Hebat, Putra Agus Salim, 4 Tahun Fasih Berbahasa Belanda

2097
Agus Salim
Agus Salim mendidik anaknya sendiri di rumah.

Siapa yang tak kenal KH Agus Salim. Dia adalah, salah satu tokoh nasional. Jasanya bagi negeri ini, tak terhitung nilainya. Agus Salim, adalah salah satu tokoh yang memberi warna dari republik ini.

Bersama tokoh lainnya, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan tokoh pendiri bangsa lainnya, Agus Salim, berjibaku dengan cara sendirinya membangun fondasi Indonesia. Ia selain pejuang tangguh, juga seorang diplomat ulung. Bahkan, penentang penjajah yang kuat memegang prinsip.

Agus lahir di 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Agus, sebelum jadi tokoh republik, ia pernah bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah, antara rentang 1906 sampai 1911. Dia mula-mula jadi leerling drogman atau magang penerjemah. Kemudian, diangkat jadi sekretaris penerjemah.

Sejak kecil, Agus sudah memperlihatkan sosoknya sebagai anak yang cerdas. Agus pernah sekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah ini, terbilang sekolah elit. Ini sekolah khusus bagi anak-anak Eropa di Hindia Belanda ketika itu.

Agus bisa sekolah disana, karena ayahnya, Sutan Mohammad Salim, adalah jaksa tinggi pada Pengadilan Negeri Riau. Jadi, bisa dikatakan, ayah Agus, adalah orang terhormay. Meski harus bersaing dengan anak-anak bule, Agus tak minder. Bahkan, di sekolah, Agus selalu jadi juara. Seorang gurunya, yang bernama Jan Brouwer bahkan sampai kepincut. Jan Brouwer meminta pada ayah Agus, agar bisa menggembleng Agus dengan langsung. Agus sendiri lulus dengan predikat juara.

Sembilan bahasa Agus kuasai, yakni bahasa Belanda, Arab, Inggris, Jerman, Perancis, Latin, Cina, Jepang, sampai bahasa Turki. Agus juga fasih bicara bahasa Jawa dan Sunda. Salah satu yang membuat tokoh nasional ini unik, adalah sikap kerasnya, termasuk dalam hal mendidik anak. Dari 8 anaknya, hanya satu yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan formal, yaitu Mansur Abdur Rachman Ciddiq, si bungsu. Sementara ketujuh anak lainnya, dididik langsung oleh Agus Salim dan istrinya.

Agus sendiri memang pernah berujar, ” Nanti kalau kita punya anak, kita tidak akan sekolahkan mereka.” Tekad tak menyekolahkan anak itu ditujukan Agus kepada istrinya, Zainatun Nahar. Zainatun kemudian menuturkan itu kembali pada putrinya Siti Asiah.

Maka, bahu membahu, Agus dan istrinya jadi pengajar bagi ketujuh anak-anaknya. Rumah pun jadi sekolah bagi anak-anaknya. Tapi, walau dididik dirumah, jangan sepelekan hasilnya. Tentang ini, Mohammad Roem, tokoh Masyumi punya cerita.

Roem, saat muda suka bertandang ke kediaman Agus Salim. Agus ketika itu, banyak disatroni para aktivis muda yang ingin belajar dan berdiskusi dengan Agus. Suatu saat Roem datang ke rumah Agus. Saat sedang ngobrol dengan Agus, tiba-tiba salah seorang putra Agus, Ahmad Sjauket Salim, yang berusia 4 tahun ketika itu mendekat. Ahmad Sjauket kemudian meminta ayahnya untuk menggaruk punggungnya yang gatal. Tapi, yang membuat Roem kaget, putra Agus Salim itu, mengucapkan permintaannya dengan bahasa Belanda yang baik.

Bocah 4 tahun itu sudah bisa bicara bahasa Belanda dengan baik,” kata Roem. Cerita Roem itu ada dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim. Siti Asiah sendiri, seperti ayahnya menguasai banyak bahasa.

#Setelah membaca Majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2013

Baca Juga:

Ini Bedanya Menteri Sipil dengan Menteri dari Militer