Menteri Tjahjo di Universitas Yarsi2

Lebahmaster.com – Saat berbicara di depan peserta Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi Sulawesi Barat, di Kota Mamuju, Senin, 11 April 2016, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mengingatkan agar kepala daerah paham terhadap area rawan korupsi. Kata Tjahjo, banyaknya kepala daerah yang masuk bui, salah satu penyebabnya, karena mereka tak paham area rawan korupsi.

 
Untuk itu, tolong mulai dari kepala desa sampai pak gubernur, harus pahami area rawan korupsi,” katanya.

Menurut Tjahjo, musuh bangsa ini ada tiga. Pertama korupsi. Kedua narkoba dan ketiga adalah radikalisme. Karena itu, pejabat atau pun aparatur di daerah, harus pahami area rawan korupsi. Saat perencanaan anggaran, adalah saat-saat rawan. Kongkalikong biasanya kerap terjadi saat perencanaan anggaran. Penyaluran dana hibah dan bansos juga rawan penyelewengan. Banyak yang tak tepat sasaran yang ujungnya berakhir di penjara.

Juga masalah retribusi dan pajak. Ini harus hati-hati,” katanya.

Dalam pidatonya Menteri Tjahjo juga menyentil kasus anggota DPR yang suka main proyek di luar daerah pemilihannya. Harusnya, anggota dewan itu memperjuangankan apa yang jadi aspirasi di daerah pemilihannya. Bukan kemudian memperjuangkan kepentingan di luar dapilnya. Misalnya, legislator asal Sulbar, wajib memperjuangkan aspirasi anggaran dapilnya di Senayan. Jika seperti itu, Komisi Pemberantasan Korupsi pun tak aka curiga.

Wong dapilnya, tapi kalau anggota DPR dapil Sulbar, memperjuangkan proyek di Papua, di Kalimantan, di Sumatera, ya habislah. Yang kemarin ditangkap KPK, yang diperjuangkan proyek di Papua,”ujar Tjahjo.

Masalah narkoba juga kata Tjahjo jangan dianggap remeh. Ini musuh kedua republik. Saat ini saja di Indonesia, tiap harinya 50 orang mati karena narkoba. Bahkan penestrasi peredaran narkoba kian mengkhawatirkan. Sekarang di setiap RT, ada 2 orang pengguna narkoba. Tjahjo pun kemudian mengutip laporan Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) yang disampaikan padanya.

” Sekarang hampir 600 ribu pengedar yang tertangkap. Yang terdeteksi jadi pengguna sekitar 5 jutaan. Padahal untuk merehabilitasi 100 pengguna saja membutuhkan dana 1 triliun,” kata Tjahjo.

Karena itu, ia minta Gubernur aktif mencegah. Semua kepala daerah harus membantu kepolisian. Pemangku kebijakan wajib mengecek aparaturnya, apakah sudah terkontaminasi narkoba atau tidak. Ia sendiri mendukung dilakukannya tes urine bagi pegawai. Tahjo pun kemudian bercerita tentang sahabatnya seorang tentara yang terjerat narkoba.

Saya punya teman, 8 tahun jadi sahabat saya. Ketemuan hampir tiap minggu. Mau dinaikan jenderal. Seminggu lagi dia jadi jenderal ketangkap basah ngisap sabu-sabu,” kata Tjahjo .

Musuh ketiga, katanya adalah radikalisme. Mamuju mungkin adem ayem saja. Tapi bukan berarti harus lengah. Kepala daerah harus mencermati setiap gelagat adanya bibit radikalisme. Apalagi Mamuju berbatasan dengan Poso, daerah yang dijadikan markas kelompok teror pimpin Santoso.

Tapi kita berharap, mudah-mudahan operasi (menangkap Santoso) cepat selesai. Mosok, nangkap 100 orang enggak kena-kena,” katanya.

Intelijen juga, kata Tjahjo, tak boleh kecolongan. Pun TNI, yang punya jaringan intelijen yang kuat. Begitu juga dengan intelijen kepolisian dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Mulai dari Danramil, BIN, jaringan tokoh masyarakat cermati setiap gelagat perkembangan yang merembet. Radikalisme ini ancaman kita,” ujarnya.