Cerpen Dinda Kecewa BeratCerpen Ditulis dan Dikirim Oleh Annisa El-Dias Rahmi

Mahasiswi STKIP PGRI Sumatera Barat

Seperti biasanya setiap hari Sabtu Dinda pulang ke kampung halaman. Saat-saat seperti itu sangat membahagiakan hatinya, karena dapat berkumpul bersama anggota keluarganya. Bisa saling bercanda, bersenda gurau, dan yang paling berkesan adalah makan bersama dengan lauk baru bersama sayur segar. Maklum anak kost terbiasa makan dengan lauk yang hanya berganti dalam seinggu itu dua kali. bahkan jarang sekali nasi dibasahi oleh sayur.

 

 

Nenek dan Kakeknya cukup bangga dan bahagia menanti cucunya yang pulang dari rantau. Dinda meninggalkan kampung halamannya demi menimba ilmu di negeri orang untuk menggapai cita – cita dengan harapan masa depan yang lebih baik. Sesuai dengan cita citanya yang ingin mengambil S2 di Turki.

 
Pagi itu merupakan hari yang paling ditunggu tunggu. Namun hari itu begitu melelahkan, ada tiga ulangan harian sekaligus. Wahh gawat.. Memasang target pada saat – saat tertentu demi persiapan ujian memiliki peran yang cukup besar, namun semalam Dinda tidak sempat mengulang pelajaran karena penyakit kepalanya senantiasa menyinggahinya kapan dia mau. Hal itu juga barhubungan dengan matanya yang telah minus tiga koma tujuh, parah. Akibatnya, Dinda tidak bisa menyelesaikan jawabannya dengan baik, masih banyak soal yang belum terjawab, ditambah semalam kurang persiapan. Dinda sangat pusing kala itu, dia hanya terdiam disudut kelas, dengan harapan agar ia tidak masuk zona dibawah KKM istilahnya remedial.

 

Zara, teman sebangkunya tiba tiba datang dan mengajaknya untuk makan dikantin belakang. Awalnya Dinda tidak mau ikut. “Din.. ayolah… tak perlu dipikirkan masalah nilai. Pujuk Zara. “Ihhhh.. untuk apa sih sebenarnya kita ujian?? saya muak Za” jawab Dinda dengan nada tinggi. “Dengan ujian itu akan semakin mematangkan kemampuan kita Din, tidak perlu jadi bahan pikiran, nanti kamu sakit. Ayo kita makan??” balas Zara sambil menenangkan Dinda. Akhirnya kedua sekawan ini menuju kantin Bu Sri.

 

Selesai makan, Dinda pun kembali kaget, dengan rasa malu Dinda mengatakan kepada Zara, bahwa uang jajannya hilang. “Za.. uang saya hilang!”. “Kok bisa? Hm,, pakai uang saya saja” balas Zara. Ternyata Dinda tidak salah pilih teman, Zara memang anak yang baik. Ia juga berasal dari golongan keluarga berpendidikan dan terpandang. “O.ia, mungkin ketika saya mengambil handphone tadi, uang saya tercecer…” Dinda kembali mengingat. Keduanya pun mencari uang tersebut, namun mereka tidak menemukannya.

 

Belum habis penderitaan Dinda, sewaktu dijalan menuju pulang, tiba tiba motor Dinda bannya bocor. Akhirnya Dinda mendorong motornya lumayan jauh mencari tempat tambal. Ternyata setelah diperiksa si tukang bengkel, bannya terlalu parah, sehingga harus diganti, mana uang Dinda tadi hilang di sekolahan. Terpaksa Dinda menggadaikan sim-nya, hmmmm memang hal yang memalukan. Akhirnya Dinda bisa meneruskan perjalanannya pulang kampung.

 

Setiba dirumah, nenek Dinda senantiasa menyuruhnya untuk makan siang, karena sudah biasa anak kost jarang yang makan sebelum pulang, bahkan pagi Sabtu itu malas masak, cukup snack di sekolah dengan sepiring nasi goreng. Uang jajanpun telah minim, hanya tersisa uang untuk beli satu liter bensin Vario yang dengan setia mengantarkannya ke sekolah, ke tempat les, dan pulang kampung, yang tadi membuat Dinda tambah kesal dengan bocornya ban belakang.

 

Tanpa pikir panjang, tas Camo yang dari tadi dipundaknya, diletakkannya secara acak. Langsung disambar sepiring nasi dengan lauk dan sayurnya. Betapa lahapnya makan siang kala itu. Wajar saja dari tadi pagi perut Dinda hanya berisi nasi goreng yang tidak memberikan kalori yang cukup untuk aktifitas harian.

