Dulu Intel, Sekarang Birokrat

1135

Dulu Intel Sekarang Seorang Birokrat

Soedarmo Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum
Soedarmo : Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum – source : kesbangpol.kemendagri.go.id

Lebahmaster.com, Jakarta- Siang itu, wajah lelaki usia paruh baya masih tampak segar. Senyumnya mengembang, begitu menyambut beberapa wartawan yang diundangnya bertamu ke ruang kerjanya di gedung Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Saya, salah satu yang diundang.
Ayo silahkan, silahkan. Sehat semua ini? ” katanya saat menyambut kami. Senyum lebar terulas di bibirnya.

 

Siapa sangka sosok yang ramah menyambut kami dengan senyum lebarnya itu adalah mantan orang yang hampir sebagian besar tugasnya dihabiskan dalam dunia intelijen. Dia, Soedarmo, seorang Mayor Jenderal.
Tapi kini ditugas barunya, ia tak lagi berstatus intel. Ia kini jadi birokrat, setelah diangkat oleh Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, sebagai Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum. Direktorat ini, dulu bernama Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik. Tapi, di era Presiden Jokowi, terjadi perubahan nomenklatur menjadi Ditjen Politik dan Pemerintaha Umum atau biasa di singkat Ditjen Polpum.

 

Kala masih bernama Ditjen Kesbangpol, Dirjennya juga seorang tentara berpangkat Mayor Jenderal. Dia adalah Mayor Jenderal, Tanribali Lamo. Sekarang, penggantinya pun sama dari kalangan tentara. Mungkin sudah jadi tradisi, Ditjen ini selalu dipegang oleh tentara. 

 

Di temani oleh Kepala Bagian Perundang-undangan Ditjen Polpum, Bahtiar, serta Sekretaris Dirjen, Budi Prasetyo, Soedarmo bercerita banyak tentang pengalamannya di dunia intelijen, serta tugas yang kini diembannya.

 

Saya ini ibaratnya dari lahir sudah ditugaskan jadi intel ha.ha.ha. Maksud saya sejak lulus, saya langsung bersentuhan dengan dunia intelijen,” katanya sambil terbahak.

 

Ia pun kemudian mengisahkan perjalanan karirnya. Katanya, usai lulus, ia langsung di tempatkan di Batalion 315 di Bogor, sebagai Komandan Peleton, berpangkat Letnan Dua. Di Batalion yang sama bertugas juga seniornya, Gatot Nurmantyo, yang sekarang jadi Panglima TNI. ” Saya Akmil angkatan 83″, kata Soedarmo.

 

Tak kemudian ia bersama Jenderal Gatot, dikirim ke Timor-Timur yang saat itu masih bergabung dengan Indonesia. Sekitar tahun 1984, ia pulang dari Timor-Timur. Gatot tugas di satuan lain, sementara dia sekolah. Setahun berikutnya, pada 1985, ia kembali dikirim ke Timor-Timur.

 

Saya jadi Danramil di  Manatuto Tim-tim,” katanya. 

 

Pulang dari Timor-Timur, ia dapat penugasan baru di Korem Suryakencana, Bogor. Pada 1992, ia dipindah tugas ke Bali, menjadi Kasi Pernikatek atau Kepala Seksi Perang Elektronik dan Teknologi. Tiba – tiba Sesditjen, Budi Prasetyo langsung menyela. ” Beliau ini ahli IT lho,” kata Budi. 

 

Soedarmo hanya tertawa menanggapi komentar sekretarisnya. Kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya. Kata dia, pada 1994, kembali ia ditugaskan ke Dili, Timor-Timur. Masih di bidang intelijen, ia bertugas. Selesai tugas dari Dili, baru katanya ia merasa tugas agak enak. Gaji pun dollar.
Pulang dari Dili, saya jadi staf di atase di Singapura. Gajian kita dollar, ha.ha.ha,” kata Soedarmo. 

 

Dia bertugas di Singapura dari tahun 1995-1998. Karena itu dia hapal betul situasi ketika banyak warga negara Indonesia eksodus ke negeri Singa tersebut. Saat itu pada 1998, di Jakarta, serta di beberapa daerah dilanda kerusuhan. Singapura katanya tiap hari kebanjiran orang Indonesia.

