Jual Produk Syariah

Fashion muslim bertemakan syar’i  sedang menjadi Trend dikalangan wanita-wanita muslimah saat ini.  Bicara tentang fashion muslimah memang tidak akan pernah habis, selalu ada inovasi baru yang siap bersaing dipasaran offline maupun online. Model-model yang sedang tren  pasti akan laku dan ludes terjual. Maka tidak heran banyak sekali para pebisnis yang bergerak dibidang Fashion muslim.

Fenomena berkembangnya Bisnis Fashion Muslim syar’i  baru-baru ini, memunculkan sebuah tanya. Apakah Bisnisnya pun dikelola dengan cara syariah? Jangan sampai produk yang dijual sudah benar-benar syariah tetapi menjalankan bisnisnya belum sesuai dengan syariah. Lalu bagaimana etika Bisnis yang sudah sesuai dengan syariah Islam ?

Al Qur’an sebagai sumber hukum utama umat Islam telah menunjukkan kepada kita tentang prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut :

Pertama, melarang bisnis yang dilakukan dengan proses kebathilan (QS. 4:29). Bisnis harus didasari kerelaan dan keterbukaan antara kedua belah pihak dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Kedua, bisnis tidak boleh mengandung unsur riba (QS. 2:275).

Ketiga, kegiatan bisnis juga memiliki fungsi sosial melalui zakat dan sedekah (QS. 9:34).

Keempat, melarang pengurangan hak atas suatu barang atau komoditas dengan media takaran/timbangan karena hal itu merupakan kedzaliman (QS. 11:85), sehingga dalam praktek bisnis, timbangan harus disempurnakan (QS. 7:85, QS. 2:205).

Kelima, pelaku bisnis dilarang berbuat dzalim (curang) bagi dirinya sendiri maupun kepada pelaku bisnis yang lain (QS. 7:85, QS. 2:205)..

Sunber rujukan lainnya dalam etika bisnis adalah etika yang bersumber dari tokoh teladan agung manusia di dunia, yaitu Rasulullah saw. Beliau memiliki banyak panduan etika untuk praktek bisnis kita, diantaranya yaitu :

1). Kejujuran, dalam Islam kejujjuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini beliau bersabda “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R Al Quzwani). Dalam hadis lainnya beliau bersabda “Siapa yang menipu kami maka dia bukan kelompok kami” (H.R Muslim). Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis.

2). Ta’awun (menolong orang lain), pelaku bisnis menurut islam tidak hanya sekedar mengejar keuntungan semata seperti yang diajarkan oleh aliran kapitalis tetapi juga berorientasi pada sikap menolong atau member manfaat kepada orang lain sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis.

3). Tidak boleh menipu, takaran, ukuran, dan timbangan yang benar. Firman Allah : “Celakalah bagi orang yang curang yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” . (QS.83:112)

4). Tidak melakukan sumpah palsu, Nabi Muhammad sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnis. Dalam riwayat disebutkan orang yang bersumpah palsu diancam dengan azab yang pedih dan Allah swt tidak akan mempedulikannya nanti di hari kiamat. Praktek sumpah palsu dalam bisnis saat ini sering dilakukan, karena dapat meyakinkan pembeli dan pada gilirannya akan meningkatkan daya beli atau pemasaran. Namun, harus disadaari bahwa meskipun keuntungan yang diperoleh berlimpah tetapi hasilnya tidak berkah.

5). Ramah tamah, seorang pelaku bisnis harus bersikap ramah dalam melakukan bisnisnya. Nabi Muhammad saw bersabda, “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis” (H.R Bukhari & Tarmidzi)

6). Tidak melakukan ihtikar, yaitu menimbun barang (menumpuk dan menyimpan barang dalam masa tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntungan besarpun diperoleh)

7). Tidak melakukan monopoli, salah satu keburukan system ekonomi kapitalis adalah melegitimasi monopoli dan oligopoli. Contohnya eksploitasi (penguasaan) individu tertentu atas hak milik social seperti air, udara, dan tanah serta kandungan isinya seperti barang tambang dan mineral.Hal ini sangat dilarang dalam Islam.

8). Tidak menjelekkan bisnis orang lain dengan tujuan agar orang membeli kepadanya. Rasulullah saw bersabda“Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain” (H.R Muttafaq ‘alaih)

9). Bisnis tidak boleh mengganggu  kegiatan ibadah kepada Allah swt. Firman Allah “Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah dan dari mendirikan shalat dan membayar zakat, mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati dan penglihatan menadi goncang”

10). Membayar upah sebelum keringat karyawan kering. Sabda nabi saw “Berikanlah upah kepada karyawan, sebelum kering keringatnya’. Hadis ini mengindikasikan bahwa pembayaran upah tidak boleh ditunda-tunda dan harus sesuai dengan kerja yang dilakukan.

11). Komoditi nisnis yang dijual adalah barang yang suci dan halal, bukan barang yang haram seperti babi, anjing, minumak keras, narkotika, dsb.

12). Bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (QS. 4:29)

13). Segera melunasi utang yang menjadi tanggungannya. Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kamu, adalah orang yang paling segera membayar hutangnya” (H.R Hakim)

14). Memberi tenggang waktu apabila pengutang belum mampu membayar. Sabda Nabi saw “Barang siapa yang menanngguhkan orang yang kesulitan membayar hutang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan dibawah naunganNya pada hari yang tak ada naungan kecuali naunganNya” (H.R Muslim).

15). Bisnis yang dijalankan haruslah bersih dari unsur riba. Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman” (QS. 2:278)

Sedangkan ketentuan umum dalam menjalankan bisnis berbasis Islam yang harus senantiasa dipegang teguh oleh para pelaku bisnis adalah :

  1. Kesatuan (Tauhid/Unity)

Dalam hal ini adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh.

Dari konsep ini maka islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis menjadi terpadu, vertikal maupun horisontal, membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.

2. Keseimbangan (Equilibrium/Adil)

Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan.

3. Kehendak Bebas (Free Will)

Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.

4. Tanggungjawab (Responsibility)

Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.

5. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran

Kebenaran dalam konteks ini mengandung dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.

Selain itu dalam berbisnis kita perlu mengelola SDM sesuai dengan apa yang telah disyariatkan sebagai penggerak utama dalam sebuah bisnis. Manusia sebagai sumber daya penggerak jalannya suatu kegiatan bisnis, harus mempunyai karakteristik atau sifat-sifat yang diilhami dari shifatul anbiyaa’ atau sifat-sifat para nabi. Sifat-sifat tersebut dapat disingkat dengan SIFAT pula, yaitu : shiddiq (benar), itqan (profesional), fathanah (cerdas), amanah (jujur/terpercaya) dan tabligh (transparan).

Profesional secara syariah artinya mengelola suatu usaha/kegiatan dengan amanah. Profesionalisme dalam Islam dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Qashash ayat 26. Dalam bisnis Islami dua faktor yang menjadi kata kunci adalah kejujuran dan keahlian.

Maka tempatkanlah MSDI pada keahlian yang telah ia miliki, karena menempatkan orang yang tepat sesuai dengan keahliannya merupakan sebuah ciri profesionalisme dalam islam.

Sudah saatnya berbisnis bukan hanya produk saja yang syar’i tetapi sistem, etika bisnis dan pengelolaan MSDInya harus sesuai juga dengan Syari’at. Karena dalam islam laba dari keuntungan dalam berbisnis bukanlah hal yang utama, namun keberkahan dan ridho Allah adalah sebaik-baik pencapaian. Wallahu’alam.

Penulis: Lia Herlianti – Mahasiswi STEI SEBI, DEPOK