Ketika Derap Pabrik dan Tambang, Mengancam ‘Jejak Peradaban’

1176

Pabrik Dan Tambang

Lebahmaster.com , Derap Pabrik – Muaro Jambi, adalah nama dari komplek situs purbakala, yang terletak di Pulau Sumatera, tepatnya berada di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia.

 

Komplek candi Muaro Jambi, diyakini sebagai situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara. Sriwijaya, adalah kerajaan yang terkenal dengan kekuatan maritimnya.

 

Muaro Jambi sendiri, adalah kompek percandian agama Hindu dan Budha yang dipercaya terluas di Indonesia. Diperkirakan komplek candi di bangun pada abad ke 11. Warna merah batu bata menjadi ciri khas dari candi di Muaro Jambi. Sungguh sebuah komplek candi yang eksotis. Komplek candi Muaro Jambi sendiri, menjadi area yang dilindungi. Oleh negara, komplek ini di tetapkan sebagai situs purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang. Bahkan, komplek Muaro Jambi telah diajukan ke UNESCO untuk ditetapkan sebagai warisan dunia.

 

Eloknya candi di Muaro Jambi, ternyata tak seelok nasibnya. Komplek situ ini, terancam oleh derap pembangunan industri. Kisah terancamnya candi Muaro Jambi oleh deru mesin pabrik dan pertambangan, sempat heboh beberapa waktu lalu. Para arkeolog, beramai-ramai menentang makin mengancamnya keberadaan pabrik di Muaro Jambi. Salah satu yang paling lantang menyuarakan perlawanan adalah Profesor Mundardjito, salah seorang guru besar arkeologi dari Universitas Indonesia yang ditasbihkan sebagai bapak arkeologi Indonesia.

 

Tak hanya para arkeolog yang coba melindungi komplek Muaro Jambi, para aktivis penggiat lingkungan hidup juga, beramai-ramai menyuarakan hal yang sama. Mereka menganggap, limbah pabrik dan tambang, mengancam keberadaan komplek Muaro Jambi. Dikhawatirkan limbah industri itu, bakal menghapus salah satu jejak sejarah paling penting di Pulau Sumatera.

 

Perlawanan para arkeolog dan para penggiat lingkungan hidup, mulai disuarakan, setelah beberapa perusahaan membangun tempat penumpukan batubara. Bahkan, pabrik pengolahan sawit pun ikut didirikan dekat area komplek candi. Tak pelak, keberadaan pabrik-pabrik dan tempat penimbunan batu bara itu dikhawatirkan bakal merusak bangunan candi yang rentan rusak oleh zat-zat kimia.

 

Pemerintah pusat pun saat itu, bukannya diam saja. Rapat gabungan digelar, melibatkan beberapa kementerian, seperti Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, Kepolisian RI dan Pemerintah Provinsi Jambi. Rapat gabungan menyepakati, semua aktivitas industri didekat komplek candi Muaro Jambi, untuk direlokasi atau hengkang.

 

Tapi sepertinya rekomendasi tetap rekomendasi. Kesepakatan itu seperti jadi macan kertas saja. Karena aktivitas industri tetap menderu sekitar komplek candi. Pemerintah Provinsi Jambi berkilah, yang berhak ‘mengusir’ pabrik-pabrik itu adalah pihak Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi. Tapi, respon dari Pemkab Muaro Jambi sendiri teramat mini. Kawasan Candi Muarojambi yang memiliki luas 2.600 hektare itu tetap saja terancam. Sementara pihak pemilik pabrik, berdalih, aktivitas mereka sudah sesuai aturan, karena mengantungi ijin resmi dari pemerintah daerah.

 

Soal ini, begawan arkeologi Indonesia, Mudardjito, sempat sangat jengkel dengan dalih dan pembelaan dari pihak Pemkab Muaro Jambi. Bagi Mundardjito, Pemkab, terutama kepala daerahnya lebih mementingkan keuntungan sesaat, ketimbang menghargai sebuah warisan sejarah.

 

Padahal Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah pula mengeluarkan keputusan yang menetapkan komplek Muaro Jambi, sebagai kawasan wisata sejarah terpadu pada 22 September 2011. Dan penetapan itu, sesuai dengan perintah UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Tapi sepertinya, kepentingan ekonomi jangka pendek lebih diutamakan. Warisan sejarah untuk anak cucu pun di korbankan.

 

Baca Juga : 

Yuk Intip 5 Gedget Terbaik Tahun 2014 Versi Majalah Times