Investasi Modal Ventura Syariah sebagai Expertise Bisnis Start-up

369

Investasi Modal Ventura Syariah

Investasi Modal Ventura Syariah sebagai Expertise Bisnis Start-up Melalui Prinsip Musyarakah ‘Inan Al-Mutanaqishah

Indonesia merupakan sebuah negara berkembang yang memiliki prospek yang baik dalam bidang perekonomian, hal ini disertakan dengan perkembangan lembaga keuangan bank dan nonbank. Sistem keuangan yang tangguh harus mampu menghindari dan memecahkan masalah keuangan yang dihadapi. Adanya diversifikasi produk keuangan, dapat dijadikan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat akan pembiayaan yang diinginkan. Semakin berkembanganya lembaga keuangan nonbank, akan lebih memperluas penyediaan pembiayaan alternatif bagi dunia usaha.

Peningkatan pendapatan masyarakat dan kemajuan dunia usaha secara tidak langsung berpengaruh terhadap kebutuhan permodalan, lembaga keuangan nonbank dapat memberikan kemudahan untuk pembiayaan berbagai jenis usaha. Perluasan lembaga pembiayaan disambut baik oleh pemerintah, dengan adanya Kepres No. 61 Tahun 1998, yang berisi landasan operasional yang jelas. Adapun beberapa jenis usaha dalam lembaga pebiayaan diantaranya adalah sewa guna usaha (leasing), modal ventura (venture capital), kartu plastik, anjak piutang, (factoring), pembiayaan konsumen (consumers finance), serta perdagangan surat berharga.

Berdasarkan data World Economic Forum (WEF), pasar Indonesia diakui sangat potensial, yang merupakan ukuran pasar terbesar dengan peringkat ke-9. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi digital dan ekonomi kreatif. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memproyeksikan, bahwa tahun 2020 ekonomi digital di Indonesia bisa tumbuh mencapai US$ 130 miliar, jumlah ini setara dengan Rp 1.700 triliun. Nilai tersebut sepadan 20 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Di balik kesuksesan satu start-up, tentu banyak faktor yang menyertainya. Terutama faktor pendiri, investor, dan produknya sendiri. Satu startup belum tentu bisa berhasil, tanpa adanya dukungan investor awal yang biasa disebut  investor. Investor menjadi pihak paling awal yang percaya dan berani mengambil resiko terhadap satu konsep produk start-up, saat investor lain tidak berani. Tanpa memperhitungkan imbalan/return, investor berdiri bersama founder dengan keyakinan yang sama, ditambah resiko terbesar untuk mengembangkan gagasan menjadi sebuah produk.

Pada dasarnya, investasi adalah memanfaatkan Sumber Daya untuk memperoleh keuntungan atau tambahan manfaat. Investasi diawali dengan mengorbankan kegiatan konsumsi saat ini untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa depan. Dalam prespektif Islam,  investasi adalah kegiatan yang sangat dianjurkan karena dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara makro. “Merugilah Dinar, merugilah Dirham” (HR. Bukhari) esensinya ialah orang yang begitu terobsesi dengan uang serta melakukan berbagai cara untuk memilikinya, yang kemudian akan menimbunnya maka dia akan merugi. Dari hadist tersebut mengisyaratkan agar manusia tidak menumpuk kekayaan, dan salah satu jalannya adalah dengan berinvestasi.

Salah satu Industri Keuangan non-bank untuk berinvestasi adalah modal ventura. Pembiayaan modal jenis ini merupakan investasi dengan perspektif jangka panjang (long-term perspective). Modal ventura tidak mengharapkan keuntungan dengan memperdagangkan sahamnya secara jangka pendek, tetapi mengharapkan capital gain (apresiasi nilai saham) di samping dividen setelah jangka waktu tertentu, dengan batas maksimal 10 tahun. Di samping itu, Modal ventura juga bersifat investasi aktif (active investment) karena modal ventura selalu disertai dengan keterlibatan dalam manajemen perusahaan yang dibiayai, meliputi manajeman keuangan, pemasaran dan pengawasan operasional.

