Ketika Bang Ali Dilarang Hadiri Undangan Kawinan dan Naik Haji

1117
Bang Ali Sodikin
Foto Ilustrasi Bang Ai Sodikin via : opini.id

Lebahmaster.com – Usai pensiun dari jabatan Gubernur DKI Jakarta, nama Ali Sadikin atau biasa disapa Bang Ali sempat kurang terdengar lagi. Di panggung politik, namanya hanya terdengar samar-samar. Sampai kemudian pada sekitar tahun 80-an, muncul Petisi 50, sebuah pernyataan yang diteken oleh puluhan tokoh nasional.

Para penandatangan Petisi 50 menyorot langsung perilaku penguasa saat itu dibawah Presiden Soeharto. Mereka, para yang tergabung dalam Petisi 50 menilai kekuasaan telah keluar jalur konstitusi. Maka, kritikan demi kritikan lahir.

Salah satu peneken Petisi 50 itu adalah Bang Ali. Bersama dengan tokoh-tokoh nasional seperti Bung Hatta, Jenderal Nasution, M Natsir, Jenderal Hoegeng dan lain-lain, Bang Ali menyuarakan keprihatinannya.

Seperti diketahui, menanggapi Petisi 50, Soeharto bersikap keras. Para penandatangan Petisi dikucilkan. Bahkan dicekal. Kehidupan mereka dibatasi. Semua serba dipersulit. Tidak terkecuali sekedar untuk menghadiri undangan pernikahan.

Tentang langkah ‘keras’ Soeharto itu, Bang Ali mengakuinya sendiri ketika diwawancarai reporter Lativi untuk program ‘Biografi’ yang tayang di stasiun televisi yang didirikan mantan Menteri Tenaga Kerja, Abdul Latief tersebut.

“Saya dicekal, tak boleh berusaha, gila enggak,” kata Bang Ali dalam tayangan program ‘Biografi’ di Lativi tersebut.

Tidak hanya dirinya kata Bang Ali yang dipersulit. Di tayangan itu Bang Ali juga menceritakan, betapa anak-anaknya ikut kena getahnya. Anak-anaknya juga dipersulit misal saat ingin mendapat pinjaman dari bank.

 

Anak-anak pun kena, anak saya,” ujar Bang Ali ketika itu.

 

Bang Ali pun kemudian bagaimana isolasi terhadap dirinya dan keluarganya dilakukan. Pernah kata dia, suatu ketika dia dapat undangan menghadiri acara pernikahan kenalannya. Kebetulan pula, kenalannya itu mengundang juga Presiden Soeharto. Penguasa Orde Baru dikabarkan juga akan hadiri di acara resepsi. Kenalannya yang mengundang, tiba-tiba menelpon. Kata Bang Ali, via telepon kenalannya itu meminta dengan sangat Bang Ali datang pukul 08.00 pagi. Alasannya, Soeharto diagendakan datang pukul 07.30. Jadi untuk menghindari pertemuan dengan Soeharto, Bang Ali diminta setelah Presiden pulang.

“Kalau ada teman undang, kawinan, Presiden diundang. Teman saya telpon, bapak harap datang setelah jam 8, karena Presiden datang setengah 8,” kata Bang Ali, mengenang pengucilan dirinya.

Tidak hanya dilarang menghadiri undangan nikah, dan berbagai pembatasan-pembatasan lainnya, Bang Ali juga mengaku dilarang untuk beribadah haji. Bagi Bang Ali, cara rezim Orde Baru itu gila. Tidak adil. Dan hanya bentuk kesewenang-wenangan penguasa saja.

“Berhaji pun dilarang dulu. Apa itu, macam hukuman apa. Enggak diadili. Mau seenaknya. 30 tahun saya menderita, “ ujar Bang Ali seperti yang tayang di program ‘Biografi’ Lativi.

Sumber : Tayangan Program ‘Biografi’ Lativi seperti yang diunggah di situs Youtube.com

Baca juga: Kisah Jenderal Hoegeng Banting Pintu Menolak Suap