Indonesia, Di Bawah Bayang-bayang Tsunami

1497

Indonesia dan Tsunami Pada 26 Desember 2004, gempa besar mengguncang bumi Serambi Mekah, Aceh. Gempa besar yang kemudian akan dicatat oleh sejarah, sebagai gempa pemicu tsunami maha dahsyat yang nyaris meluluhlantakan Aceh.  Tercatat 131.026 jiwa melayang. Dan 37.000 orang hilang. Tsunami Aceh mungkin adalah tsunami  paling dashyat dari sisi korban, selama beberapa dekade ini. Kini, 12 tahun sudah tragedi tsunami di bumi Serambi Mekkah telah berlalu.

Tsunami Di Indonesia

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho,  I ndonesia adalah negara yang multi bencana. Setidaknya ada 13 jenis bencana yang mengintai negeri ini, dan dia bisa kapan saja. Selain itu,  ada lebih 200 juta jiwa penduduk Indonesia yang terpapar oleh rawan tsunami.

Begitu juga ada 5 juta jiwa yang tinggal di daerah rawan tsunami. Ini sebuah kenyataan bahwa masih banyak penduduk yang belum siap menghadapi bencana. Luasnya wilayah geografis Indonesia maka kesiapsiagaan dan mitigasi bencana adalah kunci dalam menghadapi bencana,” kata Sutopo.

Sutopo menambahkan tsunami Aceh 2004 adalah wake up call bagi bangsa Indonesia dan dunia akan pentingnya penanggulangan bencana. Tsunami Aceh menjadi kebangkitan nasional jilid kedua yang menyadarkan bangsa Indonesia,  bahwa posisi negara memang berada di daerah rawan bencana.

Banyaknya korban disebabkan belum adanya sistem penanggulangan bencana pada saat itu. Lalu setelah itu timbul kesadaran bahwa kita perlu UU tentang  penanggulangan bencana,” kata dia.

Karena,  kata Sutopo, disaat tanggap darurat tsunami Aceh, publik juga  dikagetkan dengan gempa 8,3 skala richter di Nias tahun 2005 dan gempa di Bantul pada tahun 2006. Untuk itu kemudian UU Penanggulangan Bencana dipercepat pembahasannya. Akhirnya 2008, negeri ini mempunyai UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Isi UU tersebut mengatur penanggulangan bencana baik pra bencana, saat, dan pasca bencana secata komprehensif. Setelah itu lahirlah BNPB dan BPBD di provinsi dan kabupaten dan kota,” kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, belajar dari tsunami Aceh maka dibangun Ina TEWS yang end to end dalam penanggulangan bencana dari manusia ke manusia. Banyak capaian terkait penanggulangan bencana pasca tsunami Aceh. Namun itu harus terus diperbaiki dengan memperhatikan segala aspek.

Sedangkan Syamsul Ardiansyah, Kepala Divisi Advokasi,  Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) mengatakan dari peristiwa tragis di Aceh, ada sebuah pembelajaran yang bisa ditarik sebagai bahan refleksi penanganan bencana di negeri ini. Pembelajaran terpenting sejak tsunami Aceh 2004 adalah adanya dorongan untuk melakukan modernisasi dalam penanggulangan bencana atau disaster management. Menurutnya  bencana tidak lagi dilihat secara fatalistik, dalam arti menjadi sebagai suatu keniscayaan alam yang hampir tidak bisa diutak-atik oleh manusia.

Bencana mulai dilihat secara ilmiah,” kata dia.

Sampai sekarang, kata dia, memang belum diperoleh sebuah teknologi yang bisa memprediksi kejadian bencana. Namun kajian-kajian tentang bagaimana mengurangi risiko bencana, sudah mulai berkembang. “Saat ini misalnya, kita tidak lagi mengatakan bahwa “gempa menyebabkan kematian” melainkan bangunan yang runtuh yang menyebabkan kematian,” ujarnya.

Perkembangannya juga, ujar Syamsul bukan hanya pada khasanah keilmuan, tetapi juga dalam pendekatan  penanggulangan bencana. Saat ini, korban tidak lagi dilihat sebagai obyek bantuan, tapi menjadi subyek “pemilik hak” yang harus tetap mendapatkan hak untuk bisa menjalankan kehidupannya meski dalam situasi minimum.

“Saat ini, masyarakat internasional mulai mendorong akuntabilitas dalam penanggulangan bencana,” kata dia.

Artinya, ujar dia,  bagaimana aksi-aksi kemanusiaan direncanakan dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kebutuhan dan keinginan para penyintas (survivor). Tentunya itu harus  ditopang dengan mekanisme yang memungkinkan individu, organisasi, atau negara dinilai berdasarkan aksi, dan memiliki mekanisme umpan balik untuk menerima masukan atau complain dari para penyintas.

“Salah-satu pembelajaran berharga dari bencana skala besar tsunami aceh 2004 adalah adanya inisiatif untuk mengukur ketangguhan suatu bangsa atau negara. Dampak bencana mulai dilihat secara makro, terkait pengaruhnya terhadap kondisi sosial-ekonomi suatu bangsa,” tuturnya.