Investasi Syariah Mengandung Spekulasi

Investasi adalah hal awam yang diketahui oleh masyarakat. Namun masyarakat sering pula menyamakan antara invetasi dan tabungan, padahal keduanya berbeda. Tabungan yang biasa dilakukan terpengaruh oleh adanya inflasi sedangkan investasi sendiri tidak. Lalu bagaimana jika masyarakat mendengar yang namanya investasi syariah?

Tidak banyak orang yang mengetahui dan meyakini bahwa investasi syariah diperbolehkan. Sering orang menanyakan ” bukankah investasi itu haram, karena ada unsur spekulatifnya?”. Lalu apa yang dimaksud dengan spekulasi itu sendiri. Ada orang yang mengatakan bahwa spekulasi adalah sesuatu yang belum tentu atau mengharapkan hal yang tidak pasti untuk dimiliki. Pertanyaannya adalah apakah hidup ini penuh kepastian?

Seseorang tidak akan tahu apakah dirinya masih terus bisa makan setiap hari, seseorang tidak akan bisa menentukan kapan ia menjadi kaya atau miskin, dan manusia tidak akan tahu kapan ia akan sakit dan meninggal. Itu merupakan beberapa contoh dari ketidakpastian. Oleh karena itu, seharusnyalah orang berusaha untuk selalu mensyukuri apa yang dimiliki dan disebarkan manfaat itu kepada orang lain. Berinvestasi secara syariah salah satunya.

Investasi syariah pada dasarnya termasuk dalam keuangan syariah, dimana seluruh ketentuan di dalamnya menggunakan suatu sistem yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Sebagai implementasi dari kaidah dasar muamalah, terdapat prinsip dasar yang menjadi pedoman agar seluruh aktivitas dalam ranah keuangan tersebut sesuai dengan prinsip syariah.

Transaksi syariah merupakan transaksi konvensional yang dikurangi hal-hal yang mencakup riba, gharar, dan maisir. Melakukan investasi memberikan manfaat kepada orang lain. Karena pada hakikatnya harta yang berlebih tersebut dimanfaatkan oleh orang lain sehingga harta tersebut tidak tertimbun sendiri. Harta dapat bermaslahat bagi orang lain.

Surat Yusuf 12: ayat 46-50.

Allah swt berfirman :

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ (46) قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ (47) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ (48) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ (49) } [يوسف: 46 – 49

Artinya:

12:46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

12:47. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

12:48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

12:49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf 12:46-49.)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa seseorang tidak baik jika mengkonsumsi semua kekayaan dimiliki pada saat telah mendapatkannya, tetapi hendaknya sebagian kekayaaan yang diperoleh juga ditangguhkan pemanfaatannya untuk keperluan yang lebih penting. Dengan bahasa lain, ayat ini mengajarkan untuk mengelola dan mengembangkan kekayaan demi untuk mempersiapkan masa depan. Selain mengelola dan mengembangkan kekayaan tersebut untuk mempersiapkan masa depan, harta yang diinvestasikan perputarannya juga dapat dimanfaatkan oleh pihak lain yang memerlukan. Sehingga manfaat adanya harta tersebut tidak hanya dirasakan oleh pemiliknya. Secara harfiah mengelola harta itu bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti menyimpan di rumah, menabung/mendepositokan di bank, mengembangkannya melalui bisnis, membelikan property ataupun cara-cara lain yang halal dan berpotensi besar dapat menghasilkan keuntungan.

Investasi syariah dapat dilakukan melalui deposito syariah, pasar modal syariah, surat utang syariah, dan reksa dana syariah. Walaupun sudah dijelaskan akan adanya investasi syariah, tidak jarang anggapan bahwa investasi itu judi dan spekulasi sehingga dilarang dalam ajaran Islam masih bermunculan. Dengan demikian, diperlukan fatwa alim ulama yang berwenang. Di Indonesia, ulama yang berwenang adalah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Baca Juga: Jual Produk Syariah, Sistemnyapun Harus Sesuai Syariah

Oleh karena itu, DSN MUI membuat 14 fatwa mengenai pasar modal syariah dan jenis investasinya sebagai berikut:

  1. Fatwa No. 20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah
  2. Fatwa No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah
  3. Fatwa No. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah
  4. Fatwa No. 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal
  5. Fatwa No. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah
  6. Fatwa No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi
  7. Fatwa No. 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) Syariah
  8. Fatwa No. 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah
  9. Fatwa No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)
  10. Fatwa No. 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan SBSN
  11. Fatwa No. 71/DSN-MUI/VI/2008 tentang Sale and Lease Back
  12. Fatwa No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back
  13. Fatwa No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased
  14. Fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Dengan adanya jenis investasi yang sesuai dengan syariat islam serta dasar hukum atau fatwa yang melindungi investasi syariah. Seharusnyalah tidak ada lagi anggapan-anggapan mengenai investasi mengandung spekulasi tidak sesuai ajaran agama islam. Karena pada hakikatnya hidup ini penuh dengan spekulasi pula.

 

Wahyu Setyorini

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga

SHARE
Previous articlePromo & Diskon Besar-Besaran Bulan November di 11.11 Shopee Mall Grand Opening Sale
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com