Derita Korban Asap, Pergi Sulit, Pulang Pun Susah

1013

Derita Korban Asap Kesusahan Pulang Pergi

Derita Korban Asap, Pergi Sulit, Pulang Pun Susah

Korban Asap – Kamis malam, 17 September 2015, saya bertemu dengan seorang wartawan asal Jambi. Dia datang ke Jakarta untuk sebuah keperluan. Karena sudah kenal, dan ingin sekedar ngobrol ngalor ngidul, ia pun mengundang saya menemaninya di Jakarta, Kamis malam itu. 

 

Sambil menikmati kopi, ia pun mencurahkan uneg-unegnya. Yang dicurahkan, tak lain adalah soal bekapan asap yang mengepung daerahnya, Jambi. Ia mengaku sangat tersiksa. Kerja dia sebagai jurnalis terganggu, meski bencana asap bisa jadi berita. Tapi, melihat penderitaan warga yang terganggu oleh asap, bahkan kini banyak yang terserang ISPA atau penyakit pernapasan, ia sangat marah juga kecewa. Penanganan asap, dirasakan terasa lambat. 

 

Enaknya di Jawa tak ada asap. Bisa tenang. Di sini palingan hanya ada asap kendaraan ha.ha.ha.ha,” ha.ha.ha.ha,” katanya sembari tertawa getir. 

 

Ia pun kemudian bercerita tentang pengalamannya meliput bencana asap. Kata dia, waktu 1996, dia menjadi saksi bagaimana pasukan Bomba atau pasukan pemadam kebakaran dari Malaysia datang ke Jambi ikut memadamkan asap. Mereka datang dengan semangat, dibekali peralatan pemadam lengkap. Namun, akhirnya pasukan Bomba menyerah. Karena memang tanah di Jambi itu adalah tanah gambut, yang tak bisa kemudian semata memadamkan api di atas permukaan tanah. Sementara di tanah gambut, titik api itu mengendap di dalam tanah. 

 

Mereka datang bawa peralatan pemadam hanya untuk memadamkan api di permukaan tanah. Mereka berjibaku, tapi akhirnya menyerah. Lalu mengkaji, tak bisa memadamkan api di tanah gambut mengandalkan peralatan pemadam untuk permukaan tanah, seperti semprotan. Mereka menyarankan peralatan pemadam yang bisa menginjeksikan pemadaman ke dalam tanah,” tuturnya.

 

Saran itu disampaikan ke pemerintah, juga ke pemerintah daerah Jambi. Tapi nyatanya, bencana asap kembali terulang. Pada 1998, asap kembali mengepung Jambi. Pun ketika SBY berkuasa, asap kembali datang menyekap Jambi dan beberapa wilayah di Sumatera. Tapi, saran dari pasukan Bomba, tak pernah diwujudkan.

 

Ya akhirnya seperti ini lagi. Asap datang dan datang lagi,” kata dia.

 

Dan, ia pun merasakan derita menjadi Korban asap serta susahnya keluar dari Jambi. Ia misalnya ketika mau pergi ke Jakarta, kerap pergi dulu ke Palembang, setelah itu nyambung ke Jakarta.

 

Seperti kemarin, bandara di Jambi lumpuh, saya sampai harus tidur di mushola menunggu kabut asap pergi,” kata dia.

 

Jumat pagi, 18 September 2015, ia harusnya terbang pulang ke Jambi. Jumat siang, sehabis solat Jumat, tiba-tiba dia mengirimkan pesan, katanya dia belum bisa terbang ke Jambi. Di Jambi, kabut asap kembali menggila. Harusnya dia sudah terbang pulang ke Jambi pukul 08.00 pagi dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. 

 

Saya belum bisa pulang. Ini masih di bandara,” ujarnya.

 

Dan yang bikin dia marah, pihak maskapai seperti tak peka. Maskapai memberi pilihan, bisa menerangkan penumpang tujuan Jambi ke Palembang. Tapi, ongkosnya mesti membayar dua kali lipat. Atau memilih menunggu sampai pesawat bisa terbang ke Jambi. 

 

Bisa terbang,  orang harus cansel. Lalu terbang ke Palembang dengan harga dua kali lipat, kalau mau cepat ke Jambi atau nunggu sampai pesawat bisa landing di Jambi. Cari untung juga maskapai,” katanya via layanan pesan pendek telepon genggam. 

Baca Juga :

Ini Jumlah Tentara Yang diKerahkan Untuk Mengusir Asap

Baca Juga :

Ini Perintah Presiden Jokowi Soal Bencana Asap