Kesempatan TerakhirCerpen ” Kesempatan Terakhir ” Menarik dan menginspirasi penuh pelajaran, Dikirim dan Ditulis Oleh :

Rahma Dilla

 

Hujan yang membasahi tanah di pagi itu ternyata merupakan sebuah pertanda buruk bagi Meli. Ketika Meli dengan tergesa-gesa pergi ke sekolah, ibunya menitipkan sebuah pesan yang tersirat padanya sebelum dirinya berangkat. Ibunya mengatakan agar dia berhenti untuk bertengkar dengan adik laki-laki satu-satunya. “ Ibu sangat melihat rumah ini damai tanpa suara keras dan lantang yang selalu kalian serukan”. Meli tidak menggubris ucapan ibunya itu, dia bahkan hanya mengatakan jika dia telah terlambat untuk ke sekoah. Dan harus pergi saat itu juga.

 
Tepat di jam 2 siang ketika dia dengan bangganya berjalan pulang menuju rumah karna hasil ujiannya yang memuaskan, ia ingin menunjukan hal ini kepada ibunya. Dikejauhan ia heran dengan keramaian yang terjadi di rumahnya. Bendera kuning telah tertancap di depan pagar rumahnya. Meli heran dan tidak mengerti dengan semua kejadian itu. Dengan langkah kaki yang semakin cepat, ia memasuki rumah dilihatnya ayah dan Robi adiknya menangis tiada henti di samping sebuah jasad yang telah terbujur kaku. Ia mendekati jasad itu dan terhentak karna seseorang yang dilihatnya itu adalah ibunya sendiri. Ia hanya terdiam dan megatakan kalau ini hanya mimpi, ibu tidak mungkin meninggalkannya.

 
Ayah memeluk Meli dan adiknya, beliau mengatakan bahwa kita harus bisa bersabar dengan cobaan ini. Meli tidak mengerti kenapa ibunya bisa meninggalkannya secepat ini. Ketika ibunya telah dimakamkan, barulah ayahnya meyampaikan bahwa ibu meninggal akibat kanker payudara yang telah diidapnya selama 10 tahun belakangan ini. Meli terdiam sejenak lalu mengatakan “ kenapa selama ini ibu tidak pernah mengatakan kepada kami sebagai anaknya?”. Ayahnya meminta maaf karna telah menyembunyikan hal ini selama bertahun-tahun dari mereka. Ia mengatakan bahwa ibu tidak ingin anak-anaknya tahu akan hal ini, ia takut hal ini akan menggangu pikiran mereka dan sekolahnya.

 
Meli kembali mengangis tiada henti, ia menyesali kenapa hal ini bisa terjadi pada dirinya. Seseorang yang selalu ia percaya dan yang selalu ada disaat ia butuh kini telah pergi meninggalkan dirinya. Tidak ada lagi orang yang akan selalu bertanya akan PR nya, yang akan menyiapkan makan siang ketika ia pulang dari sekolah, yang selalu bertanya jika ia pulang terlambat. Meskipun ia masih mempunyai ayah, tentu sosok ibu lah yang tak kan bisa tergantikan sampai kapanpun. Ditambah dengan sikap ayah yang sedari dulu sedikit tempramental yang membuat Meli terkadang tidak nyaman untuk berada di rumah.

 
Suatu ketika ayah memarahi Meli karena ia terlambat membukakan pintu rumah ketika beliau pulang dari pekerjaannya. Dengan suara keras dan sedikit kasar ia memarahi anaknya itu. Meli sangat sakit hati dengan sikap ayahnya yang semakin tempramental setelah kepergian ibunya. Ia merasa tidak nyaman lagi dengan semua ini. Ia seperti kehilangan arah dan tempat bersandar. Tidak seperti dulu disaat ibunya selalu menenangkan hatinya.

 
Semakin hari sikap Meli pun berubah. Ia jarang masuk sekolah karna mengikuti teman-temannya yang suka membolos. Dirinya semakin berubah ktika suatu hari ia bertemu seorang laki-laki dan jatuh cinta kepadanya. Ia semakin tidak terkendali. Ia selalu membohongi ayahnya dengan mengatakan bahwa ada les tambahan di sekolah yang mengharuskan ia harus selalu pulang malam. Ditambah dengan ayahnya yang memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

 
Beberapa bulan kemudian pengumuman kelulusan siswa SMA telah dikeluarkan. Meli termasuk siswa yang lulus meskipun ia merupakan sisiwa yang mendapatkan nilai terendah di sekolahnya. Ayahnya ikut senang dengan hal ini. Ia mengatakan kepada Meli bahwa ia akan lebih memperhatikan pendidikan Meli dan adiknya. Setelah lulus ayahnya berharap ia akan diterima di PTN. Ia mendaftarkan Meli untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan Meli mengikuti kemauan ayahnya. Meskipun Meli tidak begitu antusias dengan hal itu. Ketika hasil diumumkan tanpa diduga Meli sebelumnya ia lulus di salah satu PTN. Uang pendaftaran dan sebagainya telah dibayarkan oleh ayahnya agar Meli bisa segera diterima.

