Bukti Kasih Sayang Sang Ayah

Ayah Kasih SayangMu Begitu Tulus

Bunyi detakan jarum jam pada malam sunyi begitu memecah kesunyian malam. Mengarah tepat jarum pendeknya pada angka 10 lewat. Ditambah dinginya suasana di pegunungan. Demikian juga bunyi gemuruh air mengalir dari atas pegunungan yang berdiri kokoh di pertengahan sebuah desa melewati celah. Belah lembah yang penuh bebatuan besar dan hamparan pohon pohon yang menghijau karena kesuburannya di tanah pegunungan. Tepat di kaki pegunungan berdiri sebuah rumah sederhana yang beratapkan daun sagu yang telah dianyam rapi dan berdindingkan dari bahan kulit kayu serta lantainya dari bahan kayu bulat kecil. Disana tinggal sebuah keluarga dengan tiga orang anak laki laki bersama ayah dan ibunya. Tak tampak dalam kehidupan mereka sehari hari menyimpan misteri kesulitan dalam menjalani dan memenuhi kebutuhan hidup mereka sekeluarga sehari hari.

Terlebih tiga orang anak yang mereka masing masing bernama Fijay anak bungsu diantara mereka, Iraz yang merupakan anak ketujuh dan Joyno anak ke enam dari delapan bersaudaradiantara mereka. Sedangkan yang lainnya telah menempuh kehidupan mereka masing masing jauh di perantauan dan ada yang telah berkeluarga. Namun jauh dari mereka yang masih bersama ayah dan ibu mereka.

Kehidupan mereka yang jauh dari lingkungan masyarakat yang berada di pedesaan terkadang juga menimbulkan suasana asing diantara mereka dengan orang orang yang tinggal di desa-desa. Ada rahasia yang tak bisa terungkap kenapa ayah mereka selalu mengajak mereka tinggal jauh dari keramaian masyarakat yang menyebabkan jay dan abang-abang kandungnya jarang sekali bergaul dengan teman-teman mereka yang lain kecuali saat mereka berada di sekolah bisa bermain dengan teman-teman disela-sela waktu saat istirahat dari belajar.

Hari-hari selain di sekolah dilalui dengan hanya bertemankan diantara mereka sendiri kakak beradik. Namun tidak tergambarkan di wajah mereka raut kesedihan bahkan mereka lalui penuh dengan keceriaan dan kedamaian. Dan mereka pun tak pernah bosan untuk berangkat ke sekolah meskipun jaraknya yang lumayan jauh. Sekitar dua belasan kilometer jarak sekolah dari rumah mereka. Namun jarak tak pernah menjadi pertimbangan dan masalah bagi mereka untuk berangkat sekolah meskipun setiap harinya ditempuh dengan berjalan kaki yang melewati sekian banyak tanjakan mulai dari rumah mereka yang berada di celah suatu lembah kecil pegunungan.

Di perjalanan sekolah mereka harus menepis rasa malu dan gengsi dari teman-teman yang lain ketika melewati perumahan di pedesaan, karena diantara teman-teman mereka hanya mereka yang jalan kaki dan tak jarang berjalan tanpa mengenakan alas kaki, yang mana kondisi itu jauh berbeda dengan yang lainnya ketika berangkat paling tidak menggunakan sepeda onthel dan sepatu di kakinya.

Begitupun pakaian sekolah yang mereka kenakan hanyalah warisan dari abang abang mereka yang telah terlebih dahulu lulus sebelum mereka dari bangku SMP yang sekarang mereka yang menjalaninya. Karena masanya yang telah berlalu beberapa tahun itu harus dipertahankan keutuhannya dengan selalu dijahit tangan sendiri dan tambahan di bagian bagian yang bolong karena tak bisa lagi dijahit. Dan kondisi itu terkadang membuat mereka sedikit malu ketika berada di sekolahan. Yang akhirnya ketika masuk ke kelas mereka selalu yang terakhir supaya tidak kelihatan teman-teman mereka kondisi tambalan di celana mereka. Terkadang juga mereka harus meletakkan buku mereka di belakang pantatnya ketika berjalan di depan yang lainnya untuk menutupi kondisi pakaian mereka yang tidak sempurna itu.

Pernah terkadang sesekali mereka mengatakan kondisi perlengkapan sekolah mereka yang kurang mendukung itu kepada ayah dan ibu mereka.

“Ayah, pakaian sekolah kami sudah pada rusak yah. Banyak yang sobek dan bolong. Udah dijahit dan ditambal tetap aja, malah nambah ketempat lain yang rusak” adu jay kepada ayahnya dengan nada agak gugup. Karena tidak terbiasa meminta dan mengadukan masalah mereka kepada ayahnya. Mereka hanya berani jika meminta suatu keperluan kepada ibu mereka. Karena ibu mereka menerima dan menanggapi pengaduan mereka dengan perasaan dan kasih sayang dari kelembutan hati seorang ibu terhadap anak anaknya.

“Nak, coba dijahit aja terus dan kalo masih bisa ditambal. Tambal dulu kalo nggak bisa coba minta dijahitin sama ibu kalian. Dulu abang abang kalian juga begitu dengan pakaian mereka” jawab sang ayah mencoba memberikan solusi supaya mereka bisa mempertahankan pakaian sekolah mereka dengan berusaha menjahit dan menambalnya. Dan melanjutkan pembicaraannya.

“Nak, kalian harus belajar hidup sederhana. Jangan mudah untuk meninggalkan sesuatu yang kalian miliki selama masih layak digunakan. Belajarlah untuk prihatin dengan kondisi kehidupan kita yang tidak selalu berkecukupan ini supaya kalian bisa menjadi orang yang pandai bersyukur dengan nikmat yang ada pada diri kalian. Jangan kalian iri dan malu dengan kehidupan mereka yang serba cukup disana. Tapi yang harus kalian iri dan malu dari mereka ketika kalian tidak memiliki ilmu diantara mereka. Seharusnya karena keterbatasan dan kekurangan ini kalian anak anakku harus lebih bangkit dan giat untuk belajar supaya bisa meraih prestasi yang memuaskan. Yang mana nantinya kekurangan yang ada pada sarana belajar yang ada pada kalian bisa tertutupi oleh prestasi dan keberhasilan kalian yang berada diatas mereka yang serba kecukupan”.

Itulah yang jay dapatkan dari pengaduannya kepada sang ayahnya. Nasehat demi nasehat terus terlontarkan dari mulut sang ayah untuk mengangkat semangat juang anak anaknya. Bahkan di setiap waktu senggang dan waktu istirahat mereka yang diisi dengan berkumpul duduk bersama sang ayah selalu yang mereka dapati adalah berbagai macam judul nasehat yang berkaitan dengan kehidupan masa depan mereka. Nasehat yang memupuk jiwa dari tanah hati yang gersang, dan memberikan sinar cahaya yang terang pada hati yang gelap tertutup oleh gemerlapnya kehidupan dunia………..Bersambung…ke bag.2

Artikel Terkait:

Memaknai Kata CINTA