Cerpen : Kebaya Merah Untuk Emak

1467

Cerita Pendek – Kebaya Merah Untuk Emak

Cerpen Kebaya Untuk Emak
Cerpen Kebaya Untuk Emak

LebahMaster.Com – Cerpen : Kebaya Merah Untuk Emak, Matahari sudah tepat berada di atas kepala, sinarnya terasa menikam marah. Panas. Jakarta terasa kering, lengket, pengap dan gerah. Udara lengket, pengap berdebu. Seorang lelaki muda berjalan dengan langkah gontai. Sudah dua jam berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan sudirman. Lelaki muda yang berkemeja warna coklat dengan warna yang mulai pudar. Suara bising kendaraan yang terasa terdengar mengejeknya. Suara klakson dan raungan knalpot kendaraan yang lalu lalang terasa seperti tertawaan nyaring, terasa mengolok-ngolok rasa lelah, penat, resah dan perasaan putus asa yang mulai merambah setiap detak waktu yang terbilang. Lelaki muda yang setahun sudah di Jakarta. Yang setia menengteng map coklat berisi mimpi-mimpinya. Map coklat berisi harapan; foto copi ijasah transkrif nilai dan lembaran lamaran kerja yang akan ditukarnya dengan mimpi renyah dan cita-cita.

Lelaki muda itu, lelaki pintar menurut abahnya. Juga menurut emaknya. Lelaki yang telah bergelar sarjana dari perguruan tinggi ternama. Lelaki yang berasal dari desa, dengan orang tua petani sederhana. Kini cuma emak yang masih setia mendoa cita-cita. abahnya pergi dipanggil Tuhan, dua bulan sebelum wisuda karena demam berdarah.

Ya, kini yang dipunya emaknya hanya beberapa petak tanah tersisa. Padahal dulu katanya petakan sawah dipunya dan berapa pasang sapi juga kerbau. Sekarang ludes habis untuk menebus biaya harapan anak semata wayang yang diharapkan mengangkat harkat martabat keluarga. Kini dia sarjana pertanian. Tukang insinyur pertanian.

Lelaki muda itu berjalan makin gontai dan lunglai, sesekali menengadah menangtang tikaman matahari, melemparkan pandangan dari gedung-kegedung perkantoran yang dilihatnya menjulang pongah membelah angkasa Jakarta yang kusam. Siang terasa makin panas. Terasakan olehnya separuh dari mimpi-mimpi yang dibawanya tergerus oleh perjalanan waktu yang terus pergi seperti tergesa. Langkahnya makin gontai, resah makin membuncah, deretan waktu yang terbilang makin terasa semuanya makin terbuang, pekerjaan tidak juga terpegang.

“Jakarta kota sombong, kota harga, kota mahal untukku. Kota yang tak ramah untuk diakrabi hanya dengan niat dan kemauan. Ternyata niat kemauan tidaklah cukup untuk menukar mimpi disini”, lelaki muda itu merutuk, patah semua harapan yang dirasakannya. Lalu berhenti dibawah jembatan penyebrangan yang membentang jalan yang riuh bising dengan deru ritme Jakarta yang tergesa-gesa. Didepan gedung tinggi di bawah naungan atap halte penumpang dia duduk lunglai. Map coklat dipangku di atas pangkuannya. Resah makin membuncah. Angkuhnya gedung bertingkat yang terpampang didepan mata terasa mengejeknya.

Maafkan emak, anakmu belum juga membawa kabar masa depan yang cerah. Anakmu belum juga mampu mengganti petakan sawah yang telah abah jual demi mimpi dan cita-cita. Jakarta sukar berpihak pada anakmu, emak… ”, kalimatnya terkulai dikerongkongan tak menjadi suara. Dadanya nyeri. Seluruh harapannya terasa nyeri ngilu. Dia hampir diambang menyerah.

Lelaki muda yang telah bergelar sarjana, masih termangu didepan jembatan penyebrangan yang membentang membelah jalan. Resah makin membuncah. Bibirnya terasa kering. Tangannya merogoh saku depan kemeja. Surat dari emak masih terlipat. Sudah beberapa kali emak menyuratinya. Sudah beberapa kali emak meminta dia pulang.

Asep, kalau belum dapat kerja, pulang saja ke kampung. Kamukan sarjana pertanian, olah sawah peninggalan abah saja. Emak takut wasiat abahmu tidak kesampaian, kalau sudah lulus baiknya amalkan ilmu disawah. Kamu kan sarjana pertanian. Pulang saja, Asep, emak. Soal Asep mau beliin ini itu, tidak usah dipikirkan. Apa yang emak punya sekarang, emak sudah sangat bersyukur. Pulang ya, Asep. Emak sudah lama tidak liat kamu. Emak suka sedih, Sep, kalau liat cangkul dan topi setok abahmu yang sudah banyak di penuhi jaring laba-laba….”

