[Kisah] Ketika Debat Tentang Doa Bersama dan Gus Dur Menjawab begini

1030

Kisah Debat Doa Bersama Gusdur

Lebahmaster.com – Moeslim Abdurrahman dan Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur, adalah dua sahabat karib. Kang Moeslim, demikian sapaan akrabnya, sudah mengenal Gus Dur jauh sebelum mantan Ketua PBNU itu jadi Presiden.

Keduanya kerap pergi bareng. Dalam sebuah acara tentang Gus Dur, Kang Moeslim banyak bercerita tentang sosok sahabat karibnya itu. Suatu waktu, kata Kang Moeslim, ia berbincang dengan Gus Dur tentang Islam. Menurut Gus Dur, Islam mengajarkan pemeluknya untuk humanis. Jadi, jadi Islam itu bukan formalistis.

“Waktu itu kita ada perdebatan tahun 70-an. Perdebatan soal Islam strukturalis dan Islam kultural. Kata Gus Dur, NU itu terpinggirkan. Jadi harus ada konsolidasi strategis, nah itu harus kultural. Tapi meski menempuh strategi kultural, kita harus kuasai negara. Karena lewat itu diskriminasi bisa dihapuskan. Ya karena negara yang kuasai regulasi untuk menghapus diskriminasi,” kata Kang Moeslim, mengenang kembali apa yang pernah dituturkan Gus Dur sahabat karinya.

Suatu ketika, Gus Dur kata Kang Moeslim pernah berkata, bahwa sahabatnya itu maju jadi Presiden. Dan, Gus Dur yakin bisa jadi Presiden. Ketika itu, Kang Moeslim mengaku menangapi keinginan sahabatnya itu dengan tak serius. Ia anggap hanya candaan saja. Tapi kemudian sejarah mencatatkan, Gus Dur jadi Presiden. Sayang kata Kang Moeslim, Gus Dur kurang waktu merumuskan negara yang humanis dan bebas diskriminasi.

Baca Juga: Kisah KH Agus Salim Selama Hidupnya Nyaris Tak Punya Rumah

Lain waktu kata Kang Moeslim lagi, terjadi perdebatan soal doa bersama. Suatu waktu, di sebuah tempat kumpul banyak ulama memperdebatkan itu.

 

” Para ulama berdebat, masa Tuhan disatukan,” kata Kang Moeslim mengenai debat soal doa bersama.

Gus Dur pun datang, ikut dalam perdebatan. Dan Gus Dur mengungkapkan pandangannya. Kata Gus Dur, doa bersama tak apa-apa. Ia pun mengibaratkan orang yang doa bersama itu, adalah orang-orang yang membawa handphone, lalu menghubungi ‘Tuhannya’ masing-masing. Kata Gus Dur, mereka yang doa bersama, ‘menghubungi’ Tuhannya masing-masing dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Hanya saja kebetulan tempatnya sama.

 

” Jadi kata Gus Dur, bukan berarti Tuhan disatukan,” ujar Kang Moeslim.

 

Kini Kang Moeslim dan Gus Dur sudah berpulang. Dua sahabat karib itu telah menghadap sang Khalik. Tapi, persahabat mereka langgeng, sampai kemudian Tuhan memanggilnya dalam waktu yang berbeda.