Keselarasan Ekologi dan Ekonomi Syariah Sebagai Modal Pembangkit Kesejahteraan Ummat

173

Ekonomi Syariah Sebagai Modal Pembangkit Kesejahteraan Ummat

Keselarasan Ekologi dan Ekonomi Syariah Sebagai Modal Pembangkit Kesejahteraan Ummat

Lebahmaster.com – Mencermati perkembangan dunia di zaman sekarang, banyak kemajuan peradaban yang terjadi. Dimulai dari kecanggihan teknologi yang terus berkembang sampai dalam substansi arus kegiatan ekonomi dunia yang ditandai dengan pengelolaan industri. Perkembangan industri semakin padat modal, hal ini karena adanya arus globalisasi dengan tingkat persaingan yang begitu kuat, sehingga berdampak pada pemikiran yang pragmatis. Pemikiran pragmatis ini tampak tercermin pada pengambilan kebijakan fiskal dan moneter oleh pemerintah Indonesia pada dasawarsa terakhir.

Dalam kebijakan fisikal misalnya, ketika subsidi energi membengkak akibat kenaikan harga minyak internasional, maka pemerintah Indonesia mengambil kebijakan yang pragmatis yakni dengan menaikkan harga minyak, tanpa menelisik lebih jauh pusaran utama permasalahannya. Sedangkan dalam kebijakan moneter, pemerintah mengambil kebijakan untuk  memperkuat pengendalian inflasi, mendorong sektor riil dari sisi suplai, dan memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah serta mengabaikan akar permasalahan utama sektor riil tersebut.

Banyak pemikiran kapitalis yang sudah menguasai perekonomian dunia, akan tetapi apakah itu dapat menyejahterakan ummat? Pada kenyataan malah sebaliknya. Ketika terjadi resesi, dan Capital Flight pada tahun 1997, pondasi ekonomi Bangsa Indonesia semakin runtuh. Indonesia yang notabene adalah produsen pangan, malah terkena dampak negatif tersebut. Melambunganya harga-harga komoditas pangan saat ini sudah mencapai level yang mengkhawatirkan bagi rakyat Indonesia.

Data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi pada Bulan Desember 2017 sebesar 0,71%, hal ini terjadi karena salah satu penyebab utamanya dari bahan pangan seperti beras, telur hingga beberapa jenis sayuran yang inflasinya sebesar 2,26%. Angka inflasi tersebut dalam lima tahun terakhir, turut dipengaruhi oleh harga cabai yang mengalami kenaikan dengan kisaran 6%. Indikator makro ekonomi di Indonesia yang awalnya sering dibanggakan oleh pemerintah, nampaknya sudah menunjukkan gejala-gejala yang semakin menurun.

Apabila kita dapat mengelola Sumber Daya Alam dan Manusia sebagai investasi kesejahteraan ekonomi dengan baik, maka hal tersebut sangat berpengaruh pada kesejahteraan ummat. Hubungan yang saling berkaitan antara Ekologi dan Ekonomi Syariah merupakan modal pembangkit kesejahteraan ummat. Kenapa bisa demikian? Jika kita pahami bersama, Sumber Daya Alam merupakan modal terpenting dalam kegiatan perindustrian, sehingga dengan adanya modal tersebut, kegiatanperindustrian terus berjalan, dalam artian arus pergerakan ekonomi tidak stagnan.

“Dan Allah menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu…”(QS. Al-Baqarah : 29) dapat di jelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan bumi dan segala isinya untuk manusia dan memberi kebebasan kepada manusia untuk mengelola Sumber Daya Alam yang tersedia untuk memenuhi kehidupan perekonomian dan membangaun peradaban manusia agar mencapai kesejahteraan.Manusia diberi kebebasan untuk mengelola sumber daya ekonomi dan melakukan transaksi perekonomian (muamalah). Dalam kaidah fiqh muamalah yang menyatakan bahwa : “Al ashlu fil mua’malati al ibahah hatta yadullu ad daliilu ala tahrimiha” artinya : Hukum asal dari muamalah adalah boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya.

