Mantan Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti
Mantan Wakil Menteri Kebudayaan, Bu Wiendu Nuryanti – LebahMaster.Com

Mantan Wakil Menteri – Bagi Bu Wiendu Nuryanti, mantan Wakil Menteri bidang Kebudayaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sosok  Joop Ave, eks Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi atau dulu dikenal Menparpostel, tak sekedar  tokoh pariwisata dan kebudayaan. Tapi Joop yang meninggal dunia di Singapura dalam usia 79 tahun pada 5 Februari 2014 lalu, adalah seorang sahabat yang hangat, yang antusias berbagi gagasan, serta ide.

Berbagai kalangan menyampaikan bahwa Indonesia telah kehilangan seorang tokoh visioner yang menjadi teladan dan inspirasi dalam pembangunan bidang pariwisata dan kebudayaan di Indonesia,” kata Bu Wiendu, dalam tulisan kenangannya tentang sosok Joop. Tulisan Bu Wiendu sendiri saya cukup lama. Saat itu Bu Wiendu masih menjabat sebagai wakil menteri. Tapi, tak ada salahnya saya kembali menuliskan ini, karena menurut saya, curahan hati Bu Wiendu tentang Pak Joop cukup menyentuh.

Sebagai seorang sahabat, Bu Wiendu merasa perlu untuk mengenang kembali sosok Pak Joop.  Dimatanya, Pak Joop adalah sosok yang dikenal kaya akan gagasan-gagasan besar, tapi tetap rendah hati dan mampu berbaur erat dalam beragam lingkungan. Ia pun menuturkan perkenalan pertamanya dengan Joop yang akrab dipanggil Pak Joop. Ingatannya pun melayang pada waktu  dua puluh lima tahun yang  silam, tepatnya tahun 1988.

Ketika itu Pak Joop adalah Dirjen Pariwisata pada Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi,” katanya.

Dikisahkannya, suatu hari, staf dari lembaga tersebut datang ke Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mencari tahu siapa pengirim sebuah tulisan tentang konsep pentingnya sebuah even intelektual kebudayaan berskala dunia. Menurut staf pembawa disposisi tersebut, tertulis perintah “cari sampai ketemu siapa pembuat proposal ini”. Jadi perkenalannya dengan Pak Joop didahului dengan perkenalan dan pertukaran ide dan gagasan. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai dialog intelektual seputar potensi Indonesia yang begitu besar dan sangat kuat untuk menjadi titik sentral dalam percaturan dunia di bidang kebudayaan dan pariwisata.

Mengingat potensi Indonesia secara geografis sebagai negara kepulauan (archipelago), dengan keragaman etnis yang kaya akan adat tradisi dan karya seni budaya, serta perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia yang mewariskan peninggalan-peninggalan arkeologis yang menakjubkan dan monumental, maka pak Joop selalu mengibaratkan Indonesia sebagai sebuah mobil,” kenang Bu Wiendu.

Dimata. Pak Joop,  kata Bu Wiendu, pariwisata adalah ‘gas’-nya,  sedangkan kebudayaan adalah ‘rem’-nya. Gas dan rem itu, demi  mencapai tujuan akhir, yaitu kesejahteraan rakyat, yang tentu memerlukan keseimbangan antara dua komponen terpenting tersebut yang dimiliki negara kepulauan ini. Pak Joop tidak pernah berhenti berpikir intelektual dan sekaligus kreatif. Bahkan sampai saat-saat terakhirnya pun, ketika kondisi fisiknya telah melemah, Pak Joop masih memprakarsai penulisan beberapa buku untuk selalu menggali dan mempromosikan kebudayaan Indonesia di panggung internasional.

Bulan yang lalu saya masih beruntung di Goethe Institute Kedutaan Jerman, berkesempatan meluncurkan dan membahas bukunya terakhir yang sangat indah dan dalam, berjudul “Times, Rites and Festival in Bali”. Perkenalan dengan Pak Joop berevolusi menjadi sebuah persahabatan yang sangat indah justru ketika beliau sudah tidak terkait di pemerintahan lagi,” kenang Bu Wiendu lagi.

Bahkan, kata dia, beberapa kali Pak Joop sempat menawarkan untuk membantu di birokrasi kepariwisataan. Namun keharusan untuk menyelesaikan program S3 di luar Indonesia belum memungkinkan untuk dapat membantu berkiprah. Menurutnya, benang merah perjalinan persahabatan dengan Pak Joop, ditautkan oleh berbagai kesamaan kecintaan akan dunia arsitektur, seni, buku dan tentu saja berwisata. Walaupun dalam beberapa hal bisa sangat berbeda, misalnya Pak Joop sudah sangat jelas lebih menggeluti ke arah hal-hal yang bersifat ‘grand culture’, baik dalam seni tata ruang interior maupun karakter festivity dalam setiap ekspresi kehidupannya.

Setiap hal selalu dilakukan dengan ‘style’, mulai dari yang paling kecil seperti bagaimana pentingnya komposisi warna, bentuk dan rasa dalam menyajikan jajan pasar ‘mini’, sampai dengan sukses besarnya dalam membuat puluhan kepala negara berbaju batik ketika menghadiri even kenegaraan di Indonesia,” tuturnya.

Bu Wiendu menambahkan, di usia berapapun, kepergian seorang sahabat sekaligus guru tempat berkonsultasi dan partner diskusi, menorehkan rasa kehilangan yang dalam. Kehilangan itu sulit tergantikan. Jasad Pak Joop bisa tiada kapan saja karena Sang Pencipta. Namun gagasan besar Pak Joop sebagai sumber inspirasi  tidak pernah akan berhenti, tetap hidup di dalam jiwa.

Tetap hidup dalam jiwa  kita semua untuk meneruskan perjuangan membesarkan Indonesia selama-lamanya. Selamat Jalan Bapak Pariwisata Indonesia. Salam Budaya,” pungkas Bu Wiendu.

Baca Juga : Sri Mulyani Kembali Masuk 100 Wanita Paling Berpengaruh Di Dunia