Kisah Perjalanan Hidup Wanita Paruh Baya

1708

wanita Paruh Baya

Oleh : Sarda Yulivo Ardilla

Wanita Paruh Baya

Kisah Hidupan Wanita paruh baya – indak, pai lah kau surang!!” (“ tidak, pergi lah kau sendiri!”) teriak adi kepada ibunya, “ pai lah nak, kaki ama sakik, ndak talok di garik an lai do, ama ndak bapitih do nak, mintak se lah ka uni Ar tuh, pitih kue bawang patang ado mah” (pergi lah nak, kaki ibu sakit, tidak bisa di gerakkan lagi, ibu tidak punya uang nak,minta saja ka uni Ar tuh, uang kue bawang kemaren masih ada tuh”) jawab ibunya dengan suara iba sambil mengusap – usap kakinya dengan balsem, “indak cek den!! Mintak an a, den ka pai lai a!!” (tidak kata ku!! Mintakan, saya mau pergi!”) maki adi sambil berteriak ke ibunya, tanpa rasa iba, ibunya pergi ke kedai uni Ar untuk meminta uang kue bawang kemaren, dengan tubuh lelah,dengan langkah gontai agak di seret, “One” itulah panggilan ibu adi itu, “ Ar, lai ado pitih kue bawang patang Ar?” (“Ar ada uang kue bawang kemaren Ar?”) “ lai ne, abih sado mah, ndak do kue bawang lai do ne?” (“ ada ne, sudah habis kue nya, ada one buat kue bawang lagi ne?”) jawab uni Ar kepada One “ indak Ar, kaki One sakik, ndak bisa buek kue do, besuak se lai” (“ tidak Ar, kaki One lagi sakit, tidak bisa buat kue lagi besok saja lagi Ar”) tukas One, “ o begitu” sahut uni Ar.

 

One pun pulang membawa uang Rp.25.000 sambil sesekali menyeka peluh di keningnya dengan tergopoh gopohnya sambil menahan rasa sakit dikakinya One pun pulang ke rumah memberi anaknya uang jajan Rp 5.000 “ apo nan dapek ko!!” tambahlah!!” (“apa yang dapat dengan uang Rp.5000, tambah duitnya!) gertak adi, dengan hati iba si ibu memberikan uang yang ditangan nya tersebut sebanyak sepuluh ribu rupiah, tinggallah ditangannya sepuluh ribu lagi yang digunakan untuk kebutuhan memasak.

 

Begitulah kehidupan One, mempunyai anak 13 orang tapi kebanyak seperti itu anak anaknya kepada ibunya ini, “kasih ibu sepanjang masa” yah pepatah ini memang benar adanya bagi One, karna seorang ibu selalu menyayani anaknya, tampa pamrih, ikhlas, tulus. Sedangkan anak? “kasihnya sepenggal penggalan” yah pepatah ini benar, 10 orang anak beliau, sembilan orang telah menikah, jarang mereka menjenguk ibunya, karna mereka telah memiliki kehidupan yang baru.

 
Di dalam segi pangan, sangat jarang sekali perempuan paruh baya ini memakan daging, jangankan memakan daging ataupun ayam, memakan ikan saja ibu ini sangat jarang, karna ketidaksanggupan untuk membeli makanan tersebut, pekerjaannya tidak menentu, kalo ada modal, beliau jual kue bawang dan dititip di kedai kecil dekat rumahnya, tapi jika modal tidak ada, beliau mencari upah, ke sawah orang untuk mendapatkan sesuap nasi.

 
One, berumur 60 tahunan, semenjak ditinggal oleh suaminya sekitar sepuluh tahun yang lalu semenjak itu dia merasakan penghidupan yang sulit, wanita ini tinggal di surantih, sebuah kampung dari kab. Pesisir selatan, sumatera barat, kini tinggal beliau seorang diri mencari nafkah menafkahi anak anaknya, walaupun sekarang anak beliau sudah banyak yang menikah, tapi tidak jarang mereka sering meminta uang kepada ibunya, bukannya memberi tapi mereka malah meminta, tidak tahu apa yang difikirkan anak anak One ini, mereka tidak menghiraukan keadaan ibunya yang janda, yang menafkahi adiknya yang masih SMA dan banyak mengeluarkan duit karna SMA disana masih membayar, tidak ada beasiswa yang anak beliau dapat,tapi dengan tekad yang kuat anak One tersebut ingin juga sekolah walaupun hanya sampai SMA.

 
Bila malam menjelang, rumah mereka yang dari kayu, dan atapnya dari daun nipah itu terasa dingin menusuk tulang, karna banyak atap rumah beliau yang bolong bolong dan One menutupi atap yang bolong tersebut dengan kardus bekas, agar apabila hujan airnya tidak membasahi rumahnya, tapi apalah daya kardus sebagai penutup tersebut tidaklah bertahan lama hujan masih masuk ke dalam rumah tua yang sudah mulai condong tersebut karna lapuk, penerangan hanya lampu togok, yaitu botol botol bekas yang diisi minyak tanah lalu diberi sumbu, hanya itu penerangan apabila malam menjelang di rumah tersebut, padahal sekarang listrik adalah bisa menjadi kebutuhan primer masyarakat modren sekarang ini tapi apalah daya karna keterbatasan ekonomi beliau tidak mampu membayar dan membeli amper meter listrik dan biaya listrik perbulan tentangga nya sudah memberi mereka listrik dahulu tapi One tidak dapat membayar perbulannya karna jangankan untuk membayar listrik, mencukupi makan sehari hari saja beliau susah. Anaknya mereka tidak ada yang mengasihi ibunya, walaupun ada, mereka mengirim uang palingan tidak banyak, karna hidup mereka juga berkecukupan. Disudut sekolah smp di nagari surantih ini beliau tinggal, dan itupun tanah tompangan, One ini tinggal seorang diri, bersama anak bungsunya yang masih SMA, dengan badan yang sering sakit sakitan, tempat mengadu tidak ada, ibu janda ini masih juga merasakan penderitaan ekonomi yang sedimikian buruk, ditengah tengah kehidupan masyarakat yang berlomba lomba membeli gadget baru, kendaraan baru, tapi hebatnya, beliau tidak pernah mengeluh atas kehidupan ini, beliau selalu bersyukur atas rahmat tuhan, beliau bekerja keras menghidupi anak anaknya, inilah pelajaran yang dapat kita petik dari penghidupan wanita paruh baya ini, sesungguhnya tuhan selalu bersama dengan orang yang sabar.

 

***

Gimana menarikan Kisah Kehidupan wanita paruh baya  diatas?… Ayo buat teman – teman yang juga hobi menulis atau yang sudah punya karya tulis baik berupa cerpen, tips dan artikel menaik lainnya, daripada terpendam dalam catatannya kirim yuk ke Lebahmaster.com biar dibaca banyak orang dan tulisan kamu banyak manfaatnya.