 
Namun di siang yang sunyi seperti petir yang menyambar ayah Meli mendapatkan kabar bahwa Meli telah melakukan hal yang dilarang agama. Ternyata Meli telah hamil selama 2 bulan. Betapa ayahnya tidak terkejut mendengar hal ini karna ia mendengar hal ini dari mulut anaknya sendiri. Ya, pria yang telah dikenalinya semasa masih sekolah adalah orang yang telah menghamilinya. Perilaku Meli yang memang tidak stabil semenjak ibunya meninggal adalah penyebab utama yang membuatnya melewati batasannya sebagai remaja. Sungguh bisa diduga bagaimana sikap ayahnya setelah mendengar itu semua. Serasa semua impian ayahnya untuk melihat anaknya sukses ternyata harus pupus. Ayahnya tidak terima dengan hal ini. Penyakit jantung yang dideritanya kambuh. Dengan terpaksa ia harus menikahkan anak gadis semata wayangnya itu dengan pria yang telah mencoreng mukanya. Akan tetapi setelah mereka menikah Meli diusir dari rumah. “Jangan pernah lagi kau menampakkan wajahmu didepan mataku”. Seperti itulah ucapan yang keluar dari mulut ayahnya.

 
Untuk beberapa bulan Meli dan pria itu tinggal disebuah tempat yang lebih pantas disebut gubuk. Hampir setiap hari Meli menangis mengingat dosa besar yang telah ia lakukan. Tidak hanya dosa tapi ia telah mencoreng muka keluarganya sendiri. Ia teringat akan ibunya. Ia yakin ibunya disurga sangat marah dengan perangainya itu. Meli mencoba mendatangi ayahnya dan meminta maaf. Namun ayahnya terlanjur sakit hati dan muak melihat anaknya sendiri. Tak selang beberapa hari Meli melahirkan putranya. Ia menyampaikan hal ini pada ayahnya. Ia mencoba untuk datang lagi kerumah ayahnya dan ingin melihatkan wajah bayinya. Ia dan suaminya dimarahi tiada henti didepan seluruh keluarga besarnya. Hingga ayahnya merasakan sakit lagi dibagian jantung. Ia dilarikan kermah sakit. Robi yang selama ini mencoba untuk tetap diam melihat perilaku Meli dan berusaha untuk tidak lagi betengkar dengan kakaknya itu dengan rasa sakit hati yang terlalu dalam ia mengusir Meli ketika dirumah sakit. Ia sangat benci pada kakaknya karna semua kejadian buruk ini terjadi karna Meli.

 
Beberapa hari kemudian, ayah Meli mengizinkan Meli untuk mendatanginya. Ia mengatakan bahwa ia, suami dan anaknya bisa tinggal dirumah. Ayah memaafkan kesalahan itu. Ayahnya pun bersedia melihat wajah cucu laki-lakinya itu. Tak beberapa lama setelah beliau melihat wajah cucunya itu ayah Meli meninggal dunia. Meli berteriak dengan kerasnya didalam ruangan rumah sakit itu. Sungguh sangat besar penyesalannya. Karna dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri dan sangat banyak hal yang terjadi pada dirinya. Hingga ia merasa penyebab ayahnya meninggal adalah dirinya. Sekarang hanya penyesalan yang bisa ia rasakan. Jika saja ia isa berpikir dengan jernih pada waktu itu pasti ini semua tidak akan pernah terjadi dan pasti ia bisa membanggakan ayahnya dengan prestasi dikuliahnya. Namun hal itu tidak akan mungkin bisa terjadi karna semua tidak seperti dulu lagi. Hanya penyesalan dan ucapan maaf yang selalu ia tuturkan didalam doaanya. Semoga kedua orang tuanya bisa memaafkan segala kesalahannya dan memberikan kesempatan terakhir baginya.

 

Baca Juga Yuk Cerpen Lainnya : Kamarku Peswat Menuju Amerika Serikat