Cerpen, RENOVATIO By Mutia

963

RENOVATIO

Cerpen ditulis dan dikirim Oleh : Mutia Fitri Azwar

Cerpen Renovatio
image Ilustration – Cerpen Renovatio

Hening. Begitulah suasana yang ada kini. Nyaris tak ada suara yang memecah keheningan senja di ruang gelap itu.

 

“tuk tuk tuk” terdengar suara high heels yang hendak menuju pintu ruang itu.
Sreett..

 

Bunyi sebuah pintu yang dibuka paksa oleh seorang wanita pemilik high heels tersebut. Siluet matanya menelaah setiap sudut yang ada. Ia tampak gelisah dan gemetar. Tangannya pucat pasi dan dingin. Ia masuk dan melangkah ke setiap sudut ruangan ini hingga bunyi dari heelsnya lah yang menjadi pemecah di keheningan senja ruang ini.

 

Sepersekian detik. “tuk tuk tuk” langkah kaki sang pemilik sepatu kini hanya mondar-mandir menunggu seseorang yang ia cari. Ia menggenggam kedua telapak tangannya yang dingin. Ia meniupkan nafasnya ke celah tangannya. Perlahan suhu tangannya mulai teratur.

 

Ia menghembus nafas pelan. Seolah ada hal yang mendesaknya untuk mengatakan sesuatu pada seseorang yang sedari tadi ia cari. Cahaya senja mulai redup. Ruangan ini pun semakin gelap dan dingin. Ia melihat keluar jendela dan sedikit membuka jendela itu. Angin bertiup pelan. Ia melihat ke atas langit senja yang berubah warna menjadi gelap. Hanya penerangan lampu jalan dan rumah penduduk yang kini tampak olehnya.

 

Seketika ia menatap jam tangannya. “bodoh” upat wanita itu pada dirinya. Ia meremas kasar rambut hitam kecoklatan miliknya. Ia juga menggigit bibir pink bawahnya hingga merah dan menimbulkan sedikit lebam. Tangan kanannya menggenggam erat rok hitam selututnya dengan kuat. Ia kembali gelisah. Matanya memanas. Kemudian ia menutup jendela itu dengan keras hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras.

 

“baby where are you?” air matanya seketika membanjiri wajahnya. Tak beberapa lama ia keluar dari ruangan itu dan dan menutup pintu dengan kasar. Ruangan itu kembali hening untuk waktu yang lama. Ruangan yang gelap karena tak ada cahaya yang meneranginya hingga sang pemilik kembali.

 

Sudah beberapa minggu Raina tak pulang. Bahkan tak ada yang tahu keberadaannya sekarang. Wanita itu kembali berpikir di rumahnya setelah beberapa jam mencarinya. Ia mulai pusing dan panik. Ia terkulai lesu di atas sofa. Matanya tertumpu pada suatu arah. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Perasaan cemas kembali menyeruak di relung hatinya. Hanya saja ia begitu takut kehilangan Raina.

 
“drrtt…drrtt” ponselnya bergetar.
“hallo” ucap seorang pria diseberang sana.
“bagaimana hasilnya?” tanyanya tak sabaran.
“maaf nyonya kami sudah berusaha mencarinya ke seluruh pelosok negeri ini namun tak ada hasil” pria itu menghela nafasnya sejenak ”kami gagal” ucapnya kembali.
“payah” keluh wanita itu. Ia menutup teleponnya lebih dulu.

 

 

Wanita itu kembali gusar. Matanya memanas. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Lagi-lagi ia harus menelan pil pahit kekecewaan. Ia langkahkan kakinya menuju kamar utama. Ia menatap sendu area rumahnya yang tampak besar dan luas itu. Namun sayang untuk ukuran rumah sebesar ini ia hanya tinggal seorang diri.

 

 

Waktu berlalu dengan cepat. Ini sudah memasuki minggu ketiga di bulan Mei namun sosok Raina belum juga diketahui keberadaannya. Wanita itu sudah berputus asa sejak dua minggu belakangan. Kini ia hanya bisa pasrah pada sang khalik. Apa pun yang akan terjadi selanjutnya ia harap itu adalah jalan yang terbaik untuk hidupnya.