Dapat disimpulkan bahwa segala kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh manusia diperbolehkan, asal tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah (Al-Qur’an dan Sunnah). Manusia dapat melakukan apa saja yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungannya, selama hal tersebut tidak ada ketentuan yang melarangnya. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkreativitas dan mengembangkan potensinya dalam mengelola alur kehidupan. Akan tetapi dalam mengelola  kehidupan, Islam mengarahkan manusia kepada jalan yang benar sesuai dengan syariat.

Peranan Ekonomi Syariah ini begitu penting untuk kesejahteraan ummat, membina ukhwah dan keadilan universal, pemerataan pendapatan yang seimbang dan signifikan.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya :

“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan dimuka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah : 60)

Artinya, apabila interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan tidak berjalan stabil, maka salah satunya akan berdampak buruk terhadap kegiatan perekonomian tersebut.

Lanjutan : “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti : sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia Musa menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.(QS. Al-Baqarah : 61)

“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada-mu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku maka sungguh, binasalah dia.” (QS. Toha : 81)

Sifat manusia yang serakah menjadi faktor pendorong runtuhnya perekonomian dan menurunkan kesejahteraan ummat. Mengapa bencana alam sering terjadi?Pembangunan yang berjalan selalu berpresfektif pada ekonomi dengan memanfaatkan lahan untuk kemjuan investasi dan ekonomi semata, tanpa adanya suatu kepedulian mengenai dampaknya terhadap lingkungan.Lahan terbangun menjadi semakin luas, seiring dengan semakin majunya kegiatan perekonomian. Namun, ada efek besar yang ditimbulkan, yaitu kerugian materil dan jiwa semakin besar.

وَلاَتَبْغِ الْفَسَادَفِى الْاَردِقلى اِنَّ اللّهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qasas : 77)

Dalam perkara ini, kepentingan ekonomi dapat ditangguhkan untuk kepentingan menjaga alam demi menyelamatkan jiwa manusia. “Menolak Mafsadat lebih diutamakan dari pada menggapai kemaslahatan” (Al-Suyuthy, Al-Asybah wa al-Nadzair, hlm.62). Ekonomi Syariah sebenarnya dapat mengambil peran strategis dalam perkembangan ekonomi nasional. Berbanding terbalik dengan ekonomi konvensional, yang hanya menguntungkan pihak tertentu, sedangkan ekonomi syariah menguntungkan semua pihak karena berorientasi secara universal serta menjunjung tinggi sikap adil, jujur dan bertanggung jawab.

Sebagai ummat Islam, membangkitkan segala aspek kehidupan sesuai dengan syariat-Nya itu sangatlah penting.Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah yang pada saat itu kaum Muhajirin dan kaum Anshar sedang menghadapi problematika sosial dan ekonomi, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu menekankan pentingnya arti persaudaraan dalam Islam dan semangat untuk Ta’awun (tolong-menolong). Ketika itu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam membuat undang-undang (piagam madinah) untuk membantu secara mutlak dalam menghadapi problematika kehidupan baik moril maupun materiil. Dimana dilakukannya seperti pelarangan riba, dan meningkatkan sektor makro melalui Jizyah, Zakat, Ushr, Wakaf dan lainnya yang diatur oleh Badan Maal pada saat itu.

Indahnya Islam yang membangun segala aspek kehidupan dengan tatanan yang baik secara substantif maupun fungsionalnya. Peran aktif pemuda sebagai aktor utama pembangun sektor riil ekonomi umaat sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan pembumian ekonomi syariah dalam masalah demografi di Indonesia. Untuk itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk menggapai kesejahteraan ummat. Jadilah manusia yang bermanfaat untuk manusia di sekitar lingkungan sosial terdekatnya.

Penulis: Hamdah Rosalina (Mahasiswa Semester 2, Sedang Menempuh S-1 di kampus STEI SEBI, Depok) – Bogor, 11 Januari 2018

Baca Juga: Jual Produk Syariah, Sistemnyapun Harus Sesuai Syariah