Cerpen King Kong Pisang Keju CoklatCerpen Ini ditulis dan dikirim Oleh : Widia Kurnia Sari

 

Hai, nama gue Pandu Fachri, biasa di panggil Pandu, atau Ari. Hobi gue dengerin musik, main game, dan baca buku di perpustakaan (biar di kira gue kutu buku gitu), tapi itu semua dulu. Sekarang gue menemukan hobi baru, yaitu menulis. Gue ingin menceritakan beberapa kejadian di kehidupan gue.

 
Sewaktu gue kelas 2 SMK, seluruh siswa seangkatan gue melakukan suatu kerja lapangan atau magang. Guru kejuruan gue yaitu Pak Raf dan Pak Joko telah menentukan semua siswa di kelas gue untuk magang di tempat yang telah ditentukan oleh kedua guru tersebut.

 
“Pandu, kamu terpilih magang di kantor Dinas Pendidikan”, kata Pak Raf. Di dalam hati gue berkata, keren juga tempat magang gue nanti, secara orang yang di pilih magang disitu kan juga keren (*sambil nyengir kayak orang gila), lalu langsung saja gue jawab, “iya pak. Siap!”. Kemudian Pak Joko menambahkan “Tomi dan Riski, kalian berdua juga di pilih magang di kantor Dinas Pendidikan bersamaan dengan si Pandu”.
Disaat itu pula gue berpikir, wah kebetulan banget nih tempat gue magang nanti bareng sama dua teman culun gue, bukan maksud gue dua teman baik gue” hehehe….

 
Pada waktu gue dan dua teman gue mulai magang disana, kami di perkenalkan satu per satu karyawan dan karyawati disana. Karena di sekolah gue ngambil jurusan Teknik Komputer, gue dan teman – teman gue pun di tempatkan magang di ruangan IT, dimana di ruangan IT tersebut memiliki beberapa karyawan dan karyawati.

 
Disuatu senin pagi, Pak rizal (*yang juga biasanya di bilang si Kingkong oleh si Tomi dan Si Riski yaitu teman gue karena badannya yang besar layaknya seorang anak Kingkong), lalu Buk Dona, Bang Sandi, dia merupakan keponakan dari wakil Kepala Dinas pendidikan, dan juga Kepala ruangan IT yaitu Pak Samsul, doi juga sekaligus Bos bagi gue, serta gue bersama dua teman gue, kami semua di tugaskan untuk berangkat ke salah satu sekolah dalam rangka rapat pelatihan antar guru, dan kebetulan acara rapat tersebut diadakan di sekolah gue sendiri.

 
Setiba disekolah, gue merasa rindu yang sangat mendalam. Saking rindunya, gue ciumin satu – satu tuh dinding sekolah, namun tiba – tiba gue di panggil sama Buk Dona.

 
“Pandu, ayo bantu Ibuk sama Pak Rizal buat masukkin uang ke amplop”, kata Buk Dona. Lalu gue jawab “Baik buk. Tomi, Riski ayo kita bantu Buk Dona dan Pak Rizal disana”. Tomi pun membalas “Iya Pandu” Riski pun juga mengiyakan kata gue.

 
Gue bertiga langsung pergi dan masuk ke salah stau ruangan yang telah di instruksikan oleh Buk Dona. Namun ketika gue membuka pintu, gue melihat ruangan tersebut penuh dengan kegelapan, woii kayaknya gue buta mendadak. Si Riski pun langsung menampar gue “Dasar bego! tuh lampunya belum dinyalain”. Kemudian si Tomi langsung menyalakan lampu dan tiba – tiba, astaga gue melihat si Kingkong sedang menyusun amplop dan helaian uang, lalu gue berpikir ternyata benar yang di lagu – lagu bilang, Kingkong juga manusia, punya rasa punya hati. (lho?).

 
Selanjutnya si Tomi pun bertanya “ada yang bisa kami bantu pak Rizal?”. Gue dan Riski lalu melihat kearah Pak Rizal sambil nyengar nyengir kayak orang gila habis kentut. Kemudian si Kingkong membalas “iya nak. ini bantu bapak memasukkan uang ke dalam amplop ini, dan nanti tolong dibagikan ke para guru yang telah datang”. Serempak kami pun menjawab “ baik Pak”.
Setelah membantu Buk Dona sama Pak Rizal, gue pun hanyut dalam lamunan, gak nyangka, ternyata pekerjaan gue dari pagi sampai siang sangatlah berat. Hal yang gue lakukan hanyalah memasukkan uang ke dalam amplop, lalu membagikan satu per satu kepada para guru yang telah datang, disertai dengan sebungkus kotak dengan isi beberapa cemilan.

 
Ini semua melelahkan, saking lelahnya, gue pun ketiduran dan mengelurkan cairan panas dari mulut gue, hingga membuat banjir satu sekolah. Para ikan pun mati, nelayan pun rugi, nyokap gue gak bisa masak ikan, dan perut Nobita pun kelaparan, oke gue becanda.

 
Lanjut cerita, kemudia gue bersama dua teman gue istirahat sambil mendengarkan lagu sejenak di salah satu ruangan kosong. Tiba – tiba Bang Sandi datang dengan diiringi tiga buah bungkusan kotak yang sangat berkilauan bagaikan harta karun.

 
Bang Sandi, “Nih abang bawa makanan ringan untuk kalian bertiga. Bagi satu per orang ya”. Tampak si Riski sama si Tomi pun langsung bangun dari tempat duduk mereka layaknya Inuyasha bertemu dengan Sesshomaru-sama yang memulai perkelahian untuk memperebutkan shikonotama, sedangkan gue dengan tampang sedikit jaim, gue pun menjawab “iya Bang Sandi, makasih”.

