Inilah Pesan ‘Pariwisata’ Dari Mendagri

629

Mendagri Tjahjo Kumolo

LEBAHMASTER.COM, KULON PROGO – Presiden Joko Widodo saat awal-awal menjabat sering meminta para pembantunya, baik itu menteri, Duta Besar, Dirjen atau diplomat untuk jadi marketing bangsa. Para pejabat, menurut mantan Wali Kota Solo itu, harus mempromosikan apa saja keunggulan serta potensi yang dimiliki bangsa Indonesia. Potensi itu, apakah sumber daya alamnya, ekonomi, pariwisata dan lain-lain. Sehingga, investor atau turis bisa berbondong-bondong datang ke Tanah Air.

Mungkin salah satu pembantu Presiden yang getol mempromosikan potensi-potensi Indonesia, adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo. Dalam setiap kesempatan berkunjung ke daerah, Menteri Tjahjo, tak pernah lupa mengingatkan daerah agar mendayagunakan potensi yang dimilikinya, terutama pariwisata. Pesan ‘pariwisata’ selalu terselip dalam setiap pidato Menteri.

Seperti saat berpidato di acara hari Otonomi Daerah di Alun-alun Kulon Progo, Mendagri menyelipkan pesan promosi tentang jam jam kayu made in Kulon Progo. Bahkan Tjahjo memuji jam tangan kayu yang ia beri nama JKW (Jokowi Watch dan Jusuf Kalla Watch-red).

Kulon Progo ada kerajinan rakyat, ada batik khas Kulon Progo yang berbeda dengan batik Yogya. Ada kerajinan membuat jam tangan dari kayu. Nah, tadi saya ngobrol, mau dinamakan apa jam tangan itu. Supaya mencakup dua hal, dwi tunggal kita Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kala. Maka namanya JKW. ‘W’-nya itu bukan Widodo tapi Watch. Jadi JKW itu bisa Jokowi Watch atau Jusuf Kalla Watch,” tutur Tjahjo.

Begitu pula, ketika dia berpidato di acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Kota Mamuju, Sulawesi Barat, beberapa waktu yang lalu. Pesan ‘pariwisata’ kembali diselipkan dalam pidatonya. Dalam pidatonya, Tjahjo meminta daerah yang punya potensi pariwisata harus pintar mengemas. Jangan sampai daya tarik wisata dikemas monoton. Perlu kreativitas terus menerus, agar potensi pariwisata yang dimiliki selalu dilirik turis.

Jangan kaya Toraja, kalau dijual kengerian enggak berkembang. Yang dilihat, hanya kuburan, kebo disembelih. Sesekali saja mungkin menarik. Tapi setelah itu turis mungkin bosan juga,” katanya.

Potensi wisata yang ada harus dikemas dengan baik, kata Tjahjo. Mesti ada variasi daya tarik yang ditawarkan. Misalnya, kulinernya seperti apa, atau mungkin ada festival khusus.

Seperti Bali, ada budayanya, juga alamnya, kulinernya, lengkap dikemas dengan baik,” katanya.

Begitu pula ketika Menteri Tjahjo berpidato di acara Musrenbang regional Sulawesi. Pesan ‘pariwisata’ kembali diselipkan. Kata Tjahjo, Indonesia kaya potensi wisata. Bahkan, Indonesia bisa jadi pusat tujuan para turis untuk berlibur atau wisata ziarah. Borobudur misalnya, bila dikemas dengan baik, lalu gencar dipromosikan bisa jadi pusat tujuan para umat Budha untuk berziarah ke sana. Bahkan, Borobudur bisa seperti kota suci Mekah yang jadi tujuan umat Islam beribadah haji dan umroh.

Candi Borobudur kalau serius tangani, umat Budha di dunia wajib kunjungi Borobudur bagi yang mampu. Ini seperti umat Islam yang beribadah haji dan umroh ke Mekah,” katanya.

Sayang pengelolaan Candi Borobudur tak maksimal, bahkan tumpang tindih, kata Tjahjo. Ada empat badan yang sama-sama mengelola Borobudur. Akibatnya anggaran yang disediakan untuk promosi dan pengembangan pariwisata di Borobudur terpaksa harus dibagi empat badan. ” Ya akhirnya muter-muter saja di situ,” kata Tjahjo. (By.Agus.S).

Baca Juga: Ini Dia, Tiga Musuh Republik versi Mendagri