Kasih Sayang Seorang Ayah : Bag 2

1996

Sayang AyahMelanjutkan Kisah kasih Sayang Seorang Ayah – Part 2

Membantah bukanlah keputusan yang tepat untuk diambil oleh jay dan abang abangnya ketika ayah mereka memutuskan dan memerintahkan sesuatu hal terhadap mereka, suatu perkara yang dianggap kesalahan besar di sisi mereka jika melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan kemarahan dan sakit hati terhadap orang tua mereka.

Pernah pada suatu hari terjadi masalah kecil antara jay dan abangnya iraz. Masalah sepele hanya karena iraz kehilangan beberapa karet gelang mainannya, waktu itu iraz mengira yang mengambilnya jay, hingga akhirnya terjadilah pertengkaran kecil antara mereka. Namun setelah beberapa lama cekcok dan debat saling membela diri diantara jay dan iraz dan tidak ada yang mau mengalah, akhirnya barulah pertengkaran saling pukul memukul, bayangin ajalah bagaimana ketika anak anak usia SMP bertengkar. Sok jagoan padahal di jewer atau di cubit sedikit aja meraung raung kesakitan.

Karena pertengkaran ereka yang makin lama semakin memanas dan berkecamuk, ayah mereka yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di belakang rumah mereka mendengar suara tangisan dari jay yang menangis karena pukulan iraz. Sang ayah pun langsung menuju ke arah mereka tanpa berkata apa apa jay dan iraz langsung di tariknya bareng bareng. Hingga mereka di tarik sampe merah yang akhirnya tangisan jay dan iraz saling beradu suara nyaringnya. Suatu kejadian sepele yang mengerikan itu menimbulkan kemarahan sang ayah kepada mereka, karena ia sangat tidak mau melihat ada perselisihan diantara anak anaknya.

Setelah diomelin dan dimarahin habis habisan oleh ayah mereka, jay merasa sangat bersalah. Yang pada akhirnya pada malam harinya jay duduk terenung sendiri di teras depan rumah mereka tanpa penerang sedikitpun. Ia terdiam termenung sambil menatap langit yang gelap yang hanya dihiasi beberapa bintang yang bersinar dengan indahnya. Disela termenung panjang jay tiba tiba abangnya datang menghampirinya seraya berkata kepada jay.

“Jay adikku, maafin abang ya. Abang udah berbuat salah sama kamu. Sekali lagi maafin abang, abang sudah menuduh jay mengambil karet abang, ternyata nggak hilang. Abang yang lupa tadi naruhnya dimana. Tapi sekarang udah ketemu kok. Jadi jay jangan merasa sakit hati ya sama kejadian tadi. Semuanya salah abang karena abang jay jadi kena marah juga sama ayah”.

Begitulah yang sebenarnya terjadi setelah iraz mengungkapkan apa yang menyebabkan bisa terjadi pertengkaran diantara mereka. Namun mendengar kata kata abangnya jay masih tetap diam seribu bahasa dan tidak memberikan reaksi apa apa.

Melihat jay nggak ada respon, iraz kembali meminta maaf kepada adik bungsunya itu.

“Jay, maafin abang ya.. ! “

“Jay maukan maafin abang ?”

Setelah berlalu beberapa saat jay menoleh kea rah abangnya dan berkata.

“Ia bang, gak apa apa kok. Jay juga minta maaf sama abang”.

Sedikit kata yang terucapkan oleh jay untuk memberikan maaf atas abangnya, tapi cukup mewakili perasaan hati jay. Dimatanya tergambar keikhlasan dalam memaafkan abangnya.

“Jay, sebaiknya kita berdua minta maaf sama ayah ya!” iraz mengutarakan saran kepada jay.

“benar bang, kita harus minta maaf sama ayah. Kita sama sama tau ayah paling tidak suka melihat diantara kita terjadi perkelahian”.

Mereka berdua pun beranjak dari teras depan rumah untuk masuk menemui ayah mereka yang berada di ruang tamu. Setelah sampai dan berada tepat di depan sang ayah, merekapun langsung meminta maaf atas kejadian sore tadi serta mengungkapkan penyesalan mereka dan berjanji tidak akan mengulangi hal semacam itu lagi.

Dengan permohonan maaf dari jay dan iraz itu, sang ayah merekapun langsung memeluk mereka. Dan mendo’akan kebaikan untuk kedua anaknya itu. Yang dilanjutkan pula sedikit nasehat lembut terhadap mereka berdua untuk jangan lagi mengulangi kesalahan sepele yang telah diperbuat mereka berdua.

 

Artikel Terkait:

4 Kata Penari Minat Konsumen Terdahsyat Dalam Marketing