 

****

 

Seorang gadis bermata bulat kecoklatan sedang mendongakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia berjalan di keramaian orang yang lewat berlalu lalang di hadapannya. Rambut panjangnya yang lurus kecoklatan di terpa angin semilir sehingga menutupi sebagian wajah tirusnya. Dengan lihai ia menyibakkan rambutnya ke belakang. Ia tersenyum manis. Tubuhnya yang langsing serta kulit yang kuning langsat di padukan dengan dress selutut bewarna biru langit dengan motif bunga seakan menyatu dengan pemiliknya. Di tangan kanannya melingkar sebuah jam tangan bewarna kecoklatan keluaran Channel terbaru. Sebuah kalung permata pemberian ibunya ia biarkan melingkar di leher jenjangnya. Tak lupa ia memakai anting silver di tindik telinganya. Sementara untuk bawahan ia memakai laces shoes yang senada dengan kulit kakinya.

 

Ia kembali berjalan menatap sekitar yang disuguhkan dengan beberapa pesona alam yang menakjubkan. Di sisi kanannya terhampar beberapa pohon sakura yang bermekaran. Pemandangan yang sangat di tunggu-tunggu pada musim semi tahun ini. Ini adalah bulai Mei yang merupakan bulan terakhir mekarnya bunga sakura. Berbagai aktivitas banyak di lakukan pada bulan ini. Beberapa orang memilih piknik dengan keluarganya sembari menikmati bunga sakura yang berwarna pink itu.

 

 

Gadis itu melebarkan senyumnya. Tak pernah ia merasa sebahagia ini. Di seberang jalan tampak beberapa kedai makanan yang begitu menggoda selera. Gadis itu berjalan dengan riang menuju kedai makanan.

 

 

“kore wa ikura desuka? (ini harganya berapa)”tanya gadis itu menunjuk Takoyaki yang ada di wajan penggorengan.

 

 

“kore wa 350 en desu (ini harganya 350 yen)”ucap wanita paruh baya tersenyum sembari membalikkan beberapa Takoyaki di wajan dengan sumpit.

 

 

Gadis itu tersenyum. Ia sibuk memperhatikan wanita paruh baya yang terlihat asik membolak-balikan Takoyaki dengan sumpit. Ia menunggu dengan sabar. Hingga makanan yang dipesannya siap disantap. Ia mengeluarkan uang dari saku kanan dressnya. Wanita paruh baya itu memberikan beberapa lembar kembalian uangnya.

 

“arigatou gozaimasu (terimakasih) ”ujar wanita paruh baya itu dengan tersenyum dan sesekali menganggukan kepalanya.

 

“hai” gadis itu balik menganggukan kepalanya. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat lain. Ia menyantap Takoyaki yang masih hangat dengan lahap. Sesekali ia berdecak kagum”oishiine”.

 

Kakinya membawanya terus berjalan mengelilingi beberapa tempat di Osaka. Ia mengedarkan pandangannya ke suatu tempat. Ia melihat festival hanami yang merupakan festival melihat mekarnya bunga sakura pada saat musim semi. Ia menghampiri tempat yang di kerumuni banyak pengunjung itu. Ia melihat dengan penuh kekaguman.

 

“wah,bunganya indah sekali” ia memuji keindahan bunga sakura nan bewarna pink merona. Disini banyak beberapa keluarga yang duduk bersantai di bawah pohon sambil menikmati mekarnya bunga sakura. sangat terlihat bahagia dan akur. Seulas senyuman yang tadinya menghiasi raut wajahnya yang cantik berubah menjadi masam. Wajahnya begitu dingin dan pandangannya datar. matanya mulai berair. Ia tak mau mengingat kenangan yang menyedihkan itu. Itu terlalu pahit untuk diingat. Ia mengepalkan tangannya dan menggertakkan gigi bawahnya. Lalu meninggalkan tempat itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Beberapa menit kemudian ia telah sampai di penginapannya beberapa bulan terakhir.

****

Seorang wanita tengah duduk di ruang tengah dengan menyandarkan kepalanya. Ia tampak tak bergairah. Ponselnya berdering. Dengan malas ia meraih ponsel yang terletak di atas meja. “hallo”. Seseorang di seberang sana tampak menghela nafas.”maaf nyonya jika saya mengganggu waktu istirahat anda. Kami berhasil melacak keberadaan Raina”. Wanita itu membulatkan matanya. Entah ia terlalu senang, kaget atau pun khawatir. ”dimana?”tanyanya tak sabar. “di Osaka nyonya”. “lalu bagaimana keadaannya?”tanya wanita itu lagi cemas. “ia terlihat jauh lebih baik nyonya”. Tak ada jawaban dari wanita itu. sebuah senyuman terbentuk di sudut bibirnya. “terima kasih”hanya kata itu yang akhirnya terlontar di bibir wanita itu. Lalu ia mematikan ponselnya.