Modal ventura merupakan salah satu instrumen pendanaan dengan memiliki tingkat keuntungan yang tinggi karena modal ventura membiayai bidang usaha yang bersifat terobosan-terobosan baru yang menjanjikan keuntungan tinggi. Perusahaan modal ventura (PMV) atau venture capital Indonesia semakin menunjukkan peran penting dalam pengembangan dan investasi kepada perusahaan startup atau usaha rintisan. Hal ini didukung oleh semakin besarnya perhatian dan dukungan berbagai pihak terhadap startup dan ekonomi digital.

Berdasarkan data Google-AT Kearney pada September 2017, total investasi perusahaan modal ventura di Indonesia mencapai US$ 3 miliar atau 2 kali lipat dari tahun sebelumnya, dengan rata-rata investasi pada fase seed and early stage atau pada tahap awal beroperasi dan belum menghasilkan keuntungan. Hal ini sejalan dengan laporan OJK (Oktober, 2017), tercatat total pembiayaan dan investasi PMV lokal mencapai Rp 6,8 triliun yang terdiri atas penyertaan saham sebesar Rp 1,2 triliun, obligasi konversi Rp 607 miliar dan pembiayaan bagi hasil Rp 4,97 triliun.

Di Indonesia perusahaan modal ventura terdiri atas dua kategori. Pertama, perusahaan modal ventura lokal dan terdaftar di OJK. Umumnya perusahaan tersebut berafiliasi dengan korporasi besar dan perusahaan BUMN. PMV lokal umumnya berinvestasi pada perusahaan yang sudah beroperasi dan menghasilkan cashflow atau keuntungan serta lebih banyak berinvestasi dengan model bagi hasil atau bahkan model pembiayaan layaknya bank dan perusahaan pembiayaan.

Berdasarkan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan NO. 7 /SEOJK.05/2018 Modal Ventura Syariah adalah usaha pembiayaan melalui kegiatan investasi dan/atau pelayanan jasa yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka pengembangan usaha pasangan usaha yang dilaksanakan berdasarkan prinsip Syariah. PMVS ini berupa kontrak investasi bersama, yang memenuhi kriteria dan persyaratan tertentu, yang dibuat perusahaan modal ventura syariah dan bank kustodian, dimana perusahaan modal ventura syariah diberi wewenang untuk mengelola dana dari para investor yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah.

Adapun jenis usaha yang bertentangan dengan prinsip Syariah seperti  perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang, lembaga keuangan konvensional (ribawi), produsen dan distributor serta pedagang makanan dan minuman yang haram atau penyedia barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat, serta melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi memiliki tingkat (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi melebihi modalnya sendiri.

Salah satu kegiatan Investasi Modal Ventura Syariah berupa pembelian Sukuk atau Obligasi Syariah Konversi yang diterbitkan pasangan usaha pada tahan rintisan awal (start-up) atau pengembangan usaha. Pola pembiayaan modal ventura sangat cocok dengan prinsip syariah, dari sudut pandang Islam, penggunaan equity financing dalam bentuk saham atau penyertaan terbatas dengan bagi hasil adalah suatu bentuk dari aplikasi akad mudharbah, musyarakah inan atau musyarakah inan al-mutanaqishah dimana ada pihak yang menyediakan modal untuk dikelola yang keuntungan dibagi sesuai kesepakatan.

