi hujan dan menjatuhkan sebuah foto “foto wisuda setiawan”. Ia melangkah gontai di tengah hujan menjauh dari keramian pernikahan. Dengan tangan gemetar di seka nya tetesan bulir bening di pipinya dan ia sunggingkan senyum.

Setiawan aku tidak peduli prahara yang terjadi diantara kita, dan harapan harapan yang kamu tanamkan disaat perahu kita terombang ambing serta alasan alasan yang kamu ucapkan itu sebuah kebohongan, sandiwara atau kebenaran. Yang aku tau inilah cahaya jawaban dari prahara yang terjadi. Memang awalnya cahaya ini tidak aku inginkan, cahaya ini menjadikan aku sebagai korban. Tapi terlalu naïf jika hanya aku yang jadi korban. Mulai sekarang aku akan melihat dari sudut yang berbeda, cahaya yang tidak diinginkan ini aku ibaratkan sebuah penyelamat teguran lembut dari Allah bahwa kekuasaan dan ketentuannya lah final semua kehidupan manusia. Tidak ada yang salah dengan pertemuan kita, rasa yang kita miliki, tapi waktu mengekspresikan rasa lah yang salah, kita telah melakoni nya sebelum waktu yang sah. Semua ini telah menyadarkanku. Mungkin aku dan kamu hanya ditakdir kan bersama disaat masa masa berjuang. Dan tidak ada yang bersalah dalam lingkaran prahara kita. Ya Allah ampuni dosaku dan teguh kan aku dijalanmu agar aku tidak terjebak dalam cinta yang salah lagi …..

Cinta ? prahara ? stiani ? setiawan ? putri sosok baru yang telah menggilas mimpi dan mencabut bersih akar yang sudah tertanam kuat diantara stiani dan setiawan melalui skenario-Nya. ~Karya : Destia Onyzuka~

Baca Cerpen Lainnya:

WANITA BERKERUDUNG HITAM

SHARE
Previous articleKelebihan dan Kekuranga ZTE Blade A5
Next article8 Cara Agar Berhenti Merokok Dengan Mudah
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com