 
Dengan segera ia memesan tiket pesawat ke Jepang. Ia sungguh tak sabar untuk menanti hari esok. Keesokan harinya ia telah berada di bandara. Tak lama setelah itu ia masuk pesawat dan menunggu beberapa menit untuk take off.
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Tak terasa ia telah sampai di Jepang. Ia masih harus bersabar menunggu kereta menuju Osaka. Selama di perjalanan menuju Osaka ia tampak gusar, gelisah dan sesekali meremas jaket bulu berwarna hitam itu. Ia ingin bertemu dengan Raina secepat mungkin sebelum pria tua itu merampasnya.
Piiip…

 

 

Pintu kereta terbuka dan telah berhenti di stasiun. Ia melengos pergi dari tempatnya. Seseorang yang telah ia percayakan telah menunggunya di depan stasiun. Ia tersenyum tipis. Seseorang yang berstelan jas hitam dengan dasi garis-garis serta memakai sepatu kulit yang mengkilap menghampiri wanita itu. Seseorang yang perawakan Indo-Jepang itu dengan segera memberi arah pada wanita itu. Wanita itu masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan. Tak ada perbincangan selama di perjalanan. Suasana dingin menyelimuti keduanya. Kini sampailah ia di sebuah penginapan tradisional namun terkesan mahal. Beberapa pelayan penginapan membungkukkan badan dan kepalanya pada wanita itu. Ini memang merupakan kebiasaan masyarakat Jepang bila bertemu dengan setiap orang. Wanita itu tersenyum ramah dan membungkukkan badannya juga. Setelah itu ia bergegas pergi menuju kamar yang telah diberitahukan padanya kemarin. Udara disini sungguh alami dan sejuk. Beberapa bunga sakura bermekaran di sepanjang penginapan ini. Musim semi begitu kental dapat dirasakan olehnya. Pria yang sedari tadi berdiri di sampingnya membuka mulut.”ini musim semi yang indah bukan”. Wanita itu hanya bergumam dan sesekali menganggukkan kepalanya. Pandangannya lurus dan datar. Wanita itu menghela nafas pelan. Ia telah sampai di depan kamar penginapan Raina. Keraguan tampak jelas di wajahnya. Tangan kanan yang sedari tadi di depan pintu ia layangkan dan mulai mengetuk pintu. Ia harus bertemu dengan Raina. Namun ia menurunkan tangannya. Ia menoleh ke samping dan terlihat anggukan yang disertai senyuman tipis pria itu. Ia menatap nanar pintu itu.

 
“tok..tok..tok”

 
Tak ada jawaban. Ia kembali mengetuk pintu kamar tersebut hingga pintu sedikit terbuka. Matanya tak berhenti memperhatikan sosok yang akan muncul di balik pintu itu. lalu muncul lah seorang gadis cantik yang mendongakkan kepalanya tepat di hadapan wanita itu. semua hening. Waktu seketika berhenti di tempat. Keduanya saling bertatapan dengan pemikiran masing-masing. Mata wanita itu berair dan ia tak kuasa membendungnya. Ia hanya mematung di tempat. Ia membuang jauh semua rasa gengsinya. Ia begitu rindu dan langsung memeluk gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu adalah Raina.

 
Sejenak Raina menatap lekat wanita yang merupakan ibu kandungnya. Ia menyuruh ibunya masuk dan menutup pintu. Sementara pria yang ada di samping ibunya tadi menunggu di luar untuk berjaga. Raina duduk di atas ranjang sedangkan ibunya berdiri menghadap jendela. Wanita itu memandang keluar jendela.“bagaimana kabarmu?” itulah kata-kata yang selama beberapa bulan terakhir ia pendam. Raina menatap punggung ibunya dan berkata“baik”. Wanita itu tersenyum dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tahu betul sifat Raina. Raina masih termangu di ranjangnya. Ia menerka-nerka apa yang akan dikatakan oleh ibu selanjutnya. Jujur ia belum sanggup untuk bertemu dengan ibunya. Apalagi semenjak kejadian waktu itu. Ia tak ingin hidupnya kembali terusik. Yang ia inginkan hanya sebuah ketenangan. Dan disinilah tempat yang menurutnya tepat untuk mendapatkan ketenangan.

