Di Sekolah Ini, Game Jadi Mata Pelajaran

1301

 

Ilustrasi bermain game. Foto : Istimewa
Ilustrasi bermain game. Foto : Istimewa

Selama ini, mungkin banyak orang tahu yang melarang agar anaknya tak doyan main game. Tapi, mau apa lagi di era telepon pintar, dimana aplikasi game begitu banyak ditawarkan, hobi main game jadi trend tersendiri.

Main game, kini lebih mudah. Anytime, anywhere, bisa main game. Mau sambil buang air, mau sambil tiduran, di mobil, di kereta, bahkan di pesawat, bisa main game. Bisa main game online, atau yang diunduh dulu alias game ofline.

Ya, main game kadang jadi obat mujarab mengusir kejenuhan. Misalnnya, saat menunggu antrean di rumah sakit, game jadi penawar kebosanan menunggu nomor antrian. Begitu juga saat menunggu waktu boarding pesawat, game obat ampuh membunuh kejenuhan.

Terlebih lagi saat ini, layanan wifi melimpah. Banyak cafe yang menyediakan. Bahkan taman publik juga sudah banyak yang menyediakan layanan wifi. Apalagi kalau menginap di hotel, layanan wifi menjadi salah satu daya tarik untuk memikat calon penginap.

Maka kebiasaan main game pun makin menjadi. Kian menjadi, karena banyaknya aplikasi game dengan macam gaya dan kategori bisa diunduh kapanpun dari telepon genggam, baik yang gratis maupun yang berbayar. Tidak heran bila kemudian banyak yang ketagihan main game. Bahkan ada yang sampai pada tingkat keranjingan atau addictif. Nah ini yang sebenarnya berbahaya, kecanduan game. Bisa lupa waktu, lupa makan, dan tak jarang bisa memicu masalah, entah masalah psikologis, atau masalah fisik. Mengganggu kesehatan tubuh misalnya.

Orang tua pun ramai-ramai melarang anaknya main game. Sekolah-sekolah juga ikut melarang. Bahkan banyak yang memberi sanksi bagi siswa yang ketahuan main game saat di sekolah. Tapi, apa mau dikata, meski dilarang, anak selalu saja tak bisa lepas dari game. Namun tersenyat, ada sekolah yang bukannya melarang, tapi justru menjadikan game sebagai salah satu mata pelajarannya.

Nah, kisah tentang sekolah yang menjadikan game sebagai mata pelajaran, saya baca di Majalah Teropong. Majalah ini, saya temukan, saat saya menginap di Hotel Grand Duta, di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Saat saya nginap di hotel yang tak jauh dari Hotel Mercure, Palu, di meja dekat televisi tergeletak sebuah majalah. Majalah Teropong namanya. Edisinya, edisi Maret 2016.

Mungkin majalah itu disediakan untuk bahan bacaan tamu yang nginap di hotel tersebut. Setelah saya baca halaman demi halaman, ketemulah satu rubrik yang mengulas tentang game yang dijadikan mata pelajaran oleh sebuah sekolah di Negara Norwegia.

Nama sekolah itu Garnes Vidaregaande Skule. Sekolah ini terletak di Bergen, Norwegia. Pada Agustus 2016, mengutip berita di Majalah Teropong, sekolah tersebut akan memperkenalkan eSport, yang akan jadi bagian dari kurikulum mereka.

Game seperti League of Legends, Dota 2 dan Counter-Strike :Global Offensive akan jadi mata pelajaran tak wajib yang akan diajarkan lima jam tiap pekannya. Dalam beritanya, Majalah Teropong mengutip penjelasan Petter Grahl Johnstad, manajer pendidikan jurusan IPA di sekolah Garnes Vidaregaande. Menurut Petter, permainan atau gama digunakan tujuannya melatih bagaimana siswa bekerjasama dalam tim dan fokus.

Tapi, game yang akan dijadikan mata pelajaran, kata Petter, tak hanya game mekanik. Tujuannya, bagaimana siswa bisa bekerjasama secara tim, juga bisa mempelajari teori yang berhubungan dengan motivasi sebagai profesional gamer. Tapi yang paling penting adalah menumbuhkan semangat teamwork.

Nah kata Pak Petter lagi, siswa yang terbaik dari kurikulum tersebut, akan mendapat video card Nvidia GeForce GTX 980Ti. Tapi, mereka harus mengisinya sendiri.

Baca Juga:

Mengapa Murid Finlandia Bisa Pintar, Padahal Sekolah cuma 5 Jam Sehari tanpa PR dan Ujian nasional?