Dari Tembakau, Petani Bisa Bangun Rumah”

1284

Walau hanya Petani Tembakau, Bisa bangun Rumah

Petani Tembakau Sukses Bangun Rumah

LebahMaster.Com – Di Indonesia, stigma yang dilekatkan pada profesi petani, adalah kehidupannya yang pas-pasan. Pendek kata, jadi petani susah kaya dan bangun rumah. Stigma itu keliru, kata Koordinator Koalisi Nasional Penyelemat Kretek Indonesia atau KNPK, Zulvan Kurniawan, dalam sebuah diskusi, di Jakarta.

Dari tembakau, petani bisa bangun rumah, kata Zulvan. Jadi stigma petani hidupnya selalu kembang kempis tak seluruhnya benar. Buktinya, lewat tembakau, petani bisa tersenyum gembira menikmati hasil taninya.

Ia pun bercerita, pernah satu ketika membawa kawannya seorang peneliti dan pengamat pertanian ke daerah penghasil tembakau. Kawannya terperangah, melihat hidup petani tembakau yang bisa dikatakan cukup, bisa bangun rumah, dan barang sekunder lainnya.

Kata dia, ternyata petani tembakau bisa  bangun rumah. Ini kan karena stigma yang dibangun selama ini bahwa  petani itu  miskin,” kata dia.

Tembakau dan hasil pertanian lainnya, kata dia, sebenarnya potensinya berlimpah di Indonesia yang notabene adalah negara agraris. Hanya saja, potensi itu salah urus. Nasib petani pun seperti warga kelas dua, keberadaannya banyak disebut-sebut, tapi tak diperhatikan. Misal, soal tata niaga hasil pertanian di Indonesia itu tak pernah ada yang beres. Alih-alih mensejahterakan petani, tapi justru mencekik petani.

”  Di Indonesia, saya tanya  ada enggak tata niaga yang beres. Tak ada satupun yang beres. Dari ketela  pohon sampai cabe merah, lha itu ibaratnya Pasar  Induk Kramat Jati  semua yang tentukan harganya,“cetusnya.

Di Madura, kata dia, ada sebuah pameo, bila tak ada tembakau, maka tak ada duit. Tembakau bagi para cak di pulau penghasil garam itu bisa dikatakan adalah tambang rupiah. Hasil dari bertanam tembakau cukup menjanjikan.

Ibaratnya bila cabe sekilonya sudah mencapai 40 ribu, kira-kira tembakau itu ya 250 ribu per kilonya,” ujarnya.

Di Provinsi Jawa Timur, selain Madura, banyak kabupaten yang penduduknya menggantungkan penghidupannya pada tembakau. Bahkan, produksi tembakau di provinsi paling timur Pulau Jawa itu bisa memenuhi 60 persen kebutuhan nasional.

Dan memang lahannya paling luas. Sentranya tersebar mulai dari Ngawi, Banyuwangi, Pacitan dan Lumajang. Tercatat  22 kabupaten sentra penghasil tembakau di Jatim,” katanya.

Di luar Jawa Timur, provinsi lain yang menjadi sentra produksi tembakau adalah Jawa Tengah. Total produksi tembakau di sana, 20 persen dari kebutuhan nasional.

 

10 persennya, terbagi dari NTT, Bali, Jambi, Lampung, Sumsel, sebagian Sumut, seperti Deli,” katanya.

Bahkan, tembakau Indonesia juga ada yang bisa menjadi bahan baku cerutu. Misalnya tembakau dari Klaten, Jember dan Pacitan. ” Semua bahan baku ada disini,” kata dia.

Namun, dari total produksi tembakau yang dihasilkan petani tembakau tanah air, belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri tembakau. Produksi tembakau dalam negeri, baru mampu memenuhi 170 ribu ton pertahun dari total 250 ribu ton yang dibutuhkan industri tembakau setiap tahunnya.

Sebanyak 80 ribu ton setiap tahunnya di impor,” kata dia.

Bahkan tiap tahun, impor tembakau semakin tinggi. Dan itu juga dipengaruhi konsumen yang lebih menyukai rokok mild. Itu juga tak lepas dari keluarnya PP Nomor 81, tentang kandungan tar dan nikotin yang harus rendah.

Otomatis kalau ingin begitu, ya pakai tembakau virginia. Dan itu harus impor. Semakin digemari, angka impor semakin tinggi,” kata dia.

Kata dia, perilaku konsumen dibentuk oleh produk. Dan produk di tentukan oleh regulasi.

”  Kalau RPP Tembakau semakin ketat, dan dengan begitu semakin  tak ada tempat bagi kretek Indonesia. Lama kelamaan akan terancam,” kata Zulvan.

Ia berharap, petani tembakau tak dibunuh nasibnya. Karena ia melihat RPP Tembakau yang bakal dilansir pemerintah, semangatnya tidak murni kesehatan. Tapi ada udang kepentingan di balik regulasi itu yang mengancam kelangsungan hidup petani tembakau Indonesia.

Zulvan pun menuding, kepentingan pebisnis farmasi dan nikotin ikut masuk dalam regulasi tembakau itu. Ada beberapa pasal yang ia anggap kontroversi dari RPP itu.

Pasal 58 yang paling menganggu. Bahwa  penggunaan tembakau  untuk  pestisida, kosmetika. Padahal  yang menyerap tembakau ya  industri kretek. Kalau begitu ya tanaman petani tak ada yang beli. Ini kan sama saja  yang dibunuh ya petaninya,” ujar Zulvan.

Menurut Zulvan,  perdagangan tembakau, adalah bisnis yang menggiurkan. Nilai perdagangan tembakau global itu sendiri selalu naik tiap tahunnya. Data pada 2011,mencatatkan nilai bisnis tembakau mencapai 4,6 milyar dollar Amerika Serikat.

Ini bisnis yang sangat besar,” kata dia.

Karena itu, kata dia,  tak mungkin dengan nilai bisnis tembakau global sebesar itu,perusahaan asing tak berkepentingan dengan Indonesia. Sebab dengan penduduk sebesar 200 juta, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan.

Makanya saya tak yakin  regulasi  yang dirancang itu bebas kepentinga dan  murni untuk  kesehatan saya rasa tak seperti itu,” ujarnya.

Indonesia adalah pasar empuk industri tembakau. Berpenduduk 100 juta. Dan perokok di Indonesia di perkirakan mencapai 80 juta orang.

Ini tentu pasar yang potensial,” katanya.

 

Baca Juga : 7 Hal Penting yang Harus Ada Pada Pengusaha, No 5 Wajib Tahu