 

Perasaan kenyangpun terasa, seperti kata orang, tegang urat perut kendor saraf mata, rasa ngantukpun mulai menghantuinya, mata Dinda mulai layu, agar segera istirahat, diambilnya kembali tasnya dan mulai berjalan menuju kamar depan, kamar yang biasa ditempati Dinda. Disanalah biasanya gadis tujuh belas tahun ini mencurahkan segala masalahnya, dan juga disanalah sumber inspirasi untuk memulai sesuatu. Dinda senang belajar di kamar yang berukuran 4 x 4 meter itu, yang dihiasi sedemikian rupa, sehingga membuatnya nyaman berada disana.

 

“Lho… kok berubah??” Dinda kaget, “tidak seperti biasanya dekorasi kamarku berubah total” tambahnya. Disamping kiri tak terlihat lagi lemari pakaiannya yang dihiasi stiker tokoh kartun yang disukainya, Micky mouse, Tazmania, Donal, dan lainnya. Dekat jendela, rak buku pun tidak ada. “Wahh… ada apa gerangan yang terjadi?” pikirnya. Timbul dibenaknya beribu pertanyaan, siapa gerangan yang mengubah dekorasi kamarnya, mamanya tak mungkin, beliau dalam keadaan kurang sehat, Dinda tak habis pikir.

 

“O…Iya, aku baru ingat, minggu yang lalu sewaktu aku pulang kampung, aku pindah kamar ke tingkat atas” Dinda kembali ingat akan hal ia pindah kamar. Kamar yang selama ini tempat barang-barang yang tidak terpakai lagi, baru saja direnovasi Tomi, abang tertuanya dari empat bersaudara. Catnya diubah menjadi warna favorit Dinda, yaitu Pink. Semua peralatan, pernak – pernik dipindahkan ke kamar baru tersebut. Wahhh… dekorasinya pun luar biasa. Oya, tidak lupa meja hias tempat semua alat kosmetik Dinda, langsung abangnya sendiri yang merancang. Senangnya punya abang seperti abangnya Dinda. Ditambah pula dengan rak tempat aksesoris, boneka – boneka Dinda, semuanya hasil karya abang tercinta.

 
Kasur yang empuk diselimuti Bed Cover yang dibeli mama Dinda sebulan yang lewat juga berwarna merah muda. Dua bantal guling, dua bantal dan asesorisnya bantal kecil berbentuk lambang hati, love, tertata sedemikian rupa layaknya sebuah kamar pengantin. Lemari dan rak buku tak ketinggalan tersusun rapi. Koleksi buku cerita dan novel yang dimilikinya juga terurut secara Alfabet, layaknya perpustakaan mini. Novel yang paling disukai, karangan Andrea Hirata seperti, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan karangan terakhirnya Maryah Karvof. Negeri Lima Menara buah karya anak Minangkabau, A. Fuadi. Sudah mulai lusuh karena sering dibalik lembar demi lembar dan dibacanya berulangkali. Buku tentang Nuansa Islami juga tak kalah rapi seperti Menjaga Kesucian Wanita Muslim, 36 Alasan Kenapa Kita Harus Shalat, Berburu 1000 Kebaikan, Agar Shalat Tak Sia – Sia, Sedekah dan Rahasia mendatangkan Rejeki, Agar Do’amu Dikabulakan, buku panduan berdo’a untuk kaum remaja, dan masih banyak lainnya.

 

 

Tanpa pikir panjang, Dinda langsung bergerak, dengan rasa bangga dan bahagia ditapakinya anak tangga satu per satu menuju kamar atas. Dibukanya pintu kamar, “hmmmm… oh kamarku”Dinda berdecak kagum. Tiba – tiba bau tidak sedap menusuk hidungnya, “bau apa ini?” dicarinya sumber dari bau itu, di kolong tempat tidur, di sudut ruangan dan disegala tempat. Dan ternyanta seonggok tahi kucing yang kelihatannya belum beberapa menit lalu, mungkin masih panas ditempat tidur nya.

 

 

Biasanya Dinda tak membiarkan kucing memasuki kamarnya, karena para psikolog telah meneliti “jika kita terlalu dekat dengan kucing, bulu kucing itu bisa terhirup dan juga biasa menyebabkan kemandulan”. “ Ihh… ingin sekali rasanya aku muntah melihatnya”bisik Dinda. Dinda berteriak memanggil mama dan adiknya, mereka berdua tertawa terbahak – bahak. Sungguh Dinda kecewa berat. Namun, Dinda tetap bersyukur masih bisa selamat sampai dirumah berkumpul bersama keluarganya. “Alhamdulillah” ucapnya dalam hati. Meskipun sederetan kesialan menghampirinya seharian ini.

 

Baca Cerpen Lainnya : Coretan Terakhir Sahabatku

SHARE
Previous articleCerpen : Coretan Terakhir Sahabatku
Next articleSegenggam Rindu Untuk Uda
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com