Matanya terasa hangat. Ada yang mendesak dalam dada, terasa begitu menyesak.

Lalu teringat saat harapan begitu mengelora, harapan yang bersemai dan bergelora bagikan gulungan ombak samudera. Saat itu benaknya membayang saat diwisuda, teringat air mata emaknya yang menetes bangga. Emaknya memeluk erat. Lalu terguguk.

Akhirnya kamu jadi sarjana, Sep. Emak yang hanya lulusan esempe, akhirnya bisa juga membuatmu jadi sarjana. Emak bangga. Tapi sayang abahmu keburu meninggal, coba dia masih hidup, pasti abahmu sangat bangga. Abahmu memang ingin kamu jadi insinyur pertanian, biar kamu bantu mengolah sawah dan majukan kampung kita.!” bisik emaknya saat memeluk erat dirinya yang masih berbalut baju toga. Dia tahu emaknya menangis bangga. Haru dan sedih berbaur menjadi satu. Pastinya emak teringat abah yang telah pergi. Sayang memang, kebahagiaan terasa ada yang kurang.

Tidak sia-sia abahmu menjual sebagian sawah dan sapi”, masih terngiang kebanggaan emaknya yang terucap persis dekat telinganya.

Tenang aja emak. Doakan Asep, agar jadi orang berhasil. Nilai ijasah Asep, alhamdulilah bagus, pastinya gampang cari kerja. Mungkin Asep bisa jadi pejabat, Mak. Doakan ya, Mak. Nanti kalau Asep, sudah mulai kerja, Asep janji beliin Emak kebaya brukat merah dan televisi baru. Agar emak enggak malu kalau pergi kondangan. Asep janji….!”

Emaknya cuma menjawab, “Emak akan mendoakan siang malam, kamu berhasil, Sep. Tapi kalau bisa jangan abaikan soal wasiat abah. Jangan lupa kalau berhasil, terus solat dan ngaji quran, yah…”

“Pasti, Mak!” jawabnya sambil memeluk erat tubuh ringkih emaknya.

Sekarang apa, lelaki muda itu meringis perih bila mengingat semua itu. “Anakmu tak juga mendapat kerja, anakmu tak juga menemukan tangga untuk naik kepuncak. Anakmu sekarang malah malu untuk pulang !”

Lalu melintas pula kisah yang telah jadi jejak muram dan memuakan. Saat dia ikut mengais harapan berlomba berebut kursi dengan beribu pesaing demi kebanggaan jadi pegawai negara disebuah instansi pemerintah. Tes pertama dia begitu yakin dan lolos, dengan nilai ijasah yang memadai. Baginya harapan akan teramat mudah digapai. Tes kedua di lalui terasa teramat mudah, baginya gelar yang berasal dari perguruan tinggi ternama adalah modal yang sangat membanggakan, ditambah dia yang kutu buku. Lelaki muda itu sudah membayangkan betapa akan dihormatinya dengan seragam PNS, pasti emaknya akan tersenyum senang mendapatkan anaknya telah menjadi seorang priyayi. Tapi harapan tinggal harapan, jejak kisah didapati kusam dan muram saat suatu hari dia dipanggil oleh petinggi instansi tempat ia mengikuti beragam tes yang dirasa teramat mudah.

“ Bapak sudah memeriksa berkas kelengkapan lamaranmu. Nilaimu bagus, tesmu memuaskan. Tapi ya,… ade mengertikan semua pasti ada timbal baliknya, ada harga yang harus dibayar. Ini hitung-hitung ade membayar kemudahan yang bapak berikan. Ya…itung-itung uang pengertian dan biaya nanti pengurusan SK pegawai”, kata-kata itu terngiang dari seorang pejabat yang tampak berwibawa disebuah ruangan ber-AC.

Lalu dia menyebut angka sebagai yang disebutnya uang pengertian dan kemudahan mengeluarkan SK pegawai. Mendengar itu ia tersedak, ruangan dan tempat ia berpijak terasa berputar. Dua puluh juta, dua puluh juta. Ruangan ber- AC terasa panas menikamnya. Wajah klimis didepannya benar-benar memuakan. Lelaki muda itu keluar dengan geram.

