Kisah Bupati Wakatobi Berjuang Bangun Bandara

1710

Kisah Bupati Kabupaten Wakatobi Ir. Hagua Berjuang Membangun Bandara

Kabupaten Wakatobi, saat ini namanya memang mulai dikenal dunia, terutama dikenal oleh para turis yang gemar menyelam. Keindahan panorama bawah lautnya berhasil ‘menyihir’ para penikmat keindahan alam bawah laut dari banyak negara. Mereka pun berbondong-bondong datang ke Wakatobi. Kabupaten yang kini dipimpin Hugua, mantan aktivis tersebut, terus menggeliat bermetamorfosis menjadi salah satu destinasi kelas dunia yang diburu para turis dari segala penjuru.

Beberapa waktu lalu,  saya berkesempatan berbincang panjang lebar dengan Ir. Hugua, Bupati Wakatobi. Dalam bincang santai tersebut, Hugua banyak bercerita tentang tekadnya menjadikan Wakatobi sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia. Apalagi sekarang sudah dibangun Bandara Matahora di Wakatobi. Ia pun kian optimis dunia pariwisata di Wakatobi bakal kian menggeliat. Ia juga bertekad menjadikan bandara Matahora, sebagai bandara hub (penghubung) yang menghubungkan jalur penerbangan ke seluruh Indonesia.

Padahal kata Hugua, pembangunan bandara cukup berliku. Tapi meski harus melalui proses panjang dan berliku, saat itu ia bertekad,  Wakatobi harus mempunyai bandara, sebagai pembuka jalan menuju perubahan yang lebih baik. Ia pun menceritakan awal mula pembangunan Bandara Matahora.  Ketika itu, begitu dirinya dilantik bahkan , masih berpakai putih-putih ia ajak gubernur Sulawesi Tenggara yang saat itu masih di jabat  Ali Mazie, ke sebuah tempat di Wakatobi.  “ Disaksikan sopir, dan waktu itu belum ada ajudan, kita letakan batu pertama pembangunan bandara. Prinsip saya tekad dulu. Bahkan waktu itu nama bandara belum terpikirkan sama sekali. Soal nanti dibangun, itu soal lain. Pokoknya bandara harus ada,” katanya.

Lalu, mulai dari tahun 2006, ia coba mencari jejak ke Kementerian Perhubungan, saat itu menterinya adalah Hatta Rajasa.  Hugua mencari tahu bagaimana prosedur membuat bandara. Ketika itu kata dia,  orang-orang di kementerian Perhubungan mengatakan,  pemerintah pusat dalam hal itu Kementerian Perhubungan sedang tak ingin buat bandara.  Atau tak ada program pembangunan bandara. Mendengar itu ia langsung mengatakan kepada pihak Kementerian Perhubungan, bahwa yang  membangun bukan pemerintah pusat, tapi Pemda Wakatobi.  Namun menurut pihak Kementerian Perhubungan pembangunan bandara itu harus persetujuan menteri.  “ Ah, saya jengkel, saya bilang lagi bagaimana caranya bandara saya di bangun pakai APBD Wakatobi, bukan APBN. Nanti saya berikan uang ke kementerian, asal bandara itu dibangun,” kata Hugua menceritakan kembali perjuangannya membangun bandara Matahora.

Saat itu  kata dia, memang belum ada kebijakan membangun bandara.  Ketika itu pun derap otonomi daerah baru dimulai.  Namun setelah diyakinkan bahwa uang untuk membangun bandara itu berasal dari  kas Pemda Wakatobi,barulah turun tim dari kementerian perhubungan.  Pihak kementerian sampai  8 kali melakukan survei ke lapangan. Dari tiga lokasi yang disurvei,  dipilih salah satu tempat yang sekarang menjadi bandara Matahora. Menurut Hugua,  bandara  dibangun  sepenuhnya menggunakan  uang  APBD  Wakatobi. Pembangunan bandara menelan biaya sebesar 20 milyar. “Dua tahun saya bolak balik Jakarta memperjuangkan bandara Matahora dari 2006 sampai 2008. Dan syukurlah kita punya bandara,” katanya.

Awalnya, panjang landasan bandara  hanya 1200 meter, lalu jadi 1400 meter.  Sekarang panjang landasan sudah mencapai 2000 meter. Semua biaya perubahan landasan kata Hugua, sepenuhnya ditanggung Pemkab Wakatobi. Awalnya maskapai yang beroperasi hanya Ekpres air, lalu kemudian diikuti Susi Air dengan pesawat kapasitas 12 penumpang.  Setelah itu masuk Merpati Air, dan Wings Air dengan pesawat berkapasitas 70 penumpang. “ Susi air dan Ekpres Air kita subsidi selama 3 tahun,” kata dia.

Dampak keberadaan bandara bagi Wakatobi, kata Hugua sangat terasa sekali.  Perkembangan pembangunan pun sangat  positif.  Apalagi sekarang bandara Matahora statusnya sudah jadi unit tersendiri. Tidak lagi mendompleng ke bandara lain. Jadi, kata Hugua sangat terasa dampaknya.  Terutama dalam menggenjot kunjungan wisatawan ke Wakatobi.  Sebagai ilustrasi dampak dari keberadaan bandara, kunjungan wisata  berkembang pesat  dari 1500 turis mancanegara pada 2006 per tahun menjadi kurang lebih 15000 turis pada tahun 2013. Geliat kegiatan ekonomi juga  berjalan. Sangat dinamis. Lapangan kerja pun terbuka luas. Dan yang datang ke Wakatobi itu adalah turis-turis kaya.   “Dari 15000 turis yang datang, masa tinggal mereka minimal rata-rata 1 minggu dengan pengeluaran 3-5 juta sehari per prang. Jadi karena turis yang datang itu kelas menengah ke atas, dampaknya terasa pada masyarakat. Dibanding daerah lain yang mengandalkan pariswisata yang massal, dampaknya tak banyak,” kata Hugua.

