KH Agus Salim, Nyaris Tak Punya Rumah

1063

LebahMaster.com, KH Agus Salim – Politisi zaman sekarang, berbeda dengan politisi zaman dulu, terutama di era awal-awal kemerdekaan. Politisi sekarang perlente dan necis. Gaya hidupnya pun glamour dan mewah. Pakai baju bermerek, mobil pun kelas premium alias mobil mewah. Pun rumahnya agreng bak istana.

KH Agus Salim

Sampai-sampai Busyro Muqqoddas, saat masih jadi Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah menyindir tajam gaya hidup para politisi di negeri ini. Menurut Busyro, para politisi Indonesia saat ini, terutama yang ada di Senayan, gaya hidupnya sungguh hedonis. Kata Busyro ketika itu, jika ingin melihat berbagai mobil mewah, tinggal mampir ke parkiran gedung DPR. Segala macam merek mobil mewah nongkrong di sana. Pemiliknya anggota dewan terhormat.

Namun lain elit sekarang dengan tokoh zaman dulu. Di zaman dulu, terutama saat perjuangan menegakan kemerdekaan, atau pun di awal-awal setelah Indonesia berdaulat, para tokoh yang masuk jajaran elit, sama sekali tak memikirkan bagaimana ia harus kaya, punya rumah mentereng dan mobil kinclong. Kehidupan mereka sederhana. Jauh dari gaya hidup hedonis.

Salah satunya adalah mendiang KH Agus Salim. Sepanjang hidupnya, Agus Salim nyaris tak pernah punya rumah. Ia selalu hidup berpindah-pindah. Dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Padahal, kalau melihat posisi serta pengaruhnya, Agus Salim ketika itu bukanlah orang sembarangan di republik ini. Dia orang berpengaruh. Orang yang diakui ketokohannya.

Agus pernah ngontrak di daerah Kwitang. Tapi, di sana tak menetap lama. Agus dan keluarga kemudian pindah lagi ke daerah Krukut. Dari Krukut, pindah lagi ke Jalan Gereja Theresia. Tak hanya di Jakarta, Agus dan keluarga juga pernah menetap di Majalengka. Pernah pula tinggal di Surabaya dan Madura.

Mohammad Roem, tokoh Masyumi pernah punya cerita sendiri tentang rumah kontrakan Agus Salim. Ketika itu, tahun 1952, Roem diajak dua pelajar Stovia, Kasman Singodimedjo dan Soeparno berkunjung ke rumah KH Agus Salim. Ketika itu, Agus Salim masih tinggal di Gang Tanah Tinggi.

Dalam bukunya,“Manusia dalam Kemelut Sejarah,” Roem menggambarkan seperti apa rumah Agus Salim. Kata Roem, rumah yang ditinggali Agus hanya rumah kampung. Meja dan kursinya pun sederhana. ” Sangat berlainan dengan apa yang saya bayangkan tentang seseorang yang sudah terkenal,” kata Roem mengenang kunjungannya ke rumah Agus Salim.

Setelah itu, ujar Roem, Agus sekeluarga pindah dari Gang Tanah Tinggi ke Gang Toapekong, di Pintu Besi di depan Gereja Ayam, Jakarta. Menurut Roem, rumah baru KH Agus Salim tak lebih bagus dari rumah lamanya di Tanah Tinggi. Di bagian luar, ada meja dan kursi. Tapi di dalam nyaris kosong. Bahkan ketika ia bertamu, semuanya duduk dengan beralas tikar.

Ketua delegasi Belanda di Perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn, juga punya kesan tersendiri tentang sosok Agus. Willem menyebut Agus orang tua yang pintar, seorang yang jenius dalam bahasa, berbicara dan menulis.
” Hanya satu kelemahannya, selama hidupnya dia melarat,” kata Schermerhorn. Penilaian Schermerhorn itu dimuat dalam buku hariannya yang ditulis 14 Oktober 1946. Catatan harian itu, kemudian diterbitkan jadi buku pada 1970.

Sumber : Majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2013

Baca Juga: Cerita KH Agus Salim dan Kain Kafan Anaknya