Ketika Kearifan Terhadap Alam Menghilang

1371

Menguak Sebab Akibat Fenomena Alam

Bencana Alam - Banjir
Ketika Kearifan Terhadap Alam Menghilang

LebahMaster.Com – Bencana Alam yang muncul silih berganti, tak lepas dari perilaku manusia yang tak lagi ramah memperlakukan lingkungan hidup. Maka, ketika daya dukung lingkungan tergerus, alam pun bakal ‘marah’.

Gerak Alam, selalu bekerja sesuai ritmenya. Maka ketika ritme alam terganggu, reaksinya bisa menjadi ‘amuk bencana’. Kearifan mengelola alam adalah jawabannya. Tapi, ketika kearifan itu hilang, bencana sulit untuk dicegah. Banjir pun datang menerjang. Longsor juga terjadi dimana-mana.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, bencana banjir dan longsor, adalah akibat dari semua faktor penyebabnya. Bahkan kata Sutopo, faktor antropogenik lebih dominan dibandingkan faktor alam sebagai penyebab timbulnya amuk alam berupa banjir dan longsor. Pola hujan memang telah berubah, dimana intensitasnya kian tinggi.

Tapi bertambahnya jumlah penduduk, urbanisasi, konversi lahan, rendahnya kesadaran membuang sampah, tata ruang, minimnya konservasi tanah dan air dan lainnya menjadi penyumbang utama meningkatnya kerentanan banjir,” tutur Sutopo.

Kearifan terhadap alam itulah yang kian hilang. Perilaku manusia kian semena-mena memperlakukan alam. Gerak pembangunan pun, banyak tak menggubris keseimbangan daya dukung lingungan. Ruang hijau tergerus, wilayah resapan pun menghilang. Sungai-sungai menyempit. Rimbun hutan pun, makin tinggal cerita. Akibatnya, ketika hujan turun menderas, air tak bisa lagi diserap oleh tanah.

“Ini tercermin dari Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis di Indonesia. Lebih kurang ada 68 DAS kritis. Daya dukung lahan yang sudah terlampaui, diantaranya Jawa sejak tahun 2006. Degradasi hutan masih cukup tinggi,” kata dia.

Di Indonesia tahun 2008 tutupan hutan 49,4%, kata Sutopo. Lalu tahun 2012 menjadi 47,7%. Di Jawa hutan hanya ada sekitar 16,1%. Idealnya menurut Sutopo, pulau Jawa memiliki luasan hutan 30% dari luas keseluruhan. Dalam kondisi yang sudah kritis seperti ini, tata ruang berbasis peta risiko bencana hendaknya diterapkan ketat. Padahal produk hukum yang mengatur lingkungan dan terkait pengendalian banjir dan longsor juga sudah banyak.

Namun implementasi masih rendah,” kata dia.

Akibatnya, banjir datang tak bisa dihadang. Begitu dengan longsor, makin sulit dicegah. Korban jiwa pun berjatuhan sia-sia. Dirinya sendiri mencatat tren bencana banjir dan longsor di Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2003, kejadian banjir dan longsor tercatat 266 kejadian dan tahun 2013, meningkat menjadi 822 kejadian. Dalam 11 tahun terakhir bencana banjir dan longsor terbanyak terjadi pada tahun 2010, dimana pada tahun tersebut tercatat 1.433 kejadian banjir dan lonsor.

” Total bencana banjir dan longsor selama 2003-2013 sebanyak 6.288 kejadian atau 572 per tahunnya,” katanya.
Dampak yang ditimbulkan akibat banjir dan longsor pun tak main-main.

Total korban tewas akibat dua bencana itu, selama tahun 2003-2013 ada 5.650 jiwa atau rata-rata 514 jiwa tewas per tahunnya. Dampak lainnya sebanyak 1,5 juta jiwa rata-rata mengungsi dan menderita akibat banjir dan longsor.
“Bencana adalah urusan bersama antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Pemerintah dan pemda menjadi penanggung jawab,” ujarnya.

