LebahMaster.Com, Suami Romantis – Saat itu, KH Agus Salim berusia 22 tahun. Pada usia itu, Agus pernah berjanji pada Zainatun Nahar, yang kemudian jadi istrinya. Ketika itu, Zainatun masih berusia 12 tahun. Kepada Zainatun, Agus berjanji, pulang dari perantauan dia akan menikahi gadis pujaannya.

Sumai Romantais Kh Agus Salim

Ketika itu, Agus hendak berangkat bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah. Cerita ‘janji hati’ Agus Salim dikisahkan Majalah Tempo edisi 18 Agustus 2013 dalam laporan utamanya tentang KH Agus Salim.

Lima tahun kemudian, Agus benar-benar menunaikan janjinya. Dia pulang, dan langsung mencari Zainatun yang ketika itu tinggal di Koto Gadang. Zainatun sendiri sebenarnya masih terbilang sepupu Agus. Dia, anak Almatsier dan Siti Maryam. Siti Maryam sendiri adalah adik kandung Sutan Mohammad Salim, ayah Agus Salim.

Namun memang ketika itu di Koto Gadang, tradisi menjodohkan dengan kerabat masih berkembang kuat. Agus sendiri sebenarnya akan dijodohkan dengan kakak Zainatun. Tapi Agus tak kunjung pulang. Kakak Zainatun pun akhirnya menikah dengan pria lain.

Saat Agus pulang, ia sudah berusia 27 tahun. Pada 12 Agustus 1912, Agus menikah dengan Zainatun, di kediaman ayah Zainatun, Almatsier. Dan majalah Tempo juga menyelipkan kisah lain tentang kehidupan cinta Agus Salim. Ternyata, ketika menikah, Agus berstatus suami orang.

Agus dikabarkan sudah menikah dengan perempuan setempat di Jeddah. Tapi akhirnya, mereka berpisah baik-baik. Usai menikah dengan Zainatun, Agus membawa istrinya merantau ke Jakarta. Padahal ketika itu, keduanya baru menikah lima hari.

Dan ketika itu, Agus juga berhenti dari pekerjaannya di Dinas Pekerjaan Umum Belanda. Tentu saja, keputusan Agus berhenti bekerja, mengagetkan banyak orang, termasuk keluarganya. Karena dengan pekerjaan itu, Agus dipandang terhormat.

Agus sempat pulang kembali ke Koto Gadang. Tapi kemudian, setelah tiga tahun, kembali merantau ke Jakarta. Di Jakarta, keduanya hidup dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya. Agus sebagai suami, sosok yang romantis.

Dikisahkan, suatu waktu Agus naik taksi bersama istrinya, malam-malam. Kisah itu terjadi tahun 1940. Dalam taksi, Agus melihat istrinya kedinginan. Ia pun lalu membuka mantelnya, dan menjadikannya itu penutup kaki istrinya.

Kisah lainnya yang menunjukan betapa perhatiannya Agus pada Istrinya, ketika Zainatun muntah-muntah di rumah kontrakan, karena toilet yang mampet. Agus pun kemudian meminta Zainatun, istrinya menjauhi toilet. Zainatun pun terpaksa buang air di sebuah wadah yang disediakan Agus. Dan, Agus sendiri yang membuang kotoran istrinya.

Agus juga suami yang siaga. Ketika anak pertama mereka lahir, Agus tak segan turun tangan mengganti popok atau buat susu buat anaknya. Agus selalu tak tega membangunkan istrinya yang tidur terlelap.

Sumber tulisan : Majalah Tempo, edisi 18 Agustus 2013