Andalan pariwisata Wakatobi sendiri kata Hugua adalah wisata menyelam.  Sekali diving  kata dia biayanya  mahal, mencapai  500 ribu.  Maka kalau seorang turis  tiga kali saja diving, itu sudah 1,5 juta yang mereka keluarkan. Itu baru menyelam. Belum biaya menginap di hotel dan juga biaya untuk makan dan hiburan lainnya.  Menurutnya Wakatobi  ini potensinya internasional. Pariwisata ini jadi andalan utamanya. Ia  optimis pada  2015 kunjungan turis bisa mencapai 17 ribu. Apalagi fasilitas pendukung sekarang ini  makin berkembang. Tapi  kata dia yang diperlukan sekarang ini  adalah jalan,  terutrama jalan dari Bandara ke kota Wakatobi.  Katanya ini  penting, sebab jalan dari bandara ke pusat kota Wakatobi statusnya jalan provinsi. Jadi tanggung jawabnya provinsi.

Kalau jalan dalam kota sudah tuntas, sudah hotmix semua. Tapi itu jalan provinsi, masih bolong-bolong.  Kita harapan jalan dibangun dari DAK nasional, maupun DAK provinsi,” kata dia.

Pendapatan Aseli  Daerah Waktobi sendiri kata Hugua, mencapai 25 milyar. Iindustri wisata menyumbang 50 persen pendapatan atua jadi penyumbang terbesar.   Karena itu dalam mengembangkan dunia pariwisata di Waktobi, tiga hal penting  yang selalu ia pegang, terutama ketika mengeluarkan kebijakan. “ Kita harus melihat tiga hal orang, dengan kebudayaan kearifannya, sumber daya alam, ketiga lingkungannya.  Disitu kebijkan harus satu kesatuan. Artinya kebijakan harus mendorong kearifan budaya lokal, kebijakan itu juga harus menjaga kelestarian sumber daya alam. Juga harus menjaga kesimbangan lingkungan. Kita ini kan andalannya alam. Tidak seperti daerah lain punya tambang,” katanya.

Salah satu kebijakan yang telah ia keluarkan adalah tentang  peraturan zonasi. Zonasi ini kata dia, adalah peraturan tentang pembatasan-pembatasan. Misalnya pembatasan dalam mencari ikan.  Nelayan tentu  harus di pikirkan masa depannya. Karena tugas pemimpiun itu memberikan masa depan dan harapan.  Hugua mengaku awalnya kebijakan zonasi mendapat resistensi. Tapi setelah diberitahukan dengan baik-baik,  bahwa zonasi itu adalah tempat perlindungan ikan-ikan bertelur, para nelayan akhirnya paham dan mengerti.  Bahkan mereka kini aktif menjaganya.

Jadi lembaga adat yang berperan, dimana ketua adat yang berada paling depan dengan kearifan lokalnya menjaga alam Wakatobi,” katanya.

Terkait bandara, Hugua ingin  Matahora menjadi bandara hub atau penghubung setelah bandara Hassanuddin di Makassar. Sehingga tak jadi bandara lokal. Bila jadi bandara hub, Matahora akan menjadi jalur penerbangan paling efesien di kawasan timur Indonesia, karena posisi Wakatobi sangat strategis,  berada  diantara laut Banda dan Flores. Jadi posisi Wakatobi ada  ditengah-tengah. Wakaktobi bisa jadi penghubung untuk jalur Indonesia Timur. Apalagi bandara-bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Hassanuddin, Ngurah Rai  sudah terlalu padat. Bila Matahor menjadi bandara hub,  ini suatu langkah mengurangi kepadatan Soekarno-Hatta, Kualanamu, Hassanuddin dan bandara Ngurah Rai.  “ Jadi kalau ingin pembangunan berderap cepat ya harus bangun bandara-bandara hub. Ini juga relevan dengan tekad menteri perhubungan, bahwa di kawasan pariwisata, bandaranya harus bisa didarati pesawat berbadan lebar yang berkapasitas penumpang 150 orang. Biaya operasional juga jatuhnya murah. Kalau pesawat kecil tak begitu memacu pertumbuhan, tiket juga mahal,” tutur Hugua.

Ia berharap pada  tahun 2015 Matahora menjadi bandara hub sudah bisa direalisasikan. Hugua yakin bila sudah jadi bandara hub, Wakatobi bisa jadi pusat pertumbuhan baru. Selain  ini akan jadi solusi bagi penumpukan pesawat di bandara-bandara besar. Dan ia optimis derap  investasi  ke Wakatobi semakin dinamis. Investasi seputar hotel, restoran,   alat scuba laut,  perikanan, kebutuhan pariwi sata, buah-buahan dan  investasi hiburan akan jadi daya tarik tersendiri.  “ Dinamika ekonomi tumbuh cukup dinamis. Pertumbuhan ekonomi kita 11 persen per tahun. Itu diatas nasional,” kata Hugua. 

Baca Juga : Tempat Wisata Di Kalimantan Timur