Sutopo menambahkan, sudah banyak upaya yang dilakukan kementerian atau lembaga sesuai portopolionya. Bencana harus menjadi penggerak atau wake up call dalam membenahi semua masalah. Jika tidak bencana banjir dan longsor akan terus berkelanjutan.

Pelajaran Banjir
Bencana banjir Jakarta, selalu terulang. Bahkan, bisa dikatakan banjir adalah penyakit klasik yang tak kunjung juga bisa diobati. Gubernur silih berganti, tapi penyakit banjir tak juga bisa diobati tuntas.

Tentu bicara banjir, tak semata bicara tentang antisipasi infrastrukturnya. Namun, banjir yang datang juga semacam peringatan dari alam untuk direfleksikan semua pihak, tak hanya pemerintah, swasta tapi juga warga. Sebab banjir yang melanda, adalah amuk alam yang datang dari ulah manusia juga. Daya dukung lingkungan, kini kian timpang. Daerah resapan dan ruang hijau, menghilang digantikan hutan beton yang pongah. Sungai menyempit, kesadaran terhadap lingkungan pun nyaris tak ada. Kini hasil dituai, ‘amuk alam’ pun sulit dilawan.

Baiknya, semua tafakur, menjadikan bencana banjir sebagai bahan pelajaran. Semua harus intropeksi, kenapa ini semua terus terjadi, berulang-ulang. Pesan agar semua pihak, menarik pelajaran dari bencana banjir yang berulang, disampaikan oleh novelis kondang tanah air, Ayu Utama. Dalam akun twitternya @BilanganFu, Ayu menuliskan, “Kecepatan kita belajar dari banjir kurang dari kecepatan kita mendatangkan banjir atau banjir mendatangi kita,”

Pesan tak jauh berbeda dilontarkan mantan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Yunus Husein. Lewat akun twitternya @YunusHusein, ia menuliskan tentang betapa pentingnya laku warga yang ramah terhadap alam. Bila perilaku tak ramah terhadap alam terus dilakukan, pada saatnya ‘amuk alam’ yang akan dituai. Banjir adalah salah satu bentuk konkritnya.

“Kejadian ini seharusnya bisa mengedukasi masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan. Tidak berfikir egois dengan membuang sampah di got atau kali,” tulis Yunus lewat akun twitternya.

Namun yang pasti, akibat banjir kerugian yang diderita sangat besar. Warga terpaksa menjadi pengungsi. Anak-anak pun, tak bisa sekolah. Kegiatan ekonomi pun berhenti. Belum lagi, menghitung kerusakan fisik bangunan dan infrastruktur. Dan, tentunya korban jiwa sia-sia.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, bencana banjir yang sudah berlangsung dari 17 Januari 2014 hingga sekarang bukan hanya melanda Jakarta saja. Tapi banjir juga terjadi di beberapa kabupaten dan kota seperti Tangerang, Kota Tangerang, Bekasi, Kota Bekasi, Kerawang, Subang, Indramayu, Pemalang, Pekalongan, Batang, Semarang, Kudus, dan Pati. Di Jawa Barat saja misalnya, banjir merendam tujuh kabupaten dan Kota.

Akibatnya ribuan rumah terendam banjir,” kata dia.

Tapi tentu bencana banjir di awal tahun ini yang paling menyentak adalah yang terjadi di Kota Manado, dimana banjir datang bak bah meluluh lantakan kota tersebut. Sampai kemarin, BNPB mencatat, akibat banjir bandang 19 orang tewas, 15 ribu warga terpaksa mengungsi.

Kerugian diperkirakan 1,87 trilyun. Untuk banjir di Jakarta, tercatat 12 orang tewas dan 62.819 jiwa terpaksa mengungsi karena banjir di ibukota,” kata dia.

Other Article You May also Like :

Berkah Anak ‘Presiden’

Penulis : Agus Supriyatna

(Wartawan Media Cetak di Jakarta)

Alamat KTP : Jl. Haji Jian No. 22 RT/RW 004/007, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Alamat tinggal sekarang : Perumahan Sawangan Regensi, Blok K Nomor 19, Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat

No HP : 083814705656

Email : agusupriyatna@gmail.com

Twitter : @rakeyanpalasara