Ibu Aku Pulang by Rahmi

1131
Ibu Aku Pulang
Image Ilustration ” Ibu Aku Pulang “

IBU AKU PULANG

Ditulis dan dikirim Oleh Rahmi Rahmadini

Jumat pagi di halte bus aku sedang menunggu angkutan umum yang lewat, dingin masih terasa karena hujan semalam namun hangat sinar matahari pagi mulai menyapa, waktu itu lumayan lama aku menunggu angkutan yang kosong.. beberapa saaat menunggu.

 

angkutan umum tersebut lumayan penuh, aku melangkah masuk dalam bis tersebut dan mengambil bagaian tempat duduk nomor dua bagian belakang tepatnya hanya itu yang tersisa, pandangan ku menuju arah seorang anak bersama ibunya dan kemudian bus pun melaju, suasana sejenak hening yang membawa ku pada kenangan masa lalu sejenak aku melamun.

 

tahun yang lalu ketika aku berumur 20 tahun aku meninggalkan rumah begitu banyak hal yang yang bertentangan dengan Ibu, aku adalah anak perempuan satu satunya dikeluarga, aku tau ketika seorang ibu mengharapkan anak perempuan nya bersama dengan nya membeli hal-hal yang disukai, belanja bersama, dan memasak bersama , namun aku lebih memilih menjajahi dunia luar dan meninggalkan rumah, dalam perjalanan selama ini belum pernah aku pulang, semajak sore itu aku bertengkar hebat dengan ibu dan memilih meninggalkan rumah, aku hanya meyakini bahwa apa yang aku lakukan tak seharusnya dihalangi.

 

Bis lalu berhenti di halte berikutnya seorang anak yang bersama ibunya tadi turun di halte tersebut, mataku mengikuti anak tersebut sampai dia turun dari bus, lalu bus pun melaju meninggalkan pandangan ku terhapad anak tersebut, aku tersenyum ternyata perjalanan selama 7 tahun itu belum juga membuat ku cukup dewasa aku kembali melanjutkan lamunan ku, Hari ini aku akan pulang ada rasa kecemasan, malu namun juga rindu yang begitu luar biasa, Hari ini aku pulang, dan yang paling ingin aku tunjukan adalah aku telah berubah maksudku berubah dalam hal penampilan, dulu sewaktu aku remaja aku seperti anak laki-laki, tomboy, keras kepala, susah diatur, Aku ingin menunjukan sekarang aku jauh lebih feminim agar Ibu tak menyesali atau setidaknya luka yang pernah aku buat dulu terbayar dengan perubahan ku sekarang, hah sejenak aku tersadar betapa masih konyol nya pikiran ku ini.

 

 

Perjalanan masih 1 jam lagi menuju rumah, aku mengambil telepon genggam yang ada di tas dan menyalakan musik menggunakan headset sembari memutar music di handphone ku, aku menikmati perjalanan menyusuri sudut sudut jalan. Jalan yang masih aku ingat namun sekarang terasa asing karna banyak perubahan , ya seperti diriku sudah banyak berubah, lalu bus melewati persimpangan di sebelah kiri, persimpangan empat tersebut ada sebuah toko pakaian wanita aku tersenyum melirik toko itu nampaknya toko pakaian wanita itu masih sama seperti dulu, aku teringat ada satu kenangan bersama ibu di toko pakaian itu, sewaktu umurku masih 14 tahun ibu mengajak ku membeli pakaian itu bertepatan seminggu sebelum lebaran, kami menuju toko yang ada di persimpangan itu, selama kami berada dalam toko itu aku hanya memasang tampang kusut dan jengkel, lalu ibu memilihkan baju dress bewarna biru, memakai motif dan sangat manis, namun aku malah jijik melihat betapa feminim nya baju yang dibelikan ibu aku tidak berkomentar apapun sampai kami pulang, setiba dirumah ibu menyuruhku untuk mengenakan dress tersebut tapi aku merentakan kaki lalu berkata aku tidak suka dan tak akan memakainya. *Akhirnya bus berhenti di perhentian terakhir, sejenak aku tersentak dari lamunan ku semua orang turun dari bus, aku menanggalkan headset yang aku pakai dan mengemasi tas yang aku bawa, Aku melangkah menuju keluar dari bis, menginjakkan kaki di tanah dan menghirup udara, rasanya semakin sesak.

 

 

Aku berjalan menuju rumah melewati gang rasanya semakin sesak saja, tubuhku terasa lemah dan kakiku merasa berat, tidak beberapa jauh lagi aku akan sampai dirumah, sudut mataku memandang salah satu rumah yang ada di ujung, samar samar namun tampaknya masih sama ketika dulu, semakin lama semakin dekat dan jelas hingga aku berhenti di halaman rumah, aku tersenyum simpul melihat pohon cemara yang ada dihalaman rumah, Pohon yang aku rawat bersama ibu dulu, yah mungkin hanya ini kebiasaan yang sama seorang anak perempuan dan ibunya merawat pohon cemara ini. Pohon cemara ini begitu banyak menyimpan suara suara kecil ku. Aku kemudian melangkah menuju pintu masuk, aku memberanikan diri untuk kembali masuk seperti aku memberanikan diri saat aku memilih keluar dulu, seperti itu guman ku dalam hati. Aku masuk membaca salam lalu masuk ke rumah, aku melihat foto ku masih tergantung di dinding, aku menuju ke ruang tamu dan melihat beberapa keluarga dekat sedang berkumpul nampaknya orang tidak sadar akan kedatangan ku, beberapa dari mereka melantunkan doa dan Ayat Suci. Aku bertanya pada salah satu anak perempuan apa yang terjadi , ia menjawab ini tujuh hari kematian Ibu Asih, aku tersentak lidahku kaku nafas ku sesak di skala yang kesepuluh, air mata ku jatuh dan merasa penyesalan yang teramat, aku duduk bersimpuh dengan terisak dan meneriakan Ibu Aku Pulang…

 

Cerpen Lainnya : Waktu Merubah Segalanya