Generasi emas – Pemerhati sosial dan tokoh bangsa yang peduli terhadap generasi muda Indonesia mengadakan forum diskusi dengan tema “Mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang Tangguh” untuk menyiapkan dumber daya manusia dalam menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia nantinya.  Karena generasi pemimpin yang berkualitas pada masa mendaatang akan ditentukan dari penduduk usia muda saat ini.

Generasi Emas Anak Muda
Bertempat di Gedung Joang 45, Menteng, diskusi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh antara lain Profesor Emil Salim, Buya Syafii Maarif, Profesor Saparinah Sadli, Profesor Toeti Heraty Nuradi, dan Profesor Komarudin Hidayat. 

 

 

Dalam diskusi itu, Emil Salim mengatakan, perjuangan 70 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia akan diteruskan kepada generasi muda di masa depan.  Indonesia akan memiliki peluang mendapatkan “Generasi Emas” yakni generasi yang kini berusia 30-tahun kebawah yang kelak di tahun 2045 akan menjadi pemimpin bangsa ini pada usia yang matang. Generasi inilah, menurut ilmu kependudukan, yang akan menjadi penduduk pengisi “bonus demografi” dengan jumlah yang besar dan beban keluarga yang kecil. 

 

 

Mereka punya potensi besar untuk mendorong pembangunan Indonesia pada tingkat optimal,” katanya.

 

 

Emil melanjutkan, potensi keberhasilan generasi muda angkatan “bonus demografi” terletak pada peningkatan mutu kualitas anak-anak yang sudah harus dipersiapkan sekarang juga.  Jaminan kualitas fisik dan mental yang baik dari anak-anak harus diupayakan secara maksimal oleh semua pihak.  Di saat yang sama, anak-anak calon generasi emas sekarang ini dihadapkan pada ancaman besar bencana kemanusiaan yang akan menurunkan kualitas mereka. 

 

 

Narkoba, miras dan rokok adalah “tri racun Utama” yang bisa menghancurkan kualitas dan kuantitas generasi emas anak bangsa.  Kata Emil, ancaman tri racun utama : narkoba miras dan rokok (Namiro) kini hidup berkembang bebas dalam masyarakat yang dipicu oleh kekuasaan uang dalam kualitas tata kelola governance yang mudah goyah dengan mentalitas politisi yang berorientasi sempit pada keuntungan pribadi.

 

 

Fakta kejadian menyusupnya pasal “kretek” bahan baku rokok dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan di Dewan Perwakilan Rakyat adalah contoh gamblang betapa “kekuasaan uang” telah meracuni kehidupan politisi kita sekarang ini,” tutur Emil.

 

 

Karena itu, kata Emil, dibutuhkan gerakan perlawanan masyarakat untuk menghentikan “tri racun narkoba, miras dan rokok” untuk menyelamatkan generasi muda dari ancaman kerusakan watak psikhis dan kesehatan fisik anak bangsa .   Sesuai dengan amanah UUD 1945 bahwa Negara harus hadir untuk melindungi segenap bangsa Indonesia.  Maka seruan dari masyarakat sipil ini ditujukan kepada pemerintah dan parlemen untuk melaksanakan amanah cita-cita bangsa tersebut. 

 

 

Sementara itu, Buya Syafii Maarif, mengatakan, rokok, miras, dan narkoba adalah sepupu. Sampai hari ini para penguasa, elit politik, belum siuman soal bahayanya. 

 

 

Kami, yang tak punya kepentingan ini, perlu bicara kepada kabinet dan DPR, supaya mereka mengerti.  Jika kita biarkan, berarti kita menggali kubur masa depan,” katanya.