Hari makin terasa muram. Lalu lalang keramaian dan kebisingan Jakarta yang seperti bergerak tergesa makin membuatnya muak. Jakarta kota mahal bagiku yang hanya punya keyakinan, miris dia berkata dalam hati yang terasa perih. Lelaki muda itu ingin sekali berteriak melemparkan semua geram kelangit kota yang pengap, tapi tenggorokan tersekat beban marah terlalu kuat mengendapkan semuanya, akhirnya dia hanya bisa menatap nanar dan terkulai lemah di bawah naungan halte penumpang. Terbayang wajah emaknya yang tersenyum bangga saat wisuda. Teringat janjinya pada emak, soal kebaya brukat merah dan televisi baru. Teringat pada wasiat abah agar dia mengolah sawah dan memajukan kampung. Kepalanya terasa buncah. Matanya panas. Dadanya terasa menyesak parah. Hembus nafas begitu berat.

Teringat pula kisah yang menohok harga dirinya. Saat itu, dia mencoba membangun harapan. Menitipkan janji pada seorang gadis, teman kuliah juga sekampung. Gadis manis berjilbab, putri bungsu Pak Lurah dikampung. Tapi mungkin benar cinta itu harus segaris lurus dan melihat realitas sekitar. Kesiapan serta kemampuan materi bahkan itu mungkin lebih penting, baru soal komitmen janji dan juga cinta. Lelaki muda itu sudah membayangkan betapa akan bangga bersanding dengan gadis pujaan sekaligus dengan gelar sarjananya. Pasti emaknya akan tersenyum senang mendapatkan anaknya telah menjadi priyayi dengan gelar sarjana juga bermenantukan putri tokoh berpengaruh dikampung. Tapi harapan didapati begitu muram. Suatu hari dia dipanggil Pak Lurah, disuatu sore yang terasa penat.

“Bapak sudah tau hubunganmu dengan putri Bapak. Pada dasarnya Bapak tidak melarang, tapi alangkah lebih baiknya bila Asep sudah siap semuanya. Karena soal rumah tangga itu tidak akan selesai hanya dengan modal cinta. Bapak sudah merasakan itu,” kata-kata itu masih terngiang-ngiang.

Telinganya terasa sakit. Sore hari yang tak akan terlupakan. Dia tahu pada akhirnya terpinggirkan. Harapan menjauh lalu luruh terbang bersama kenyataan yang terasa mencibir. Pak Lurah mungkin benar dan mungkin malah sangat benar, kesiapan dan kemampuan itu yang utama, soal cinta itu bisa ditempatkan di nomer berapa saja.

Lalu ia makin terbiasa mendengar kata sama, semua ada harganya, semua ada harganya. Kata yang penuh dengan keangkuhan dan ejekan. Lelaki muda bergelar sarjana, lelaki muda yang berasal dari desa. Hatinya terkapar bila mengingat itu. Hari mulai beranjak meninggalkan tengah hari, hari mulai berganti wajah disore hari. Makin remang dan muram. Kebisingan kota makin terasa mengejeknya. Lelaki muda itu akhinya beranjak menaiki bis untuk pulang ke kontrakan temannya, seorang pedagang kios rokok di pojok terminal Pulogadung, tempat dia numpang tidur selama di Jakarta. Teman sekampung yang hanya lulusan SD, yang masih bisa tersenyum di kebisingan Jakarta. Lelaki muda itu menyeringai. Bis penuh sesak.

Lelaki muda itu bergelayut berdesakan dalam pengapnya bis tua yang berjalan jig-jag, bak mobil sijagoan. Didepan persis seorang wanita muda dengan tas punggung menempel persis didepan wajahnya. Sekilas matanya liar menatap tas yang terbuka. Mungkin dia lupa menutup resluiting tasnya, pikirnya, diselingi perasaan yang tiba-tiba tidak karuan. Sekilas matanya liar menatap bentuk sebuah HP dan dompet warna hitam mengkilat. Pikirannya makin tidak karuan, makin buram, hitam dan hitam. Semuanya makin berwarna hitam. Matanya liar. Hatinya bimbang. Terbayang wajah emaknya yang tersenyum bangga saat wisuda. Teringat soal janji kebaya merah dan televisi baru. Teringat wasiat abah yang di abaikan. Semuanya makin menghitam, makin hitam dan hilang…

Jakarta yang bising terasa makin mengejeknya.

Depok-Cipete, “ilmu tidak harus dikota untuk dibumikan”, 2007

– Semoga Cerpen : kebaya merah untuk emak, kiriman sahabat kita ini membawa Inspirasi bagi kita semua.

Biodata Penulis :
Nama Penulis : Agus Supriyatna atau biasa disapa Kang Agus
(Wartawan Media Cetak di Jakarta)

Alamat KTP : Jl. Haji Jian No. 22 RT/RW 004/007, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat tinggal sekarang : Perumahan Sawangan Regensi, Blok K Nomor 19, Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat

No HP : 083814705656

Email : agusupriyatna@gmail.com

Twitter : @rakeyanpalasara

Cerpen Lainnya :

Cerpen : Buku Diary Kokom Komariah