Kisah Ringkas Tokoh Nasional Teladan Jendral Hoegeng Santoso

Jendral Hoegeng Imam Santoso

Lebahmaster.com – Panda Nababan, mantan wartawan yang kemudian jadi politisi mengaku dekat dengan mendiang Jenderal Hoegeng Imam Santoso, salah satu Kapolri legendaris di republik ini. Ya, Jenderal Hoegeng, selalu disebut sebagai prototipe Kapolri ideal. Karena itu setiap akan terjadi pergantian Kapolri, nama Jenderal Hoegeng selalu disebut. Publik setiap Kapolri mau berganti selalu berharap yang dipilih adalah polisi yang mewarisi sikap dan prinsip Jenderal Hoegeng.

Hoegeng namanya selalu disebut, karena dianggap sebagai Kapolri yang idealis. Anti suap. Dan tak pernah kompromi terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan siapapun. Hoegeng semasa jadi petinggi Polri, tak pernah peduli jika kasus yang diusutnya itu melibatkan orang penting direpublik ini. Bila salah, Hoegeng akan menindaknya.

Hoegeng pun tampil jadi sosok penegak hukum yang lurus. Tapi karena sikapnya yang idealis itu Hoegeng akhirnya terlempar dari kursi Kapolri. Ia tak disukai penguasa. Hingga akhirnya dicopot oleh Presiden Soeharto.

Tapi, setelah pensiun, bukan berarti Jenderal ‘kerempeng’ itu berubah. Sikap kritisnya tak luntur. Bahkan beberapa tokoh nasional seperti Jenderal AH Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, M Natsir, ia jadi pengkritik penguasa garda depan. Lewat gerakan berkesadaran berkonstitusi yang kemudian mewujud dalam bentuk Petisi 50, Hoegeng bersama tokoh-tokoh nasional lainnya coba meluruskan jalannya kekuasaan yang dinilainya telah melenceng dari semangat UUD 1945.

Panda sendiri pertama kali mengenal Hoegeng, saat ia masih berusia remaja di Medan. Ketika itu, kata Panda, tahun 1959. Di tahun itu, ia sedang bandel-bandelnya. Sering tawuran dan berkelahi.

Saat itu juga Hoegeng sedang bertugas di Medan. Hoegeng jadi Kepala Reserse di kepolisian Medan. Suatu ketika, ujar Panda, ia terlibat perkelahian. Sial, ia tertangkap oleh razia yang dipimpin oleh Hoegeng.

“Waktu itu saya masih SMA, tahun 59-lah. Dia (Hoegeng-red) Kepala Reserse Kriminal di Medan. Waktu itu saya berantem. Dia berhasil nangkap kita. Dia razia kita,” kata Panda mengenang kembali awal perkenalannya dengan Hoegeng.

Usai tugas di Medan, jenderal Hoegeng kemudian ditarik ke Jakarta. Beberapa tahun kemudian, atas usul Sultan Hamengkubuwono, Hoegeng dijadikan menteri urusan iuran di kabinet 100 menteri. Ketika itu kekuasaan Soekarno mulai rapuh, menjelang jatuh.

Tanggal 5 Mei1968, oleh pemerintah Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (Kapolri). Ia menggantikan Jenderal Soetjipto Joedodihardjo. Persahabatan Panda dan Hoegeng pun berlanjut di Jakarta. Panda mengaku, sering bertandak ke Mabak (Markas Besar Kepolisian-red).

Saat bertandang ke Mabak, Panda punya cerita menarik tentang sosok Hoegeng. Cerita yang menggambarkan betapa Hoegeng adalah seorang Kapolri idealis. Panda bercerita, suatu waktu dia datang ke Mabak. Seperti biasa, biasa, ia suka menunggu dulu di ruang tunggu depan ruang kerja Kapolri.

Saat menunggu di ruang tunggu itulah terjadi kisah yang hingga sekarang terus diingatnya. Kata Panda, ketika dia duduk di ruang tunggu, tiba-tiba pintu dibanting dengan keras. Yang membanting pintu ternyata Jenderal Hoegeng dengan muka marah.

 

“Tiba-tiba saya lihat pintu dibanting. Kaget saya. Seorang pengusaha tergopoh-gopoh keluar dengan tasnya,” ujar Panda.

Belakangan ia tahu setelah Hoegeng bercerita padanya. Menurut cerita Hoegeng, si pengusaha itu coba menyuap dengan membawa duit rupiah dan dollar di tasnya. Hoegeng marah dan merasa dilecehkan. Si pengusaha coba menyuap untuk menyelesaikan kasusnya.

“Belakangan saya tahu, dan diceritakan Pak Hoegeng. Si pengusaha coba suap Hoegeng. Jadi di tas echolac-nya, uang dollar, rupiah, mau dikasih ke Pak Hoegeng,” kenang Panda.

Tahun 1971, Hoegeng dicopot oleh Soeharto. Soeharto menawari Hoegeng jadi Dubes di Belgia. Tapi Sanga jenderal Hoegeng menolaknya. Padahal saat itu, Hoegeng sedang menangani kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan pengusaha Robby Tjahjadi yang dikenal dekat dengan lingkaran penguasa atau Cendana. Robby dikenal licin dan nyaris tak tersentuh hukum.

Baca Juga: Belum Ada Lagi Kapolri Seperti Hoegeng

Kisah tentang Jenderal hoegeng banting pintu, saya dapatkan setelah melihat rekaman program “Memoar” yang tayang di Kompas TV. Rekaman itu diunggah di Youtube oleh seorang bernama Muhammad Febri. Program “Memoar” Kompas TV yang saya tonton itu memang mengulas khusus tentang sosok Jenderal Hoegeng, salah satu polisi idealis di republik ini.