Dagelan Pilkada yang Tak Lucu

1669

Dagelan Pilkada yang Tak Lucu

Dagelan Pilkada – Menjelang digelarnya ‘hajatan besar’ pemilihan kepala daerah serentak pada 9 Desember nanti, muncul fenomena baru, dimana di beberapa daerah, kontestan yang akan bertarung dalam pemilihan, hanya satu pasangan calon. Padahal UU Pilkada mensyaratkan, pemilihan bisa dilangsungkan bila diikuti oleh minimal dua pasangan calon. Maka, bila hanya ada satu kontestan, pemilihan di daerah tersebut terpaksa ditunda sampai tahun 2017.

Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebagai penyelenggara pemilihan, bukan berarti berdiam diri saja menyikapi fenomena itu. Komisi pemilihan kemudian memutuskan untuk memperpanjang masa pendaftaran hingga 3 Agustus 2015, dengan harapan di daerah yang masih memiliki satu pasangan calon, bisa muncul pasangan calon baru yang mendaftar. Tapi hingga ditutupnya perpanjangan masa pendaftaran, Senin 3 Agustus, masih ada tujuh daerah yang masih memiliki pasangan calon tunggal. Padahal ketujuh daerah itu, adalah daerah-daerah yang akan menggelar pemilihan serentak pada 9 Desember 2015 nanti. 

Ketujuh daerah tersebut adalah, Kota Surabaya, Pacitan, Mataram, Samarinda, Timor Tengah Utara, Tasikmalaya dan Blitar. Kemudian, Presiden Jokowi berinisiatif menggelar pertemuan dengan pimpinan lembaga tinggi negara, termasuk KPU, Bawaslu dan DKPP. Dan, usai pertemuan, Bawaslu mengeluarkan rekomendasi, KPU disarankan memperpanjang kembali tahapan pendaftaran. Komisi pemilihan pun kemudian meresponnya, dengan memperpanjang waktu pendaftaran calon kepala daerah dari tanggal 9 sampai 11 Agustus. Setelah diperpanjang, tersisa hanya empat daerah yang memiliki calon tunggal, yakni Kabupaten Tasikmalaya, Timor Tengah Utara, Blitar dan Kota Mataram.

Namun kasus di Surabaya dan Pacitan yang sungguh menarik. Seperti diketahui, di detik terakhir ditutupnya pendaftaran pada tanggal 3 Agustus 2015, PAN dan Partai Demokrat tiba-tiba datang mencalonkan pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang diusungnya. Pasangan yang diusung dua partai tersebut adalah Dhimam Abror-Haries Purwoko.

Namun, saat mendaftar, dan proses pendaftaran hanya tinggal menunggu tanda tangan dari pasangan calon, Haries Purwoko, calon Wakil Wali Kota tiba-tiba pergi keluar dari ruang pendaftaran karena ditelepon seseorang. Tapi, setelah itu Haries, calon Wakil Wali Kota yang disodorkan Partai Demokrat itu menghilang tanpa sempat membubuhkan tanda tangannya. Alhasil, tanda tangan pasangan calon hanya dilakukan oleh calon Wali Kota, Dhimam Abror. Hingga malam,sang calon Wakil Wali Kota tak kembali lagi menampakan batang hidungnya di kantor KPU Kota Surabaya. Bahkan, sampai KPU memutuskan menunggu sampai pukul 00.00 Wib, Haries tetap tak muncul. Alhasil, pendaftaran pasangan calon dari PAN dan Demokrat itu pun batal. Dengan batalnya pasangan Abror dan Haries mendaftar, maka kontestan Pilkada Kota Surabaya tetap satu pasangan calon yakni, Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana, yang diusung PDIP. Karena hanya satu pasangan calon, maka Pilkada di Kota Surabaya terancam ditunda hingga 2017. Karena menurut aturan, kontestasi politik di daerah, minimal harus diikuti oleh dua pasangan calon.

Kisah ‘kaburnya’ calon Wali Kota Surabaya, Haries Purwoko sebelum membubuhkan tandang tangan pencalonan pun membuat geger. Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti menyebut kisah ‘kaburnya’ Haries Purwoko, sebagai dagelan politik yang tak lucu.

Menurut Ray, apa yang terjadi di Surabaya merupakan peristiwa pertama kali yang terjadi sepanjang  sejarah pemilihan di Indonesia. Baginya cerita di Surabaya adalah lelucon politik yang memuakan, serta sama sekali tak memberi pendidikan politik bagi rakyat.

Ajang Pilkada ini menjadi lelucon luar biasa,” kata dia.

Selain itu, kata dia, peristiwa ‘kaburnya’ calon Wakil Wali Kota Surabaya saat pendaftaran, membuktikan bahwa partai gagal melakukan kaderisasi. Sehingga partai, tergagap begitu dihadapkan pada situasi yang mengharuskan mereka harus segera menyiapkan calon pemimpin. Ini juga dampak dari cara partai yang selalu menempuh jalan pragmatis dalam proses pencalonan kepala daerah. Praktek mahar, menjadi salah satu biang keladi, mengapa partai selalu saja ‘ribut’ menjelang pencalonan kepala daerah.

Peristiwa yang tak jauh berbeda terjadi pula di Pacitan. Menurut Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, pada tanggal 3 Agustus 2015, sebenarnya ada satu pasangan calon baru yang mendaftar ke KPU setempat. Tapi, pendaftaran ditolak, karena yang datang mendaftar ke KPU, hanya calon kepala daerah, tanpa ditemani calon wakilnya. Alhasil, Pacitan pun tetap hanya satu pasangan calon dan pemilihannya terancam ditunda.
Lain halnya dengan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Saat dimintai komentarnya tentang mundurnya pasangan calon di Kota Surabaya saat pendaftaran, Tjahjo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Bahkan, mantan Sekjen PDIP itu terlihat ‘kesal’. Ia pun menuding, ada upaya sabotase untuk menggagalkan Pilkada di Kota Surabaya. Ada semacam ‘strategi’ untuk menjegal Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana, duet yang diusung banteng moncong putih.

Soal calon tunggal pasti ada sabotase. Sabotasenya itu contoh kalau di Surabaya menggagalkan bu Risma,” kata Tjahjo gedung Lemhanas, Jakarta.

Tjahjo tak habis pikir, ada seorang calon yang tiba-tiba ‘menghilang’ lalu batal mendaftar. Dan, itu adalah peristiwa langka yang baru pertama kali terjadi. Karena itu ia menduga, itu sebuah upaya sabotase untuk menggagalkan Risma naik untuk periode keduanya.

Di Surabaya, hanya wakil wali kotanya tiba-tiba hilang,” kata dia.

Tri Rismaharini sendiri, usai bertemu dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, sepertinya tak ambil pusing dengan batalnya ‘penantang’ dia di Pilkada Surabaya. Risma mengatakan, selama ini ia tak pernah pakai ‘mahar’ untuk kembali maju dalam pemilihan. Sehingga tak ada beban baginya, bila memang ia harus batal ‘bertanding’ di Pilkada. Bahkan dengan lugas Risma mengatakan, jika tak jadi berkompetisi, ia bisa bekerja di tempat lain. 

Baca Artikel Lainnya : Sehari Bersama Ibu Risma Merakyat Penuh Cinta Berbahagia