 
Seketika itu juga, gue coba buka kotak tersebut dan melihat isinya. Ternyata ada dua gorengan, satu roti pisang keju coklat (*sumpah gue suka banget lihat nih roti, saking sukanya sayang buat dimakan), dan segelas air putih mineral. Langsung saja gue, Tomi sama Riski sikat tuh isi bungkusan kotak. Tadinya niat gue sih mau langsung habisin semua makanan itu, karena gue sangat lapar. Tapi si Riski mencoba menahan gue, dan berkata “jangan di habisin dulu semua kuenya. Kita kan sudah lama nih gak kesekolah karena magang, nah mumpung lagi disekolah kita keliling – keliling sekolah sebentar yuk sambil menyapa guru – guru kita disini. Gimana? setuju nggak?”.

 
Belum sempat gue menjawab iya atau enggaknya, si Tomi langsung menjawab “gue setuju. Tapi sebelum itu kita sisain satu roti ini, lalu kita simpan dalam satu kotak. Nah biar nanti aja kita makan. Kita kan masih punya waktu, lagian perut gue udah mulai kenyang nih. Gimana? setuju nggak?”. Gak mau kalah cepat gue jawab aja dengan nada terpaksa “oke, demi perut gue, ehh maksud gue demi cinta gue sama nih sekolah, gue setuju”.

 
Kemudian dengan berat hati gue meninggalkan secuil hati gue pada sebuah roti pisang keju coklat yang sangat cantik tersebut, lalu pergi mengelilingi sekolah bersama kedua teman gue. Setelah puas melepas rindu terhadap sekolah tersayang dan tercinta, kami pun kembali ke ruangan di mana tempat gue dan teman gue istirahat tadi. Tapi apa yang terjadi gak disangka bukan main, roti yang kami simpan tadi dalam sebuah bungkusan kotak ternyata sudah hilang dan lenyap tanpa bekas. Jauh beda sama kentut, kentut aja anginnya gak keliatan tapi masih meninggalkan bekas (*baunya maksud gue).

 
Karena kaget dan heran gue, Riski, dan Tomi pun pergi menghampiri Buk Dona dan Bang Sandi. Gue dengan sedikit kesal pun bertanya “Bang Sandi, lihat gak tadi ada satu bungkusan kotak isinya cuma ada tiga buah roti?”. Dengan kebingungan Bang Sandi pun menjawab, “abang gak lihat tuh. Coba Tanya sama Buk Dona atau Pak Rizal, soalnya tadi mereka yang beres – beres ruangan itu.

 
Mendengar hal itu, kekuatan pedang Kaze No Kizu gue keluar secara tiba – tiba, hingga jiwa kedektetifan gue pun muncul dan gue merasa pelaku utamanya adalah si Kingkong pak Rizal. Langsung saja gue, Riski, sama Tomi menghampiri Buk Dona. kenapa gak langsung tanya pada si Kingkong? yup. Karena si Kingkong sedang melaksanakan rapat pelatihan antar guru bersama dengan bos gue yaitu Pak Samsul. Gak lucu dong kalau gue langsung tiba – tiba nyosor masuk ke acara rapat yang begitu formal hanya untuk bertanya “Dimanakah keberadaan 3 buah roti kami wahai sang Kingkong?”. Nanti akibatnya rapat itu malah hancur berantakkan hanya karena gara – gara sebuah roti coyy.

 
Oleh karena itu gue langsung bertanya pada Buk Dona dengan wajah kasihan yang gue punya saat ini, “Maaf buk, Apakah ibuk tadi melihat satu bungkusan kotak yang isinya ada tiga buah roti pisang keju coklat?”. lalu Buk dona membalas,” Oh itu, tadi ibuk lihat kok. Tapi kotak itu udah dibawa pergi sama Pak Rizal. Tuh bungkusan kotaknya (*sambil menunjuk ke arah meja Pak Rizal). Memangnya itu punya kalian bertiga ya?”. Si Tomi pun dengan gagahnya menjawab, “ iya buk Itu punya kami bertiga. Niatnya sih mau kami makan sekarang buk”. kemudian Buk Dona mencoba meluruskan,”wah sayang sekali, kalian sudah terlambat. Tadi ibuk lihat satu rotinya sudah dimakan sama Pak Rizal, tapi dua roti lainnya ibuk kurang tau”. Dengan kesabaran dan pantat lebar yang gue punya, gue bilang “yasudahlah buk gak apa – apa. kami permisi dulu”.

 
Sambil membelakangi Buk Dona dan berjalan ke arah pintu keluar dengan penuh penyesalan. Saat itu gue berpikir, Sial! ahh bodohnya gue ngikutin kata Si Riski sama si Tomi yang sama – sama begonya sama gue. Seharusnya gue makan aja itu roti tadi, lagian si Kingkong itu gak nanya dulu itu roti punya siapa. Lihat tuh akibatnya, roti yang gue suka lihatnya saking sukanya sayang buat di makan, malahan lebih sayang roti dari pada perut gue sendiri, pada akhirnya bernasib tragis. Si doi udah di makan oleh si Kingkong itu. Apa kurangnya sih makanan tuh Kingkong, sampai tega roti gue diembat juga. Mungkin ini hukuman buat gue dan teman – teman gue kali ya, ngatain Pak Rizal itu Kingkong. Toh akibatnya Pak Rizal ngebuktiin dirinya adalah Kingkong sejati melalui tiga buah roti tersebut.

 

Baca Juga Cerpen Lainnya : Kamarku pesawat menuju Amerika Serikat

SHARE
Previous articleKesempatan Terakhir
Next articleCerpen : Coretan Terakhir Sahabatku
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com