 
Wanita yang sedari tadi memunggunginya memutar kepalanya ke belakang. Dengan sorot mata yang sedikit tajam membuat Raina terhenyak dari posisinya. “ini musim semi bagaimana jika kita piknik di bawah pohon sakura layaknya sebuah keluarga yang hangat” ucap wanita itu sedikit tersenyum. “ini sudah terlalu lama bukan”sambungnnya lagi. “hmm” Raina menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum.

 
Wanita itu memutar posisinya hingga ia kini berada di depan Raina. Ia mengusap lembut rambut Raina. Raina berdiri dan menggandeng tangan ibunya. Mereka beranjak dari kamar. Mereka berjalan mengelilingi Osaka. Raina menuntun ibunya ke beberapa pusat perbelanjaan yang terkenal disini. Tak lupa ia juga mengajak ibunya untuk mencicipi Takoyaki, Kushikatsu, Okonomiyaki di sebuah restoran terdekat. Ia begitu hafal tempat-tempat yang menarik di Osaka. Ia membawa ibunya ke sebuah kuil tertua di Osaka yang biasa dikenal dengan nama Shitennoji. Di kuil ini banyak dikunjungi pengunjung untuk berdoa maupun untuk sekedar berjalan. Mereka tak mau begitu saja melewatkan ritual yang dipercaya oleh masyarakat Jepang untuk berdoa di dalam kuil. Konon katanya jika meminta permohonan di dalam kuil ini semua permohonan akan terkabul. Mereka memasuki kuil dan mulai mengucapkan permohonan. Setelah itu mereka pergi mengunjungi tempat lain.
Raina menarik tangan ibunya menuju taman yang di tumbuhi banyak sekali bunga sakura. senyuman tak pernah pudar di wajah Raina. Ia sangat bahagia bisa menikmati musim semi terakhir di bulan ini bersama ibunya. Walau sebelumnya ia hanya menikmatinya seorang diri. Ia sebisa mungkin menepis semua pikiran buruk terhadap ibunya disini. Ia sadar semua yang dilakukan ibu itulah yang terbaik untuknya. Mereka juga membeli beberapa bekal untuk piknik dadakan ini.

 
“ibu coba ini” suguh Raina dengan memasukkan Sakuramochi ke mulut ibunya. Wanita itu mengunyah Mochi yang terbuat dari bunga sakura ini. Ia membentuk senyuman di bibirnya serta mengacungkan jempolnya pada Raina. Ibu dan anak itu telah bercengkrama duduk di bawah tikar piknik sembari menikmati mekarnya bunga sakura terakhir di bulan ini. tampak keakraban di antara keduanya. Raina merebahkan badannya dan menyenderkan kepalanya di atas paha ibunya.
Raina menatap langit yang di sertai arakan awan putih. Ia memejamkan matanya beberapa saat dan membukanya lagi. Ia memegang tangan ibunya yang tadinya mengusap-usap kepalanya.

 
“maafkan aku bu” kalimat itu keluar begitu saja di mulut Raina. Gadis belia yang masih berusia 17 tahun itu meminta maaf untuk yang pertama kalinya pada ibunya. Wanita yang sedari tadi tersenyum dibuat kaget dengan pernyataan Raina.
“ini pertama kalinya kamu meminta maaf” wanita itu tercengang dan memperhatikan setiap lekukan wajah Raina lekat. Raina tersenyum. Ia tak ingin menyesal. Ia tak mau ibunya sedih dan selalu cemas. Ia sadar ucapannya itu akan membuat ibunya sedih. “ibu lihat bunga sakura itu”tangannya menujuk salah satu bunga sakura. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya ia kembali berujar “ aku ingin seperti bunga sakura. Bunga yang sangat indah dan selalu dinantikan setiap orang. Bunga yang selalu tumbuh mekar di musim semi. Bunga yang membuat semua orang tersenyum bahagia memandanginya. Bunga yang membuat kedamaian di hati siapapun yang menatapnya. Dan bunga yang hanya tumbuh kembang di negara ini”Raina menghela nafasnya “berdamailah dengan pria tua itu agar aku bisa tersenyum” kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Raina pada ibunya di tutup dengan senyum simpul.