Prinsip Modal Ventura Syariah yang akan dibahas disini adalah musyarakah inan al-mutanaqishah. Menurut Fatwa DSN-MUI No. 73/DSN-MUI/XI/2008 bahwa pembiayaan musyarakah memiliki keunggulan dalam kebersamaan dan keadilan, baik dalam berbagi keuntungan maupun resiko kerugian, sehingga dapat menjadi alternatif dalam proses kepemilikan aset (barang) atau modal. Akad Musyarakah Mutanaqisah terdiri dari akad Musyarakah/ Syirkah dan Bai’ (jual-beli). Dalam Musyarakah Mutanaqisah berlaku hukum sebagaimana yang diatur dalam Fatwa DSN-MUI No. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah, yang para mitranya memiliki hak dan kewajiban, di antaranya memberikan modal dan kerja berdasarkan kesepakatan pada saat akad, memperoleh keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati  pada saat akad, serta menanggung kerugian sesuai proporsi modal.

Musyarakah dalam modal ventura Syariah merupakan jenis pembiayaan campuran dari pembiayaan modal ventura syari’ah yang memberikan kontribusi dana atau amal (expertise) dan dana dari pengusaha partnernya.  Kedua belah pihak menanggung rugi dan atau memperoleh keuntungan dari usaha yang mereka bentuk. Untung dan rugi yang diperoleh kedua belah pihak dinikmati secara bersama-sama sesuai dengan porsi yang ada dengan konsep profit (loss sharing). Sedangkan makna ‘inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan, dan kerugian yang dibagi sesuai dengan kesepakatan di antara mereka.

Hal tersebut berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist yang artinya “Dan, sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.” (Q.S. Sad: 24). Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah).

Hadits qudsi tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya yang melakukan kerjasama ekonomi, selama pihak-pihak yang bekerja sama tersebut saling menjunjung tinggi amanat kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan. Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka musyarakah (syirkah) dapat diartikan dua orang atau lebih yang bersekutu (berserikat) di mana uang yang mereka dapatkan dari harta warisan, atau mereka kumpulkan di antara mereka, kemudian diinvestasikan dalam perdagangan, industri, atau pertanian selama sesuai dengan kesepakatan Bersama, dan hal tersebut hukumnya dibolehkan syariat.

Dilansir dari republika.co.id.jakarta. Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Modal Ventura Untuk Start-up Indonesia (Amvesindo), Iwan Ridwan mengatakan, potensi pembiayaan melalui modal ventura syariah makin terbuka lebar. Semakin meningkatnya kesadaran beragama kaum Muslimin, menjadikan mereka semakin membutuhkan alternatif pembiayaan yang lebih nyaman sesuai tuntunan agama. “Selain itu, dunia usaha sendiri semakin berkembang di mana jumlah kelas menengah semakin banyak, yang umumnya mereka memilki minat berwirausaha yang lebih tinggi. Kondisi itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga keuangan Syariah termasuk modal ventura Syariah” ujarnya. Selasa (6/6).

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, mengajarkan bagaimana hubungan antara sesama manusia dengan tidak saling menzolimi satu sama lain. Dengan membangun Ekonomi Islam dapat mewujudkan tingkat perekonomian jangka panjang dan memaksimalkan kesejahteraan manusia untuk mencapai falah yaitu terpenuhinya kebutuhan individu masyarakat dengan tidak mengesampingkan keseimbangan makro ekonomi (sosial) dan ekologi. Penghapusan prinsip ribawi (bunga) ini memiliki dampak makro yang signifikan bagi perkembangan ekonomi Indonesia, hal ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga keuangan yang menggunakan prinsip Syariah dalam menjalankan kegiatannya. Sistem Keuangan Islam yang bebas dari prinsip bunga diharapkan mampu menjadi alternatif terbaik dalam mencapai kesehjateraan masyarakat.

Pengirim dan penulis: Hamdah Rosalina, Mahasiswi Semester II STEI SEBI, Depok. Juli 2018.

Baca Juga: Investasi Syariah, Bukankah Mengandung Spekulasi?

SHARE
Previous articleGole F1 : Komputer Paling Kecil dan Termurah di Dunia
Next articlePentingnya Berinvestasi Sejak Dini
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com