 

Pulang dari Singapura saya masuk Seskoad. Usai sekolah, saya kembali ke dunia intelijen, jadi Kabag di Pusat Intelijen TNI Angkatan Darat atau Pusintelad,” katanya. 

 

 

Setelah itu, ia jadi Dandenintel di Kodam VII Wirabuana di Makassar. Dari tahun 1999 sampai 2000, dia jadi komandan intelijen di Kodam Wirabuana. Selanjutnya ia dapat promosi, menjadi Dandim di Makassar. Usai jadi Dandim dia di tarik ke Badan Intelijen Strategis TNI (Bais). ” Saya jadi Pabandya A1 di Bais TNI,”ujarnya. 

 

Tahun 2003 dia diangkat  jadi Atase Pertahanan di Bangkok. Sampai 2006, di bertugas jadi Atase. Kemudian ditarik kembali ke Jakarta, bertugas di Markas TNI-AD. Tugasnya masih mengurusi masalah intelijen. Pada 2009, dia dapat bintang satu alias jadi Brigjen kala i diangkat jadi Direktur Sumatera Kalimantan Badan Intelijen Negara. Dan, pada 2011 ia jadi Kepala BIN Daerah Kalimantan. ” Terakhir saya jadi Staf Ahli BIN pada 2012, hingga kemudian Pak Tjahjo menarik saya ke sini jadi Dirjen. Birokrat sekarang saya, ha.ha.ha,” katanya.

 

Selama bertugas di dunia intelijen, ada pengalaman di medan tugas yang sampai sekarang tak pernah dilupakan. Kala itu ia bertugas di Maluku Utara, kala daerah tersebut dilanda konflik horisontal. Katanya, tugas di sana, adalah yang paling berat dan menguras emosi.

 

Beratnya begini, bukan karena tugas pokoknya. Tapi lihat  kondisi dampak dari konflik.  Bayangkan yang namanya nyawa tak dihargai. Kayak jaman jahiliah,  tak ada hukum. Kapolres saja tak bisa. Sedih saya,” tuturnya dengan mata menerawang membayang kembali masa tugas di Maluku.

 

Di sana, dia bertugas untuk mengumpulkan informasi intelijen. Ia bercerita, menanam orang-orangnya di dua kelompok yang sedang bertikai. Jadi, ia selalu dapat informasi, kapan, jam berapa, dan dimana kelompok A atau B yang berkonflik akan melakukan serangan. Informasi itulah yang kemudian ia pasok ke aparat yang bertugas. Tapi ada sebuah kejadian yang sampai sekarang masih ia ingat. Saat itu, dia sudah menyampaikan informasi, bahwa pada hari A, jam sekian, kelompok B bakal menyerang kampung C. Namun, pengamanan terhadap kampung C tak diperketat. Akibatnya, benar saja, kelompok B memang menyerang dengan kekuatan besar. Kampung C pun luluh lantak. Banyak anak-anak yang jadi korban. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan ‘pembantaian’ yang tak berkemanusiaan. 

 

 ” Kita pernah berperang, saling tembak menembak. Tapi, menyaksikan anak-anak yang tak berdosa jadi korban, saya tak bisa menahan emosi,” kata Soedarmo dengan suara tergetar. 

 

Kini, medan tugasnya tak lagi di medan konflik. Tapi, kata dia, tugas di Ditjen Polpum sebenarnya tak jauh beda. Karena salah satu tugasnya adalah melakukan deteksi dini terhadap potensi konflik yang mungkin terjadi. Dan itu erat kaitannya dengan ilmu dan kemampuan intelijen yang selama ini ia geluti.

 

Di sini kan salah satu tugasnya adalah melakukan deteksi dini. Kemampuan intelijen sangat diperlukan sekali. Bahkan harus,” katanya.

 

Karena itu, ia kini punya program, membekali jajarannya dengan ilmu serta teknik intelijen. Pelatihan intelijen pun sudah dilakukan. Apalagi sekarang, garis komando Ditjen Polpum sampai daerah sudah jelas. Jajarannya yang bertugas di daerah, ada dalam garis komandonya.

 

Sekarang Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik di daerah, bagian dari kita. Bukan lagi daerah. Jadi mereka adalah pegawai pusat yang ke daerahkan. Mulai dari penugasan, hingga rekrutmen, semua kita yang atur,” tuturnya.