 
Cristal bening jatuh tepat di kening Raina. Wanita itu terisak. Ia paham betul maksud yang diucapkan Raina. Ia membekap mulutnya dengan sebelah tangannya agar suara tangisnya tak di dengar Raina. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Bukan kata itu yang ingin di dengar olehnya. “jangan bicara seperti itu lagi rein. Kamu membuat hati ibu sakit” suara wanita itu serak dan mencoba dengan nada yang tegar.

 
“belajarlah dari rasa sakit karena rasa sakit yang kita terima dapat mendewasakan kita bu. Aku sudah membuktikan itu. Tuhan tidak akan pernah menguji hambanya di luar batas kesanggupan hambanya. ” Raina memperbaiki posisi hingga berhadapan dengan ibunya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air mata ibunya. “terkadang kita harus menerima tanpa harus menyesalinya. Tak ada yang harus kita sesali sementara kita sudah memiliki semuanya bu. Kita patut bersyukur dengan apa yang sudah diberikan allah kepada kita” Raina menatap ibunya lama sebelum ia memeluk ibunya.

 
Wanita itu menangis. Ia memeluk Raina erat. “seharusnya ibu yang minta maaf. Ini semua salah ibu. Semua kesalahan ibu di masa lalu yang membuat mu tersiksa. Seharusnya ibu yang menanggung dosa ini bukan kamu nak” ucapnya di sela-sela tangisnya.

 
sudahlah bu. Takkan ada seorangpun manusia yang tak memiliki dosa di dunia ini. ibu tak pernah salah, aku yakin ibu punya alasan tertentu. Berjanjilah padaku untuk berdamai dan memaafkan ayah” Raina mengusap-usap punggung ibunya lembut.

 
“sampai kapan pun aku tak pernah mau berdamai dengan pria tua itu. Dia sudah membuat hidup kita tak tenang. Bahkan ibu harus berpindah-pindah kota bahkan negara demi kamu nak. Agar dia tak merampas mu dariku

 
Angin musim semi bertiup lembut. Sangat lembut. Itu bisa dirasakan oleh Raina dan ibunya. Perlahan air mata wanita itu mengering seiring dengan bekas luka yang ada di hatinya. Raina menatap langit yang mulai bewarna kemerahan. Langit sore Osaka yang paling disukainya. Wanita yang kini berada di sampingnya juga memandang langit sore yang sangat disukai Raina. Raina sangat menyukai langit sore karena langit sore itu indah. Langit yang merupakan pembatas antara siang dan senja.

 

Luka yang menyayat hati tak selamanya perih
Sakit yang menumbuhkan kedewasaan
Sakit dan luka membuat kita belajar
Belajar mengetahui goresan-goresan luka
Belajar memahami diri
Belajar untuk menerima tanpa harus menyesali
Lihatlah bunga sakura itu
Ia begitu istimewa
Walau ia tumbuh berkala namun tetap dirindukan
Dan rasakan angin ini
Ia bergerak dengan bebas tanpa ada belenggu
Aku ingin hidup seperti langit sore
Aku juga ingin terlahir seperti bunga sakura
Dan aku ingin merasakan kebebasan seperti angin ini
Hidup tak sesakit apa yang kita rasa
Hanya saja kita tak perlu menyesali apa yang kita terima
Sebuah permohonan yang hanya diketahui oleh aku dan tuhan

——– Raina ——-

Raina tersenyum. Ia menggenggam erat tangan ibunya. Entah mengapa hari ini ia merasa sangat lelah. Hingga kepalanya ia rebahkan di pundak ibunya. Wanita itu mencoba sebisa mungkin menyembunyikan sakit dan luka hatinya. Ia akan menrima semuanya mulai saat ini. Karena ia sudah berjanji pada Raina untuk memaafkan dan menerima hidupnya. Terkadang ia merasa malu pada dirinya. Ia tak cukup dewasa dari Raina. Bahkan Raina seorang gadis remaja yang memiliki sakit dan bekas luka yang cukup parah bisa menerima semuanya dengan tegar. Semua karena ia terlalu gengsi untuk mengatakan maaf. Ia lihat Raina tersenyum di pundaknya. Ini seperti mantra Renovatio, kembali ke masa lalu untuk perbaiki yang buruk.

The End

Baca Cerpen Lainnya: Ternyata Bukan Kamu By Eka

SHARE
Previous articleKampung Tradisi Matrilinial Sijunjung, Sumatera Barat
Next articleCerpen, Ikhlas By Ummul Fatya
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com